Panggilannya Fani, sekarang akan duduk di kelas 3 SMA. Adikku yang perempuan. Kalau bertemu dengannya, coba tanya ke dia apa cita-citanya. Sampai sejauh ini, yang aku tahu, dia akan menjawab, ingin jadi guru SD. Hmm… Apa yang terpikir olehmu ketika mendengar jawaban itu? ‘Heh, jadi guru? Guru SD pula?’. ‘Rendah banget cita-citanya’. Apalagi ya?
Jangankan orang luar, di rumahku saja, jika ada pembicaraan seputar cita-citanya ini, dialognya tidak akan jauh-jauh dari skenario seperti ini. (Langsung terjemahan Indonesia-nya saja ya, hehe…)
| Mama : | Tamat SMA jadinya mau masuk ke mana? |
| Fani : | PGSD. Kan mau jadi guru SD. |
| Nenek : | Rendah banget cita-citamu. |
| Fani : | Biarin. Itu ga rendah kali nek. Nenek tahu ga, justru jadi guru SD itu pahalanya gede. Guru SD tu lebih dahulu masuk surga dibanding yang lain. Bayangkan saja nek, orang yang awalnya ga tau apa-apa akhirnya jadi punya pengetahuan. |
Kira-kira seperti itu. Aslinya lebih seru dan lebih menggebu-gebu dari itu, haha…
Continue reading ‘Salahkah Bila Cita-Cita Itu Tidak Setinggi Langit?’
reCenT coMMenTs