Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

SaBuGa, 28 April 2007

Alhamdulillahirabbil’alamin…
Pagelaran kesenian Minangkabau dalam rangka Dies Natalis 32 UKM-ITB “Aso Palarai Ratok” berjalan sukses. Susah diungkapkan dengan kata-kata…

The Show

Malam Pagelaran Kesenian UKM-ITB dikemas secara apik dalam sebuah alur yang mampu membuat hadirin yang datang larut dalam atmosfer Minangkabau yang sangat kental. Kerinduan akan kampung halaman bagi perantau Minangkabau dapat terobati. Lebih dari 700 penonton memenuhi ruangan Sasana Budaya Ganesha, tempat diadakannya acara pagelaran kali ini.

Acara dimulai dengan Opening Act disusul Tari Galombang Pasambahan menyambut para tamu dan hadirin yang datang. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua UKM, Pembina UKM, dan perwakilan dari Rektoran ITB. Berikutnya pengumuman pemenang lomba Science Tech Event dan pemberian hadiah. Hadirin dibawa dalam suasana mengharukan saat pemutaran video bencana yang terjadi di Ranah Minang.

Selanjutnya, pertunjukan dimulai. Drama berjudul “Gabak Manyalubuang Singkarak” yang disadur dari cerita kaba “Magek Manandin” dibawakan, diselingi dengan randai dan tari. Kali ini, tari yang dibawakan adalah Tari Galuak, Tari Payuang, Tari Garak Kambang, Tari Lenggang Bagurau, dan Tari Piriang Manggaro (biasanya disingkat Tari Piro).

Behind The Stage

Bagian di atas sepertinya terlalu serius🙂 Mari lanjutkan cerita kali ini dengan bahasa yang lebih ringan.

Whaaa… Tak terasa acara pagelaran akan segera dimulai. 28 April sore, semua personil pagelaran sudah berkumpul di SaBuga, bersiap-siap untuk acara yang akan dimulai jam 19.00. Deg-deg-an, grogi, senang, semua perasaan bercampur. Akankah pagelaran kali ini sukses?

Benar-benar tidak disangka, kursi yang disediakan untuk hadirin terisi penuh. Alhamdulillah. Padahal sampai dzuhur, aku dapat kabar bahwa tiket yang terjual itu baru 100-an. Seram juga kalau ternyata banyak kursi yang kosong.

Hmm… Behind The Stage, ada personil pagelaran dan sejumlah panitia yang dinamakan stage manager. Personil bersiap-siap dengan kostumnya masing-masing. Fyuhh… Sebagai personil cewe, aku harus menggunakan make up😦 Begitulah, lumayan lama urusan make up ini, karena ada puluhan personil cewe yang harus di-make up. Aku datang agak sore ke SaBuGa, waktu aku datang sebagian personil sudah di-make up. Gila, make up-nya tebal pisan (urang Minang kok Sunda🙂 ), dah kaya setan aja tuh muka (uni reisha, ga usah berlebihan gitu deh…). Yang jelas, hasil pengamatanku, make up untuk pagelaran tahun lalu lebih baik.

Sebagai personil, di hari-H jangan bandel. Ya sudah, akhirnya aku di-make up. Parah… Tampak mengecewakan. Aku tidak rela mukaku jadi berantakan gara-gara make up, mending tidak usah di-make up sekalian. Tapi tidak mungkin lah…

Sekitar jam 19.00, tukang make up (istilah yang aneh) pergi. Saking tidak relanya dengan make up seperti itu, kubersihkan lagi mukaku, make up lagi dari awal. Lagi pula aku tampilnya masih lama. Masih 3 jam lagi. Ku minta anak UKM me-make up. Hasilnya lebih baik. Asik, hehe…

Make up. Huhh, bagian menyebalkan dari sebuah penampilan UKM. Make up selesai, persiapan tidak berhenti di sana. Masih ada songket yang harus dipakai dan hiasan untuk bagian kepala. Khusus Tari Piro, ada bagian pakai jilbab emas, maksudnya, kostum penari Piro menggunakan kerudung yang berwarna emas. Hasil survei membuktikan (naon?) kerudung emas ini (begitu pula dengan kerudung perak) susah dipasang, karena bahannya yang agak kaku. Angek lo tu. Perjuangan yang panjang untuk berhasil memasang kerudung ini dengan baik. Personil lain mah enak, cuma pakai kerudung hitam atau putih.

Lama juga persiapan kostum ini. Sebelumnya aku kira aku akan lebih banyak bengong menunggu giliran tampil (Tari Piro paling akhir soalnya), ternyata waktuku banyak tersita di kostum. Huaaa… yang pasti, aku tetap tidak bisa menonton pagelarannya. Sudah risiko jadi personil😦

Kostum beres, masih ada yang harus kulakukan. Pemanasan, istilahnya di UKM, “puta-puta piriang”. Huaaa… Giliran Tari Piro semakin dekat. Mulai grogi, deg-deg-an. Tangan mulai keringatan, padahal susah menari piring jika tangan basah.

On The Stage, Piro in Action

Drama selesai dibawakan, lampu ruangan dimatikan. Penari Piro siap memasuki medan pertempuran (emang mau perang?). Penari siap di posisi masing-masing. Gendang ditabuh, tanda musik Piro dimulai. Dung tak dung tak dung tak tak dung… Huaaa… Aku agak gemetaran. Penonton ramai sekali. Susah digambarkan lah perasaanku waktu menari di panggung SaBuga dihadapan lebih dari 700 orang itu. Semua perasaan yang mengganggu harus dihilangkan. Aku harus tampil sebaik mungkin. Tari Piro bisa dibilang sebagai penutup acara. So, give the best performance for the audience at the end of the show. Don’t forget to smile. Fyuhh… Berhasil…

After The Show

Tari Piro dengan durasi sekitar 8 menit itu, mungkin tidak sebanding dengan latihannya yang sudah berlangsung sejak akhir Januari lalu. Tapi, aku puas bisa membawakan tari ini. Akhirnya dua tari piring di UKM sudah berhasil aku kuasai🙂

Setelah pertunjukan selesai, semua personil naik kembali ke panggung, masih dengan kostum masing-masing, memberikan salam penghormatan kepada seluruh hadirin. Huaaa… Aku terharu ketika penonton bertepuk tangan saat kami semua membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Acara selesai. Bahagia, terharu, bangga, lelah, semuanya berbaur. Susah digambarkan perasaanku waktu itu. Perjuangan panjang kami semua berakhir bahagia. Semua orang saling mengucapkan selamat. Aku rasanya ingin menangis saat itu, menangis bahagia. Tapi aku tidak boleh menangis, ntar make up nya luntur😆 (apa coba?)

Aku senang melihat sejumlah penonton yang aku kenal mengucapkan selamat. Ketakutan yang sangat beralasan yang dulunya sempat ada di UKM alhamdulillah tidak menjadi kenyataan.

Huaaa… Mungkin lebih dominan perasaan terharu. Mengenang masa-masa latihan yang melelahkan dan terkadang penuh emosi negatif. Mengenang masa-masa penuh kebersamaan di antara personil pagelaran. Mengenang masa-masa di mana panitia Dies 32 jadi orang yang menyebalkan buatku. Mengenang masa-masa di mana aku bisa dibilang sebagai tukang protes di Dies 32. Mengenang masa-masa personil cewe Piro dipandang negatif yang rasanya sangat tidak beralasan. Mengenang masa-masa di mana aku harus latihan 3x seminggu padahal seminggu itu aku UTS. Mengenang semuanya…

Thank’s To

  • Thank’s to Allah SWT, tanpa izin-Nya, acara ini tidak akan berjalan lancar.
  • Thank’s to panitia Dies Natalis 32 UKM-ITB yang sudah mempersiapkan acara ini dengan baik.
  • Thank’s to semua penonton yang menghadiri acara ini. Tanpa penonton sekalian, acara ini tidak akan sukses.
  • Thank’s to d’squad FSLDK yang mengikhlaskan aku tidak membantu acara SSDK di Subang karena ada pagelaran ini.
  • Thank’s to IF’ers, di sela-sela kesibukannya masih sempat datang menonton && memberikan ucapan selamat (Syva ’05, Putri ’05, Sindy ’05, Bram ’03, Febrian ’03). Aku juga melihat beberapa orang IF’04, tapi tidak tahu namanya. Yang namanya belum tersebut silakan lapor di bagian comment, hehe…
  • Thank’s to IF’ers yang dulu sekelompok tugas denganku, yang mungkin harus merelakan aku tidak terlalu maksimal dalam pengerjaan tugas karena persiapan acara pagelaran ini (baca: latihan).
  • Thank’s to Ayu yang udah bela-belain datang dari Depok untuk memenuhi undanganku menonton acara ini. “Thank’s” juga telah membantai aku di hari Minggu buat jalan-jalan, padahal aku ngantuk berat. Demi dirimu, aku kuat-kuatin deh, untung saja aku tidak tepar di jalan. Thank’s udah bawa kamera segala, tapi hasilnya ga ada yang beres, haha…
  • Thank’s to kelompok OOPS yang merelakan aku tidak ikut membantu mengerjakan tugas di hari Sabtu dan Minggu karena acara ini. Padahal tugasnya harus dikumpul Senin.
  • Thank’s to Zilfa yang sudah menyiapkan kostum, sampai-sampai tepar sesudah acara. Zil, walau jilbab emas itu susah masangnya, tapi keren🙂
  • Thank’s to Ni Yeyen yang sudah membantu membereskan make up dan kostumku. Ntah pa pa jadinya mukaku dengan make up dari L***na itu. Thank’s juga dulu sudah mengajarkan Tari Piro-nya, nyusun formasi segala. Terkenang masa-masa Selasa malam, cewe-cewe Piro latihan mandiri bersama dirimu.
  • Thank’s to Aisar yang dah bela-belain bawa saudara dan keponakannya buat nonton acara ini. Maaf ya, keponakanmu tidak sempat nanya-nanya tentang kesenian Minangkabau padaku. Thank’s juga udah bahas pagelaran UKM Sabtu malam itu di sini.
  • Dan akhirnya, thank’s to semua pihak yang tidak mungkin bisa kusebutkan satu persatu namanya di sini.

NB:

  • Kepada pihak yang merasa namanya tersebut di atas (apa coba?), terutama yang menonton acara pagelaran UKM, tolong kasih komentar tentang acara pagelaran kemarin ya🙂 Thank’s before.
  • Maaf kalau untaian kata (naon???) yang kugunakan di postingan ini belum bisa menggambarkan acara. Memang susah merangkai kata menyusun makna.

8 responses to “SaBuGa, 28 April 2007

  1. Brahmasta Monday, 30 April, 2007 at 17:48

    Acaranya bagus banget sha. Dramanya lucu banget., meski rada roaming. Tariannya bagus2. Manteb dah! Ga nyesel lima belas ribu perak hilang buat itu.😀
    Mau dong rekaman dramanya, tapi pake subtitle.😉

  2. reiSHA Monday, 30 April, 2007 at 18:03

    Wah, kalo rekaman acara ada, tp kalo subtitle kayanya ga ada, hehe… Roaming2 kan ada temen. Temennya si ‘Bagus’😆

  3. RiRin Monday, 30 April, 2007 at 18:05

    Hmmm,,,,, Dies… oh Dies,,,
    dan “perjuangan” di balik itu,,*however,, i know, i`ll miss it,,*

    Finally…
    Succesfully succes,,,

    I do know how it feels,,,
    Speechless deh !!!

    Hm,,, itu saja,,,

  4. Petra Novandi Monday, 30 April, 2007 at 18:17

    Tak sabar menunggu Dies Natalis berikutnya ^_^

  5. edwards Monday, 30 April, 2007 at 22:59

    Met lamet😀

  6. febrian Tuesday, 1 May, 2007 at 16:28

    Baru tahu ternyata sempat rewel dengan make up..

    great show Sha !

    ps : kapan-kapan kalo jadi agen ya mbok diberi diskon (masih ngeyel minta potongan harga heheheh😀 )

  7. Widya Thursday, 3 May, 2007 at 10:46

    sha, pagelaran UKM tiap tahunnya memang memakai prinsip bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

    Jadi ingat 2 tahun lalu, -berdasarkan pengalaman pribadi ikutan dies tahun sebelumnya- daku selalu ngasih semangat pemusik baru dengan kata-kata: “Semangat yo … walaupun sekarang lelah n ngantuk, kebahagiaan atas kesuksesan acara Hari-H Insya Allah bisa mengobati semuanya” …

    Daku ikut senang, personil bisa merasakan apa yang kurasakan 3 tahun lalu ketika pertama kali ikut dies.

  8. 415412 Thursday, 3 May, 2007 at 17:00

    Kapan-kapan aku diajarin nari piring ya :p
    Tapi pake lakban biar ga jatuh :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: