Belakangan tugas makin menumpuk saja, dan karena tugas-tugas itu, aku dibilang perfeksionis. Lha? Apa ada hubungan? Begini. Tentunya banyak dokumen terkait tugas yang harus dikerjakan. Karena sudah akrab berteman dengan Ms. Word, aku jadi hapal dokumen yang rapi itu seperti apa, dan tentunya aku tidak ingin dokumen tugasku itu terkumpul dalam keadaan tidak rapi. Ini menyangkut faktor kepuasan. (Naon?). Saking telitinya dengan dokumen-dokumen itu, aku dicap perfeksionis.
Kalau perfeksionis itu seperti yang ditulis di bawah ini…
Perfeksionis adalah suatu problem kejiwaan di mana seseorang mempunyai paham kesempurnaan (perfect).
Kelebihan dari para perfeksionis adalah mereka biasanya selalu bekerja dengan penuh totalitas dengan harapan mereka akan mendapat hasil yang diinginkan. Namun mereka akan mudah sekali kecewa jika ada ketidakberesan atau kekurangan yang boleh jadi di mata orang lain itu wajar-wajar saja.
Oleh karena itu biasanya orang yang mempunyai sifat tersebut cenderung individualistik. Ia sulit mempercayai seseorang untuk mendelegasikan tugasnya, karena menganggap orang lain tidak lebih baik tugasnya daripada dirinya. Emosi dan egoisme biasa mengiringi setiap pekerjaannya.
(Sumber: dari sini)
Hmm… Aku ga punya paham kesempurnaan. Dalam mengerjakan sesuatu, aku memang berusaha untuk total, apalagi untuk suatu hal yang memang aku senangi. Kalau ada yang kurang, lihat dulu. Kalau memang kurang karena aku tidak bisa mengerjakannya, aku tidak akan terlalu kecewa. Individualistik? Mungkin. Sulit mendelegasikan tugas? Tampaknya tidak, kecuali yang berurusan dengan dokumen, hehe… Untuk bagian programming sebisa mungkin aku delegasikan pada orang lain
Kalau perfeksionis itu seperti yang ditulis di bawah ini…
Semua orang pasti selalu ingin berhasil di dalam hidup. Bahkan sebagian dari kita menjadikan keberhasilan adalah sebuah kebutuhan sehingga kita akan terikat dengan sebuah usaha terus-menerus untuk memperoleh hasil yang sempurna. Termasuk untuk hal-hal yang kecil sekalipun.
Sifat seperti inilah yang disebut sebagai perfeksionis. Sepintas orang perfeksionis terkesan sempurna. Namun, sifat ini ternyata juga bisa timbul untuk menghindari perasaan enggak enak, yang sebabnya bisa bermacam-macam. Makanya sifat perfeksionisme itu terbagi menjadi dua. Pertama, perfeksionisme yang positif, artinya mereka yang enggak puas kalau cita-cita mereka belum tercapai. Kedua, perfeksionisme yang negatif, yang suka mengkritik diri sendiri atau merasa kurang sempurna terus.
Naluri seorang perfeksionis biasanya selalu tertuju pada ketakutan akan kegagalan. Akibat ketakutannya itu, seorang perfeksionis akan berusaha menetapkan suatu standar atau pedoman tertentu yang harus bisa dicapai. Ia mengira perincian rencana yang begitu detail dan rapi akan membuat hidupnya menjadi lebih teratur dan kemungkinan untuk gagal enggak ada sama sekali.
(Sumber: dari sini)
Aku tidak selalu menuntut semua hal selesai dengan sempurna, karena di dunia ini tak ada yang sempurna. Dari artikel itu kayanya jadi orang yang perfeksionis itu serem amat… Aku ga segitunya ah… Aku ga pernah menetapkan standar pencapaian sesuatu.
Begini aja deh… Untuk beberapa hal tertentu, aku memang menghendaki hasil yang terbaik, misalnya tugas-tugas. Tapi itu bukan berarti aku adalah orang yang perfeksionis… Jika sifat perfeksionis itu memang banyak negatifnya, tinggal diusahakan agar sifat-sifat itu mengarah ke yang positif. Karena suatu hal tidak pernah jelek untuk selama-lamanya atau bagus untuk selama-lamanya.
Asl. numpang coment ye…
yup.. gw setuju pendapat loe sha yg ini :
“Untuk beberapa hal tertentu, aku memang menghendaki hasil yang terbaik, misalnya tugas-tugas. Tapi itu bukan berarti aku adalah orang yang perfeksionis… Jika sifat perfeksionis itu memang banyak negatifnya, tinggal diusahakan agar sifat-sifat itu mengarah ke yang positif. Karena suatu hal tidak pernah jelek untuk selama-lamanya atau bagus untuk selama-lamanya.”
meminjam istilah seorang pemikir ni ye..”hidup itu dijalani seperti air mengalir saja”
“ya ada juga beneernye…tp bukan bermaksud tak terencana lho..
“Kite rencanaiin sesuatu, optimalkan smua kemampuan, buat target2, buat pencapaian2, truss follow up, control..oke dech…jgn lupa doa-nye (ne termasuk control nih),…..dapet hasilnye evaluasi..negatif disabarin..positif disyukurin…dua2nye pahala…ya nggak.?…nggak ada beban kan?
oke dech thanks.
kasih coment dong di blog gw di :
http://penunggangkuda.blogspot.com/
Reisha wrote: “Aku tidak selalu menuntut semua hal selesai dengan sempurna, karena di dunia ini tak ada yang sempurna.”
Menurutku ada kok yang sempurna, Islam. Manusia yang sempurna juga ada, Rasulullah saw.
yang namanya tata tulis dokumen.. kadang-kadang emang bikin gatel sih..
Perfeksionis? Iya Gitu?
ga cuman aku yang bilang gitu toh…
tapi usaha ibu ini untuk menolak dituduh prefeksionis begitu perfect. betul lho. betul lho. betul lho.
@JF: Bener juga… Thanks
@adipsujarwadi: Emang… Kalo kamu doank yang bilang aku ga bakal nulis postingan ini, hehe…
@nanungnurzula: Whatever lah…
per = besi yang mantul-mantul
fex = mesin foto kopi jarak jauh
sion = suatu desa di Mumbai India
is = is lilin mah eu-ceu
kalapa muda
dibantun mah eu-ceu
ka Majalaya
hapunteun mah eu-ceu
abdi hapunteun
bilih aya kalelepatan
Siapa tuh orang lainnya?