Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Negeri Sembilan

Negeri Sembilan atau juga dikenal sebagai Negeri Sembilan Darul Khusus merupakan salah satu negara bagian Malaysia. Negeri Sembilan terletak di bagian barat Semenanjung Malaysia.

Hal menarik dari Negeri Sembilan ini adalah kebudayaannya. Negeri Sembilan memakai budaya Minangkabau. Disebutkan bahwa orang-orang Minangkabau sudah bermukim di Negeri Sembilan sejak abad ke-15. Dalam sejarah budaya Minangkabau pun disebutkan bahwa Negeri Sembilan adalah salah satu wilayah rantau nenek moyang orang Minangkabau, disebut Rantau Nan Sambilan. Mungkin penamaan Negeri Sembilan ini karena di sana ada sembilan negeri (bahasa Minangnya ‘nagari’) yang didiami orang Minang, yaitu Sungai Ujong, Jelebu, Jehol, Rembau, Segamat, Naniang, Kelang, Pasir Besar, dan Jelai.

Aku tertarik menulis tentang Negeri Sembilan ini. Beberapa waktu yang lalu, ibu kos pulang dari Malaysia, membawa sejumlah brosur tempat wisata di Malaysia. Aku tertarik melihat brosur Negeri Sembilan, karena gambar di halaman depannya adalah gambar Rumah Gadang, dan di depannya berdiri sejumlah orang berpakaian khas Minang, memeragakan Tari Piring.

Dari zaman pelajaran Budaya Alam Minangkabau waktu SD aku sudah tahu tentang Negeri Sembilan ini, hanya saja, aku baru tahu sampai sekarang budaya Minangkabau masih melekat pada orang-orang di sana.

Di Negeri Sembilan dikenal Adat Perpatih. Ini tampaknya mirip dengan Kelarasan Bodi Caniago Di Minangkabau, yakni kelarasan yang dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang. O ya, kelarasan adalah sistem pemerintahan menurut adat Minangkabau. Ada dua kelarasan di Minangkabau, yaitu Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Koto Piliang.

Adat Perpatih that has been assimilated with Islamic law has great influence on the local socio-cultural, political and economic activities. Every conflict is resolved harmoniously apt to the Islamic principle as mentioned in the proverbs “Adat Bersendikan Hukum, Hukum Bersendikan Kitabullah”.
(Sumber: dari sini)

Itu dia, “Adat Bersendikan Hukum, Hukum Bersendikan Kitabullah”, di sini lebih dikenal dengan “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

Arsitektur bangunan tradisional di Negeri Sembilan juga didasarkan pada arsitektur Rumah Gadang. Di sana dikenal dengan nama Rumah Tiang Enam Belas.

Dari segi musik dan tari, di Negeri Sembilan dikenal alat musik tradisional Caklempong, Dikir Rebana, Tumbuk Kalang, and Bongai. Caklempong ini menurutku sama dengan Talempong. Mereka juga punya Tari Piring dan Randai. Hmm… Jadi ingin lihat Tari Piringnya seperti apaūüôā

Ingin tahu lebih banyak? Aku rasa sumber ini dan ini cukup.

Oya, kelupaan. Ibukota dari Negeri Sembilan ini, Seremban, kembarannya kota Bukittinggi. Maksudnya, Bukittinggi-Seremban dijuluki sebagai kota kembar.

12 responses to “Negeri Sembilan

  1. Widya Thursday, 17 May, 2007 at 18:38

    jadi pengen kapan-kapan ke sana..
    tapi kapan ya ?

  2. 415412 Sunday, 20 May, 2007 at 22:36

    iya.. keren.. ukm studi banding kesana aja..
    minta duit sama WRMūüėÄ

  3. edwards Tuesday, 22 May, 2007 at 09:08

    Kalo mau yang bahasa Indonesia, cerita tentang Negeri Sembilan bisa dibaca di situs kota Bukittinggi: http://www.bukittinggikota.go.id/

  4. on2hood Wednesday, 30 May, 2007 at 20:45

    Masa ceh …. aku baru tau neh …btw numpang duduk bentaran ya di blognya

  5. reiSHA Thursday, 31 May, 2007 at 14:48

    @on2hood: on2hood siapa? yang “masa ceh…” bagian mana?

  6. fakhrul Thursday, 2 August, 2007 at 13:06

    Berbicara mengenai negeri sembilan bagi kita orang minang memang cukup menarik. Soal apa, karena kesamaan budaya dan bahasa, walaupun memang bahasa minang yang mereka gunakan menggunakan banyak istilah dan dialek melayu. Hal ini wajar karena memang mereka hidup ditengah2 orang melayu (sebenarnya orang minang disana juga dikategorikan sebagai orang melayu lho).

    Saya pernah beberapa kali singgah di negeri 9 dan ngobrol2 juga dengan beberapa warga disana. Banyak diantara mereka yang masih kenal saudara maranya di sumbar dan bertandang ke sumbar juga. Tapi ada juga yang sudah tidak tau lagi silsilah keluarganya. Tp yang jelas, mereka juga sangat ingin mengenal sumbar lebih banyak, negeri asal muasal nenek moyang mereka.

    Berbicara mengenai kemajuan, sepertinya kita kalah jauh deh. Mulai dari kebersihan, keteraturan dan mungkin juga sopansantun. Bukannya menghina bangsa sendiri namun begitulah kenyataannya. Bagi mereka yg sudah pernah mengunjungi sumbar, sangat sedih dengan potret kehidupan kita yg tertinggal. Jalan2 banyak yg buruk, fasilitas umum juga. Padahal disana, jalan2 yg menghubungkan bandar2 utama sampai ke desa-desa mulus lus..Kemudian angkutan umum juga..disana bagus dan jadwalnya sudah tertentu..

    Ada hal yang menarik yang saya dapat disana. Kalau di pasar atau di terminal misalnya, kita pakai bahasa minang kita, mereka tidak tau lho kalau kita berasal dari indonesia. Tp kalau kita menggunakan bahasa indonesia, baru satu atau dua kalimat saja mereka sudah langsung tau. Eh bang, indon ya..(indon adalah sebutan untuk orang indonesia yg konotasinya negatif..prt, krimainal dsb). Jadi mereka menyarankan kalau ditempat umum sebaiknya menggunakan bahasa minang saja. Tp ini hanya berlaku untuk dinegeri 9, sebagian daerah di melaka dan KL.

  7. zuhe Wednesday, 5 December, 2007 at 12:12

    wah, dulu pernah dapet Budaya Alam Minangkabau juga ya… jadi ingat waktu masih SMP di Batusangkar, juga ada pelajaran itu… jadi pengen pulang kampung..kangen

  8. Hadi Gunawan Sunday, 25 May, 2008 at 17:57

    Tarimo kasih yo dunsanak atas informasi nyo

  9. nidya Tuesday, 10 June, 2008 at 21:15

    sebenarnya pengenke sana tapi mo gimana lagi lom da biaya tuk pergi kesana.

  10. MUHD ASRAF BIN MOHD RIDZUAN Monday, 6 April, 2009 at 13:52

    Keunikan negeri sembilan telah menarik minat saya untuk mengetahui lebih dekat lagi tentang negeri sembilan.

  11. Fadillah Nur Aliah Wednesday, 29 April, 2009 at 04:52

    I love my country and also love sabah,kuala lumpur.so,i have exam and i hope will be A in all exam,bye

  12. Shariff Fudin Wednesday, 28 October, 2009 at 12:43

    reiSHA,

    Ramai orang NS sebenarnya berketurunan Melayu Sumatra Timur. Mereka menyebut “godang” , “Omak” dan memanggil diri sebagai “dan” atau “deyen”. Orang minang memanggil dirinya “ambo” dan “aden, “wakden”. Yang berketurunan asli minang menduduki daerah seperti Lenggeng dan Gagu di Jelebu.

    Di selangor orang minang menetap di Ulu Langat, Kajang dan Gombak.

    Orang NS mengadaptasi budaya minang. “Tumbuk kalang” dan “bongai” bukan daripada budaya minang asli tetapi daripada percampuran budaya orang asli (orang bukit) dan minang. Randai, caklimpung dan taripiring adalah budaya minang dan dipelopri oleh orang-orang dari daerah Lenggeng, Jelebu, Kajang dan Gombak. Caklimpung bagaimanapun sudah dibudayakan oleh NS dan mempunyai lagu atau nada yang sedikit berbeza dengan caklimpung asli minang.

    Orang NS masih gemar bergurau/berseloroh dengan kata-kata seperti “dilambuang indak pacah” dan “tacirik dilabuah”, walaupun mereka mengaku keturunan minang. Saya ragui

    Mak Adang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: