Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Saya dan 7 Pagelaran Dies Natalis UKM-ITB

Tulisan kali ini buat nostalgia saja, mengingat-ingat kenangan acara yang rutin selama 7 tahun ini menghiasi hidup saya *tsaaah, lebay istilahnya*. :P Sekaligus menuliskan bagian yang belum jadi saya tuliskan di tulisan sebelumnya. Dies Natalis atau yang di UKM sering disebut dengan “dies” saja, merupakan acara tahunan UKM dalam rangka memperingati ulang tahun berdirinya UKM. UKM sebenarnya berdiri tanggal 1 Juni 1975, namun acara dies-nya biasanya diadakan sekitar bulan April atau Mei, sebelum jadwal UAS di ITB. Dies tidak hanya pagelaran saja, tapi ada beberapa acara lain juga dalam rangkaian acaranya. Di tulisan ini saya lebih banyak mengaitkan dengan pagelarannya, hehe.

Dies Natalis 31 “Sumarak Rantau Junjuang Nagari”; Aula Barat, 13 Mei 2006

Tari Galombang Pasambahan di Dies 31

Dies 31 merupakan dies pertama saya di UKM dan waktu itu diadakan di Aula Barat ITB. Buat saya Dies 31 adalah momen di mana saya bisa mengenal UKM lebih jauh. Walau saya sudah dilantik jadi anggota UKM sejak 11 Desember 2005 dan telah mengikuti proses PPAB-nya dari sejak akhir Agustus 2005, saya belum kenal dekat dengan UKM sebelum dies itu. Selama PPAB saya cuma tau datang untuk latihan tari Pasambahan. Yang ada di pikiran saya waktu mau masuk UKM adalah ingin belajar nari, itu saja, jadi tidak terlalu peduli dengan UKM sebagai organisasi, hihi.

Selama proses latihan Dies 31, barulah saya tau UKM lebih banyak. Kenal lebih banyak uda-uni-nya (bahkan baru kenal lebih banyak UKM’05 juga di dies, haha), tau yang mana pengurusnya, kenal suasananya seperti apa, tau beratnya latihan dies seperti apa, dsb. Saya salut juga waktu latihan, alumni UKM masih banyak yang datang, artinya kekeluargaan di unit ini cukup tinggi.

Di Dies 31 saya jadi personil Tari Galombang Pasambahan. Sebenarnya agak-agak gimana gitu waktu dulu ditempatkan di tari ini. Tari Galombang Pasambahan di Dies UKM itu modifikasi dari tarian yang dipelajari di PPAB, jadi gerakannya berbeda. Tapi sebenarnya waktu itu pengen dapat tari lain, biar belajar tari baru. Ya sudahlah. Toh belakangan saya sadari kalau sebenarnya tari ini selalu dapat sambutan meriah, soalnya opening, dan penonton masih semangat tepuk tangan, ahaha.

Dies Natalis 32 “Aso Palarai Ratok”; Sabuga, 28 April 2007

Tari Piriang Manggaro di Dies 32

Dies 32 buat saya adalah dies yang sangat menyita hati dan emosi *tsaaah, lebay lagi*. Rasanya prosesnya waktu itu lebih berat dibanding Dies 31. Suasananya juga terasa lebih “panas”, mungkin karena ada faktor pertama kalinya pagelaran UKM ingin diadakan di Sabuga. Di masa-masa itu sepertinya saya jadi salah satu orang yang menyebalkan di UKM, jadi tukang protes, galak, serem, jutek, or whatever you said, haha. Tapi sejujurnya di masa itu pula saya jadi belajar untuk berani menyampaikan pendapat di forum, biasanya saya memilih diam dan tidak mau ambil pusing apalagi berdebat.

Di Dies 32 saya jadi personil Tari Piriang Manggaro. Awalnya mau ditaruh di Tari Garak Kambang, tapi tiba-tiba diubah. Saya suka kedua tari itu sih sebenarnya, hehe. Pertama kali UKM tampil di Sabuga, dan sensasinya memang luar biasa berbeda. Sabuga memang lebih wah dibanding Aula Barat, terutama dari segi ukuran panggung dan jumlah penonton, walaupun ruangan Sabuga yang dipakai hanya 1/3-nya. Cerita Dies 32 ini pernah saya tulis di sini.

Dies Natalis 33 “Marantiang Budayo, Mamaga Pusako”; Sabuga, 3 Mei 2008

Front office di Dies 33

Dies 33 saat itu lebih dikenal dengan nama P3BM (Pekan Pameran dan Pagelaran Budaya Minangkabau). Pagelarannya adalah pagelaran terakhir buat UKM angkatan saya, karena yang tampil di pagelaran adalah anak tahun pertama, kedua, serta ketiga di UKM.

Karena pertimbangan akademik yang berat yang buat saya rasanya berat sekali untuk dibarengi dengan latihan UKM yang berat (too many kata “berat”, haha), akhirnya saya memilih untuk tidak jadi personil pagelaran. Dalam hati sanubari terdalam saya ingin sekali tampil, tapi dalam hidup ada saatnya untuk memilih, hehe.

Di P3BM ini saya bantu-bantu di kepanitiaan saja, jadi sekretaris. Dan rasanya saya juga kurang maksimal waktu itu. Untung saja teman-teman panitia baik hati dan tidak sombong #eh. Di hari-H sempat bantu-bantu di front office. Setelah beres, masuk dan duduk manis di dalam Sabuga menyaksikan teman-teman yang tampil, dan itu rasanya “sesuatu banget”. Cerita Dies 33 ini pernah saya tulis di sini.

Dies Natalis 34 “Basuluah Sumangaik, Maukia Maso”; Sabuga, 25 April 2009

Closing Dies 34

Dies 34 adalah pertama kalinya saya mengikuti pagelaran murni sebagai penonton. Sensasinya memang beda saat menonton sebagai angkatan atas dengan menonton sebagai bagian dari panitia. Tapi karena waktu itu masih jadi pelatih, sedikit banyak masih ada ikatan batin *caelah* dengan pagelarannya sendiri.

Tentang pagelarannya sendiri, saya lupa-lupa ingat sekarang kesan apa yang saya dapat. Tapi acara non-pagelaran yang ada di rangkaian Dies 34 ini berkesan sekali, yaitu UKM in Harmony. Selama saya di UKM rasanya baru di Dies 34 ini acara temu alumni-nya memang diniatkan sebagai acara “besar”, bukan sekedar kumpul-kumpul alumni pagi hari di hari-H pagelaran. Saya berharap suatu saat nanti ada lagi acara seperti ini, kumpul ramai-ramai dengan alumni UKM berbagai angkatan. :) Cerita Dies 34 ini pernah saya tulis di sini.

Lustrum 7 “Maubek Tangih, Managuahan Hati”; Sabuga, 1 Mei 2010

DVD Lustrum 7

Lustrum adalah sebutan untuk acara 5 tahunan, jadi Lustrum 7 ini sama dengan Dies 35. 1 April 2010 saya sudah berangkat ke Jepang, alihasil saya mesti mengikhlaskan diri tidak bisa menonton pagelarannya. Sebelum berangkat saya sempat menyaksikan latihannya, jadi terbayang content pagelarannya walaupun saya tau kualitas performance UKM di hari-H biasaya jauh lebih all out dibanding saat gladi resik, apalagi saat latihan sebulan sebelum performance. Pasca pagelaran saya cuma bisa menyaksikan di Facebook foto-foto rangkaian acara Lustrum 7-nya. Mupeng berada di Bandung, tapi apa daya samudra memisahkan kita *eaaaa*.

Untuk keperluan kelas bahasa Jepang di sini, saya sempat minta di-upload-kan video Tari Piriang Lustrum 7. Setelah perjuangan panjang dengan internet yang pas-pasan di Bandung sana, akhirnya saya bisa menonton Tari Piriang-nya. Keren. Lalu beberapa waktu kemudian saya dibawakan Bima DVD Lustrum 7 ini. Melihat durasinya yang panjang, akhirnya saya skip bagian drama dan cuma menonton bagian tari, randai, dan musik kreasi, haha. Waktu lihat latihannya saya juga tidak terlalu tertarik dengan cerita dramanya.

Dies Natalis 36 “Manyibak Kaba, Mambangkik Aso”; Sabuga, 22 April 2011

Layar laptop saat menonton live streaming Dies 36, sambil komen-komenan di Plurk

Tadinya selama di Jepang saya sudah pasrah tidak bisa menonton pagelaran UKM, karena April-Mei itu bukan waktu libur di Jepang. Namun April 2011 kebetulan saya pulang ke Indonesia sebab perkuliahan saya diundur satu bulan karena gempa dan tsunami itu. Saya berharap sekali bisa nonton langsung di Sabuga, tapi tidak jadi. Begini ceritanya. Jadi saya sampai di Jakarta tanggal 31 Maret, lalu saya menginap di Jakarta karena mau menghadiri nikahan Syva-Ghifar tanggal 2 April. 2 April sore saya ke Bandung karena tanggal 3 April ada nikahan Geri-Witri. Berhubung 9 April ada wisudaan, akhirnya seminggu itu saya di Bandung dan baru pulang ke Bukittinggi tanggal 10 April. Nah, si pagelaran ini tanggal 22 April, pesawat saya balik ke Tokyo tanggal 24 April malam. Tadinya saya mau nego mama supaya diizinkan tanggal 22 April itu berada di Bandung, tapi mama saya berat hati melepaskan. Secara saya sudah menghabiskan waktu banyak di Bandung awal-awal kepulangan saya, masa baru beberapa hari di rumah sudah ke Bandung lagi. Kalau bisa, mungkin menurut mama saya berangkatnya tanggal 24 itu saja dari rumah. Ya, wajar memang. Saya juga tidak mau egois, akhirnya diikhlaskan saja nonton live-nya, walau kesempatan itu ada di depan mata.

Untungnya saat itu pertama kalinya UKM mengadakan live streaming pagelaran. Waktu di Bandung saya juga sempat sih lihat latihannya. Lalu berhubung tidak diperbolehkan ke Bandung, saya minta koneksi Speedy di rumah bisa saya monopoli malam itu untuk nonton live streaming, hihi. Alhamdulillah koneksi internetnya lancar sekali waktu itu jadi tidak ada masalah waktu menonton.

Bagian yang paling berkesan dari pagelaran Dies 36 ini adalah randainya. Randainya mantap sekali waktu itu, bahkan rasanya lebih heboh lihat randai ini dibandingkan Tari Piriang Manggaro waktu itu. Saya sebagai penari merasa kalah sekali dengan perandai, ahaha.

Dies Natalis 37 “Sumarak Nagari, Bapaga Adaik”; Sabuga, 29 April 2012

Closing Dies 37

April tahun ini memang tidak ada harapan berada di Indonesia, karena jadwal perkuliahan berjalan normal seperti biasa, hehe. Alhasil live streaming jadi satu-satunya jalan untuk menonton. Kali ini murni menonton tanpa pernah melatih, tanpa pernah lihat latihannya, tanpa pernah tau content pagelarannya apa. Saya cuma tau materi tari yang ditampilkan dari proposal dies-nya, tau ada drama dan tidak ada randai. Beberapa bagian tentunya jadi surprise sendiri buat saya karena pertama kali lihat, terutama bagian closing, hehe. Cerita selengkapnya tentang Dies 37 ini bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya, hehe.

Kalau dari pengamatan foto-foto di Facebook sih, tampaknya acara Pre-Event di Dago Car Free Day seminggu sebelum pagelaran ini menarik sekali. Ada oyak tabuik. Seumur-umur saya belum pernah menyaksikan tabuik secara langsung.

*****

Reyhan UKM’09 pernah menulis seperti ini: “Setiap cerita diesku memiliki feel masing-masing. Aku selalu merindukan cerita masing-masingnya. Ini salah satu keluargaku, Unit Kesenian Minangkabau Institut Teknologi Bandung.” Dan saya setuju sekali dengan statement itu, karena itu juga yang saya rasakan. 7 tahun ini tidak ada yang sama dari dies-dies itu, masing-masing punya cerita sendiri. Dan, 7 tahun ini juga UKM jadi salah satu keluarga saya, walaupun saya sudah berada jauh di negeri ini. Tulisan ini catatan saya supaya saya tidak lupa, untuk beberapa tahun lagi saya baca dengan senyuman.

To look backward for a while is to refresh the eye, to restore it, and to render it the more fit for its prime function of looking forward. — Margaret Fairless Barber

About these ads

2 responses to “Saya dan 7 Pagelaran Dies Natalis UKM-ITB

  1. Catra Thursday, 10 May, 2012 at 17:20

    Hebat. tak terasa sudah 7x dies dilewati. Di dies 36 bahas dikit tentang materi nya juga donk, un. Anyway, Ni rei, kalimat terakhirnya dalam banget.

    Anuu…. satu lagi. Ternyata ada foto saya waktu kurus di Dies 33 di atas. :D

    • Reisha Thursday, 10 May, 2012 at 18:20

      lah ditambahan ciek paragraf catra, hihihi..
      standar urang alah karajo tu mah, badan tambah barisi, ahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 256 other followers

%d bloggers like this: