Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

I Hate Smoker

Dengan ini aku menyatakan rasa tidak suka yang sangat mendalam kepada para perokok yang tidak peduli pada orang-orang di sekitarnya!!!

Yup, dari dulu aku tidak suka asap rokok. Mungkin karena dari kecil aku dibesarkan di kediaman bebas asap rokok. Papa bukan perokok, dan mama memang sengaja mencari pasangan yang bukan perokok. Salah satu syarat katanya. Setuju!!!ūüôā

Kakekku dulu perokok berat, akan tetapi aku tidak pernah berhadapan dengan asap rokoknya karena dari lama kami pindah ke rumah sendiri. Ujung-ujungnya beliau kena stroke. So, stop smoking!!!

Aku tidak akan menjelaskan dampak negatif merokok di sini. Toh orang-orang sudah tahu, lha wong di bungkus rokoknya sendiri ditulis kok… Dan dampak asap rokok terhadap perokok pasif alias orang-orang yang dengan sangat terpaksa menghirup asap rokok yang kalian keluarkan, juga sudah jelas.

Yang sangat mengesalkan adalah, kenapa sih tidak bisa mengerti dengan kondisi orang yang anti asap rokok? Di kendaraan umum jangan merokok lah. Kadang kesal juga, sudah batuk-batuk, berharap si perokok mengerti ada orang yang tidak tahan asap rokok, masih aja ga dipeduliin. Di dekat balita, terutama bayi, ya jangan merokok. Masa dari kecil gitu paru-paru mereka harus kotor karena asap rokok kalian. Kalau ada rapat, kumpul, dan sebagainya, jangan merokok donk.

Dengan kondisiku yang sangat tidak suka asap rokok, katanya pernah membuatku jadi seseorang yang dibenci oleh seorang perokok berat UKM. Tepatnya bukan aku sendiri, tapi juga Bu BRT di kepengurusan UKM 2006/2007. Bu BRT telah menetapkan sekre UKM sebagai kawasan bebas rokok. Sebelumnya, seringkali para perokok itu merokok seenaknya di sekre UKM.

Pernah suatu ketika aku menulis di bukom UKM tentang dampak rokok dan sebagainya. Tahu dibalas apa? Dibilang aku sok tau, ga usah sok ngatur orang lain, dan lain-lain.

Pernah juga aku menulis suatu analogi yang menurutku cukup bagus. Analogi yang aku dapat waktu Training ESQ. Misalkan kita meminjamkan suatu barang kepada seseorang. Saat barang itu dikembalikan, barang itu telah rusak. Pasti kesal kan? Dah dipinjemin ya dijaga donk. Nah, Allah sudah meminjamkan kita tubuh, dulu diberikan dalam keadaan bagus. Saat kita kembali menghadapnya, paru-paru itu dikembalikan dalam keadaan rusak. Bagaimana?

Nah, tulisanku yang itu dibalas dengan kata-kata “Ga usah sok ngurusin orang lain lah. Urus aja dulu masalahmu…” n soon. Sangat kasar.

Ya, memang, merokok itu hak kalian. Kalau kalian mau merusak diri sendiri, aku juga tidak berhak melarang. Cuma, hormati juga donk hak orang lain untuk menikmati udara yang bersih. Udara kita saat ini sudah terpolusi, kalian cuma memperparah. Kalau mau merokok, di tempat yang jauh dari keramaian kek…

Oh, andai di dunia ini tidak ada asap rokok…

20 responses to “I Hate Smoker

  1. m4rino Thursday, 5 July, 2007 at 13:29

    Setuju…..
    Rasanya kl liat temen mo nyalain rokok,mau aku patahkansaja tu rokok…

  2. KnightDNA Thursday, 5 July, 2007 at 14:46

    Matikan saja rokoknya biar ramai…ūüėõ

  3. da revan Friday, 6 July, 2007 at 13:59

    benci lah rokoknya … bukan perokoknya … -_-

  4. Petra Novandi Friday, 6 July, 2007 at 14:04

    @revan :
    penjahat membunuh orang dengan pisau……

    yang salah pisaunya?

  5. Aditya Friday, 6 July, 2007 at 16:14

    ‚ÄúGa usah sok ngurusin orang lain lah. Urus aja dulu masalahmu‚Ķ‚ÄĚ

    “Nah justru itu, masalahnya gua keganggu ama asep roko’-lu!”

  6. deno21 Friday, 6 July, 2007 at 21:33

    halo ni reisha.. nompang nge comment (baru ngeblog nih..)
    deno sih gak ngerokok..
    tapi rokok kan nyumbang devisa juga kan.. jd gmn donk?

    nb: ni, tolong di link kan donk.. thanks b4

  7. Arie Saturday, 7 July, 2007 at 00:16

    Iya ih, perokok (bukan rokoknya) bener-bener lknt tktk bdbh.
    Bikin darting aja..

  8. malcolm Saturday, 7 July, 2007 at 11:32

    Yo tu ma ni!
    Tanpa se nan marokok tu!

  9. ibun Saturday, 7 July, 2007 at 22:05

    Iya tuh, gw kesel banget sama orang yang ngerokok tapi ga peduli ama sekitarnya.

    Pernah gw lagi di angkot ada orang yang ngerokok, dia bapak-bapak (bukan ibu-ibu). Terus di sebelahnya ada mbak-mbak (bukan om-om). Dengan jelasnya gw liat dan semua penumpang angkot melihat kalau mbak-mbak (bukan om-om) tersebut batuk-batuk atau lebih jelasnya asmanya kambuh.

    Yang bikin kesel, bapak-bapak (untungnya bukan ibu-ibu) di sebelas mbak-mbak yang batuk-batuk tersebut tidak peduli. Dengan santainya ia merokok tanpa henti dan menghembuskan asapnya ke dalam angkot.. Hmmpph, sungguh mengesalkan…

  10. da revan Monday, 9 July, 2007 at 13:48

    @ van odin: mmm … bukan analogi yg tepat menurut ku, dua hal yg berbeda …
    perokok gak disebut perokok kalo gak ada rokok …

  11. Aditya Monday, 9 July, 2007 at 14:39

    @ da revan :
    Mungkin maksudnya jangan benci orangnya, tapi bencilah perbuatannya, begitu?

  12. pUtRi Monday, 9 July, 2007 at 16:15

    Setuju Sha..
    ayahku dulu perokok berat, dan pernah diopname sebulan karena bermasalah dengan paru-parunya
    alhamdulillah sekarang udah sehat n ga merokok lagi

    “sengaja mencari pasangan yang bukan perokok. Salah satu syarat katanya”
    ->setuju banget!!!

  13. alsa Tuesday, 10 July, 2007 at 15:31

    hahaha,, yup, ngerokok itu emang berbahaya,, but inilah pilihan mereka, bole2 aj kita nasehatin, tp bukan berarti maksain perokok bwt berhenti..

    mungkin yg jadi masalah adalah perokok yang kurang beretika,, misal merokok di angkot,, aq si fine-fine aja kl ngerokok beretika,, asalkan bukan anggota keluarga gw,,

    bisa ngomong gini soale gw “pernah” ngerokok,, no sensasion si,, untung ga kecanduan,, thx Allah,,

    kl ga, gw ga bisa dapet pasangan(cewe bukan cowo) gw skrg(anti super duper rokok bow),, hehe ;p,,,

    sori kalo omongan aq rada kacau,, pusing,, dingin?

  14. da revan Thursday, 12 July, 2007 at 00:33

    Peta Perokok di Kalangan Anggota Legislatif

    Dari riset itu, ditemukan fakta bahwa persentase perokok tertinggi berada di Fraksi Partai Golkar. Hampir 60 persen anggota partai tersebut perokok. Sedangkan FPKS mengukir prestasi luar biasa, yaitu nol persen. Artinya, tak ada satu pun kader PKS di parlemen yang perokok.

    Merokok bagi sebagian orang dinilai sebagai gaya hidup, sehingga tak bisa membiarkan hari-hari lepas tanpa merokok. Namun bagi sebagian orang lainnya menganggap merokok merupakan perbuatan sia-sia yang hanya berujung pada bersarangnya penyakit dalam tubuh. Kedua prinsip bersebrangan di atas juga dianut oleh para wakil rakyat yang duduk di DPR.

    Departemen Kesehatan RI baru-baru ini merilis sebuah hasil survei mengenai perokok. Survei itu menjadi menarik karena yang menjadi objek penelitian adalah anggota DPR RI. Apalagi, saat ini para wakil rakyat tersebut mendapat desakan publik untuk segera merampungkan draf RUU tentang Pengendalian Dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan.

    Survei dilakukan dengan membandingkan antara anggota dewan yang perokok (smoke) dan yang bukan perokok (not smoke). Dari riset itu, ditemukan fakta bahwa persentase perokok tertinggi berada di Fraksi Partai Golkar. Hampir 60 persen anggota partai tersebut perokok. Urutan selanjutnya adalah Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) yang mencapai angka 55 persen.

    Berturut-turut selanjutnya, FPAN (42 persen), FPDIP (38 persen), FBPD (36 persen), FPPP (28 persen), FPD (24 persen), dan FPBR (15 persen). Sedangkan FPKS dan FPDS mengukir prestasi luar biasa, yaitu nol persen. Artinya, tak ada satu pun kader PKS di parlemen yang perokok.

    “Prestasi” PKS itu ternyata ada yang berkaitan dengan aturan yang diterapkan partai tersebut. Ketua DPP PKS Untung Wahono memaparkan, di PKS memang ada lima tingkatan keanggotaan. Mulai yang paling bawah, yaitu anggota pemula, anggota muda, anggota madya, anggota dewasa, hingga anggota ahli di level tertinggi.

    Dalam kurikulum kaderisasi PKS, seorang kader PKS yang telah mencapai level dewasa memang tidak diperbolehkan merokok. Ada pedoman sanksi kepartaian yang mengatur. “Kedapatan merokok dihitung pelanggaran ringan,” katanya.

    Bila pelanggaran serupa berulang, itu akan menjadi penilaian tersendiri yang memengaruhi jenjang karir kader bersangkutan di internal PKS. Kendati demikian, Untung mengatakan, banyak juga kader PKS di level pemula hingga madya yang belum bisa meninggalkan kebiasaan merokok.

    Fenomena itu sesekali bisa dilihat di ranting-ranting PKS yang berada di desa maupun kelurahan. Namun, mekanisme sanksi tidak diberlakukan kepada mereka. “Paling-paling hanya sebatas pengarahan,” ujar anggota Komisi I DPR itu, lantas tersenyum.

    Untung menjelaskan, seluruh kader PKS yang saat ini duduk di DPR paling tidak telah mencapai level dewasa. Sebagian besar di antara mereka bahkan pada level ahli. Karena itulah, tidak ada satu pun anggota Fraksi PKS yang “terdeteksi” memiliki kebiasaan merokok.

    “Persoalannya sudah bukan takut sanksi lagi. Tapi, matangnya pengendalian diri,” katanya. Di level ini, pemahaman bahwa merokok merupakan perilaku yang boros dan merusak kesehatan telah terintermalisasi dengan sangat baik.

  15. taufik Thursday, 12 July, 2007 at 13:59

    hidup PKS ! (naon sih?:P)
    pokonya merokok jgn di tempat umum !
    setuju sm SHA..
    jgn mendzolimi tubuh kita sendiri
    (training ESQ nya nerap bgt ya?:)
    ayo dtg lagi..

  16. sutanrajodilangik Friday, 13 July, 2007 at 01:09

    Yang penting mah the smoker tahu diri…..

    jangan ngerokok deket orang rame, tempat tertutup…….
    kalo misalnya kebelet ngerokok juga, minta ijin dulu ke orang sekitar….
    “mas, mbak, kalo saya ngerokok, keganggu ga????”
    dan jangan lupa, menawarkan rokok kepda sesama smoker…..
    wehehehehehe

  17. da revan Friday, 13 July, 2007 at 09:07

    Quoted by reisha:
    >Nah, Allah sudah meminjamkan kita tubuh, dulu diberikan dalam keadaan >bagus. Saat kita kembali menghadapnya, paru-paru itu dikembalikan dalam >keadaan rusak.

    Buat orang yang berkacamata gimana?
    Allah juga meminjamkan mata pada kita.
    Masa saat kita mengembalikan kehadapan-Nya dalam keadaan rusak?

  18. reiSHA Friday, 13 July, 2007 at 10:26

    @yang-ngasih-comment-setuju-ga-suka-sama-perokok: Aku senang… Ternyata banyak orang di dunia ini yang anti asap rokok…

    @pUtRi: Yoi, ntar cari pasangan yang bukan perokok, hehe…

    @alsa: “(anti super duper rokok bow)”… Baguslah…

    @da revan: Beda kasus. Perokok kan memang sengaja merusak paru-parunya. Kalau mata, kebanyakan karena kurang menjaga kesehatan mata. Lagian belum tentu orang yang tidak berkacamata matanya tidak rusak. Cubolah pareso mato tu dulu, jan sok2 mato sehat mantang2 ndak pakai kacomato…

  19. humaira Tuesday, 17 July, 2007 at 09:44

    mbak reishaaaaaaaaaaaaa, aku harap mbak berkenan menjadi mbakku…
    aku ingin mbak reisha mau memberikan nomor hp mbak ke aq.

  20. humaira Tuesday, 17 July, 2007 at 09:50

    aku tahu ALLAH mengetahui yang TERBAIK bagi kita.
    akupun juga tau bahwa ALLAH tidak akan memebrikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya.
    dalam Al-Qur’an juga telah uraikan, bahwa sesuatu yang kita suka
    belum tentu memberikan kebaikan bagi kita dan sebaliknya sesuatu yang
    kita benci justru memberikan kebaikan bagi kita.
    harusnya aku IKHLAS dan La Tahzan INNALLAHA MAANA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: