Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Karena Wanita (Part 2)

Mari lanjutkan cerita tentang wanita… Sekali lagi, di sini yang dibahas bukanlah lagunya Ada Band :p

Beberapa waktu yang lalu, sudah lama sih, aku membaca cerpen tentang hari Kartini. Kartini, pastinya terkait dengan wanita. Tidak lama lagi juga tanggal 21 April kan? Event yang tepat untuk membahas wanita Indonesia.

Sebuah cerpen yang bisa dibilang panjang. Cerpen lengkapnya ada di sini. Berikut kutipan cerpen yang kubaca waktu itu.

Kartini. Sebuah nama yang sudah sangat begitu familiar. Nama saya pun Kartini. Kartini Anyar Putri. Anyar mencoba berkomunikatif, dan berhasil! Sebagian penonton tersenyum dan sebagian tetap memperhatikan dengan serius, Ibu Guru yang bernama Kartini di sekolah kita pun ada lebih dari dua. Menunjukkan begitu besarnya suatu wujud penghargaan atas perjuangan seorang Kartini.

Tapi, pernahkah kita berpikir, hal-hal apa sajakah yang telah dilakukan oleh seorang Kartini kepada kaum kita, kaum wanita. Pernahkah?

Yang kita ketahui hanyalah, bahwa seorang Raden Ajeng Kartini yang lahir pada tanggal 21 April, yang telah membuat sebuah buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, yang mati dalam usia mudanya, 25 tahun, dengan membuat suatu perubahan bagi wanita Indonesia, yang bertitel emansipasi, adalah seorang wanita dari desa Jepara. Dan bahwa seorang Kartini telah membuat wanita di muka bumi Indonesia ini tau apa itu pendidikan. Anyar menarik napas.

Seorang Kartini mempunyai tekad dan tujuan yang lebih mulia daripada itu semua. Memang benar, Kartini telah mengangkat derajat wanita sehingga sama dengan pria. Memang benar, Kartini telah mengusahakan agar para wanita dapat mengecap pendidikan setinggi-tingginya bahkan kalau perlu sampai ke negri Cina. Dan memang benar, bila Kartini lah yang menunjukkan pada dunia bahwa gadis Indonesia bukan hanya sekedar gadis pingitan yang cuma bisa menangani rumah dan dapur. Dan Kartini juga lah yang menunjukkan kepada dunia betapa luhurnya pribadi wanita timur di Indonesia.

Tapi, semua perjuangan-perjuangan yang telah seorang Kartini lakukan seakan hilang, sia-sia dan tak berarti bila kita membandingkan figur seorang Kartini dengan sosok wanita masa kini.

Kartini masih remaja ketika ia mati-matian mendapatkan izin untuk bersekolah menuntut ilmu yang nantinya akan disalurkan ke para wanita yang ada didesanya melalui surat-suratnya yang dibukukan. Dan wanita-wanita di dunia persinetronan itu pun masih remaja ketika mereka mulai berani melawan dan menyakiti hati orang tua, membolos dan belajar ogah-ogahan, bergaul bebas dengan lawan jenis, melakukan hal-hal yang dilarang agama, menulari gaya hidup mereka layaknya virus dan merusak pribadi-pribadi calon Kartini masa depan melalui kotak ajaib bernama televisi ataupun layar lebar yang namanya pun mengutip dari tanggal lahir Kartini, Twenty One Theatre. Fakta yang ironis.

Kartini pun masih remaja ketika ia dengan bangganya memakai kebaya dan kulotnya untuk menghadiri pertemuan-pertemuan besar dengan para cendekiawan bangsa. Dan wanita-wanita sekarang pun masih remaja ketika mereka dengan begitu bangganya telah membeli jeans keluaran terbaru yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh mereka. Memakai baju-baju tipis yang kekurangan bahan sehingga mereka harus rela atau malah ikhlas, memperlihatkan setengah atau dua pertiga dari anggota tubuhnya kepada para hidung belang.

Tak jarang muncul pertanyaan, “Siapa yang salah ketika terjadi kasus pelecehan seksual terhadap wanita?” atau “Apakah memang semua laki-laki tergoda untuk melecehkan wanita?”

Yang seharusnya dipertanyakan adalah apakah sang wanita sadar bahwa dirinya telah melecehkan diri sendiri dengan berdandan ala Birtney Spears di negeri timur ini. Anyar menghembuskan napas sekaligus melepaskan sedikit beban dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menatap calon-calon Kartini masa depan. Ada sebagian dari mereka menundukkan muka, malu karena “tertampar” oleh pidatonya Anyar.

Apakah para wanita sadar bahwa mereka telah menginjak-injak harga diri RA Kartini dengan menjadikan kata emansipasi sebagai tameng dalam berbuat atau bertindak di luar kodratnya. Bukan itu emansipasi yang seorang Kartini dambakan dan perjuangkan, bukan itu. Kartini tidak pernah mengajarkan kepada kita bahwa merupakan suatu kewajaran bila seorang ibu rela meninggalkan anak dan menyewa baby sitter untuk mengambil alih tugasnya dari penyapihan sekurang-kurangnya dua tahun, dengan alasan “masih ingin mengejar karir”. Alasan klise. Apakah kasus bunuh dirinya seorang anak karena broken home juga akan menjadi kasus yang klise? Apakah Kartini pernah mengajarkan kepada kaum wanita untuk menggugurkan janin karena ditakutkan mengganggu kelancaran pekerjaan atau study? Apakah Kartini juga pernah mengajarkan kepada para istri untuk menindas dan menceraikan suami hanya karena gaji mereka lebih besar dibanding suami yang merupakan pemimpin keluarga? Atau pernahkah Kartini mengajarkan kepada remaja putri Indonesia untuk menyerahkan kesuciannya hanya karena tergoda rayuan dan kenikmatan sesaat? Itukah yang seorang Kartini perjuangkan?

Tidak!!! Tak sekali pun, seorang Kartini memperjuangkan hak emansipasi bagi wanita untuk hal-hal seperti itu. Sekali lagi, tidak! Kartini hanya ingin wanita bertindak dan diperlakukan sesuai kodratnya, karena bila kita mendidik seorang wanita, itu sama saja dengan mendidik sebuah komunitas masyarakat. Wanita adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Dan Kartini memperjuangkan itu! Ia tidak ingin wanita Indonesia terus berada di dalam kebodohan. Karena itu dapat mematikan potensi wanita dan generasi-generasi penerusnya sebagai SDM yang dibutuhkan. Dan sekali lagi, Kartini memperjuangkan itu!

Kartini tentu akan menangis di alam barzah sana bila ia mengetahui bahwa semua perjuangannya hanya ditandai sebagai sebuah perayaan. Sebuah perayaan yang justru malah melecehkan. Kartini masih seorang wanita cerdas tanpa gincu merah yang menghiasi bibirnya. Ia pun masih seorang pelopor Bangkitnya Wanita tanpa memperlihatkan lekuk tubuh elok wanitanya dibalik kebaya kusam. Tanpa adanya pemerah pipi dan melati di kondenya pun ia masih tetap dihargai sebagai seorang pahlawan dan pejuang! Bukan perlombaan Berdandan ala Kartini yang seorang Kartini harapkan sebagai balas jasa atas perjuangannya. Bukan! Tentunya, ia akan lebih berterima kasih bila kita mengisi apa-apa yang sudah ada dengan hal-hal yang lebih berguna dari itu semua.

Tidak hanya Kartini, seorang wanita Jepara, yang berjuang untuk mengangkat peran kita sebagai wanita. Di Bandung sana ada Dewi Sartika yang membangun sekolah istri-istri. Ada Maria Walanda Maramis yang membangun perkumpulan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya pada tahun 1917 di daerah asalnya, Manado. Merekalah yang telah membuat kita, para wanita, bisa dengan bebas mengemukakan pendapat dan beraktivitas. Ya, bebas. Bebas disini adalah bebas dengan sebuah pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban kita sebagai seorang anak dari kedua orangtua, sebagai seorang istri dari suami dan sebagai seorang ibu dari anak-anak kita. Pertanggungjawaban yang akan kita bawa ke akhirat nanti untuk menghadapNya.

Itulah yang dilakukan Cut Meutia dan Cut Nyak Dien di Aceh sana. Kebebasan itulah yang dielu-elukan oleh Christina Martha Tiahahu sehingga tanpa takut sedikitpun ia melawan penjajah di tanah Malukunya.

Dan jika kita diharuskan bercermin kepada para wanita hebat di luar sana, ada Marie Curie dan Margaret Theacher yang begitu pintar dalam memanfaatkan otak encer mereka demi kemajuan teknologi. Di luar sana juga terdapat Bunda Theresa yang mengabdikan hidupnya demi mengasihi mereka-mereka yang kurang kasih sayang. Di dunia mitos pun, ada Srikandi yang begitu gagah berani menghadapi lawan-lawannya yang seakan lupa pada kenyataan bahwa Srikandi hanyalah seorang wanita yang juga punya sisi kelemahlembutan. Tidak ketinggalan Dewi Shinta yang begitu teguh mempertahankan cinta dan kesuciannya dari Rahwana demi seorang suami, Rama.

Ribuan tepuk tangan dan sorak sorai yang selalu bergema di aula setiap ia berhenti untuk mengambil napas membuat ia semakin semangat. Anyar masih berceloteh panjang lebar ketika waktu yang diberikan panitia lomba kepadanya hampir habis.

Ow, time is almost up!”, Anyar mengingatkan kepada dirinya sendiri.

Hadirin dan saudariku, mereka semua adalah sosok-sosok wanita yang sudah sepatutnya kita teladani figur dan pribadinya. Berterimakasihlah kita kepada mereka, karena, tanpa keberadaan mereka, mungkin sosok kita masih akan dipandang sebelah mata sebagai sebuah pelengkap properti dapur atau rumah atau bahkan sebagai mesin reproduksi pencetak anak. Semoga penjabaran akan makna wanita dan emansipasi yang telah saya sampaikan bisa berguna bagi anda semua. Amin…

Wanita adalah tiang negara, rusaknya wanita menunggu hancurnya negara. Anyar mengakhiri pidatonya, disambung dengan permohonan ampun kepada Tuhan dan permintaan maaf kepada para penonton disertai salam, yang langsung disambut dengan gemuruh tepukan tangan yang membahana ke seantereo aula yang memang sudah senyi senyap sejak pertama kali ia memulai pidatonya.

Aku tidak perlu membahas cerpen ini. Tinggal direnungkan oleh kita semua… Terutama, tentunya, bagi wanita Indonesia.

11 responses to “Karena Wanita (Part 2)

  1. Syahdana Thursday, 5 April, 2007 at 08:14

    Kalau teringat Kartini, jadi ingat jaman SD dulu waktu pawai pakaian daerah. Sekarang masih ada nggak sih?

  2. pramoedya2112 Thursday, 5 April, 2007 at 10:27

    waduh,,, panjang bener tulisannya (males baca jadinya :p)

  3. Muhammad Ismail Faruqi Thursday, 5 April, 2007 at 22:52

    Apa lagi cerpen aslinya.. tambah panjang lagi :p
    Sayang yah, waktu Kartini lahir mentoring belum masuk Indo…
    Coba kalau dah masuk, jadi militan tu beliau..

  4. febrian Friday, 6 April, 2007 at 00:45

    wanita yang hebat menurutku, menurutku dunia akan semakin dipenuhi oleh wanita-wanita hebat lainnya, dunia akan semakin dipenuhi oleh wanita-wanita yang ingin mengejar impiannya dan tidak mau dibandingkan dengan pria…

    btw, prianya jangan mau kalah nih :p

  5. Brahmasta Friday, 6 April, 2007 at 02:18

    Hm, dari sudut pandang seorang pria..

    Emang bener, wanita yang hebat adalah wanita seperti Kartini itu. Entah kenapa kehidupan sekarang seolah memunculkan wanita-wanita yang memperlakukan dirinya dengan kurang hormat seperti yang ada di cerpen di atas. Apakah pria-pria jaman sekarang kurang menghargai wanita hebat seperti Kartini?

    Menurut saya sih, di diri setiap wanita (juga pria), yang terpenting adalah keteguhan hatinya.ūüôā Dan Kartini punya ituūüėÄ

  6. aYuE Friday, 6 April, 2007 at 05:31

    bicara tentang wanita….
    pikiranku langsung ke ibu…
    wanita PALING HEBAT menurutku adalah IBU…
    kalau kamu nyari orang paling tulus di dunia ini…>> IBU lah jawabnnya
    kamu nyari orang paling baik di dunia ini………….>> IBU lah jawabanya
    Kamu nyari orang paling pemaaf di dunia ini……..>> IBU lah jawabnnya
    Kamu nyari orang paling bisa nerima kamu apa adanya…>> IBU lah jawabnnya
    Kamu nyari orang yang selalu doain kamu…………>> IBU lah orangnya
    Bahkan kalo kamu nyari orang yang paling rela mati untuk kamu…>> IBU lah orangnya
    (MOM I LUV U SO MUCH more than every thing in the World…..I LUV YOU TO PA…)

    intinya, kita harus memuliakan iBu, menghormati belia, melakukan yang terbaik untuk beliau, dan jangan pernah lukai hatinya, meski maaf itu akan selalu ada untuk mu
    Suatu saat kita juga bakal jadi ibu, so jadilah ibu yang baik….

  7. 415412 Friday, 6 April, 2007 at 09:56

    Seandainya Kartini masih hidup, akan ada dua jenis orang yang akan dimusuhinya :

    Yang pertama, orang yang terang-terangan merendahkan harga diri wanita, hingga wanita tak lebihnya sebagai objek pemuasan nafsu semata. Bahkan mereka membuat pagelaran akbar untuk mencari perempuan dari seluruh dunia, dan dibuatnya perempuan itu bangga mempertontonkan tubuh mereka.

    Yang kedua, orang yang berdalih ingin menjaga kesucian dan harga diri wanita, lantas mengurung mereka di dalam rumah, menyelubungi mereka dengan jubah layaknya kain kafan, dan mencabut hak-hak mereka untuk setara dengan pria

    Btw jadi inget pernah mbahas tentang peremuan jugaūüėÄ
    http://students.itb.ac.id/~aisar/articles.php?do=viewart&id=1&cat=2

  8. Zakka Fauzan Muhammad Saturday, 7 April, 2007 at 10:08

    Manteb isinya… Keren juga nih…

    Btw, tukeran link dongs (kecuali kalo emang gak berniat melink-link)… Tengkayu (saingan tengbaja :P)

  9. brama Thursday, 12 April, 2007 at 16:41

    udah baca “panggil aku kartini saja” by Pramoedya Ananta Toer atau “Habis Gelap Terbitlah Terang” by Armijn Pane”?
    about fight against stupidity.

  10. Saladin Sunday, 20 May, 2007 at 17:01

    keren, itu adalah cerpen paling bagus tentang perjuangan wanita yang saya pernah lihat. bisa minta judul cerpen aslinya.

  11. reiSHA Sunday, 20 May, 2007 at 17:09

    @Saladin: Itu ada link ke cerpen aslinya kan. Klik aja http://www.isekolah.org/cerpen/cerpen_view_blm_lulus.php?idx_cerpen=97

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: