Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Dongeng Lain

Akhirnya posting juga… (Tidak bermaksud mencontek judul suatu program acara di televisi)ūüôā

Yang namanya sudah kuliah lagi, semester 6 pula, belum terlalu sibuk sih, tapi sudah mulai pusing; jadinya tidak sempat posting (cari-cari alasan aja!). Cukup sudah pusing dengan semester 6, jadi postingan kali ini yang ringan-ringan saja (lho memangnya postingan punya massa?). Jadi, mari mendongeng… (hubungannya?).

Masih ingat kan, zaman kita (kita?) masih anak-anak dulu, dalam pelajaran bahasa Indonesia di SD pasti ada cerita dongeng. Tau kan dongeng paling top dari Sumatra Barat? Yup, Malin Kundang (yang salah menjawab patut dipertanyakan keabsahan ijazah SD-nya, hehe…). Ah, tapi masa iya aku menulis cerita Malin Kundang di sini. Orang-orang juga sudah tahu…

Jadi, mari kita mulai dengan dongeng terbentuknya Danau Maninjau (kalau belum tahu; dengan bantuan Mbah Google sebenarnya juga bisa tahu). Tahu Danau Maninjau kan? Hehe… Danau Maninjau merupakan salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Agam. Jika kita berangkat dari Bukittinggi, maka kita akan melewai Kelok 44. Semasa hidupnya, ketika Bung Karno berkunjung ke Maninjau, ia sempat berpantun:

Jika adik memakan pinang
makanlah dengan sirih yang hijau
jika adik datang ke Minang
jangan lupa datang ke Maninjau

Tentu bukan tanpa alasan Bung Karno mengimbau melalui pantunnya. “Maninjau yang indah permai,” ungkap Bung Karno kala itu, dengan danau yang dahsyat, sawah bersusun, udara yang sejuk, dan jalan yang berkelok (promosi ah, Visit Indonesia 2008 donk, hehe…)

Konon, dulunya di tempat Danau Maninjau berada sekarang tidak ada danau. Yang ada adalah sebuah gunung berapi aktif (iya gitu?) yang bernama Gunung Tinjau. Di kaki Gunung Tinjau ini, tinggallah 10 bersaudara yang terdiri atas 9 orang laki-laki (biasa disebut Bujang Sembilan) dan seorang perempuan (bernama Sani). Sani ini gadis yang elok parasnya dan halus budi pekertinya. Hal inilah yang memikat hati seorang pemuda yang bernama Sigiran. Singkat kata, mereka menjalin asmara. Entah apa sebabnya, tampaknya Bujang Sembilan tidak menyukai kehadiran Sigiran. Mereka akhirnya menyebar fitnah bahwa Sigiran dan Sani telah melakukan perbuatan amoral.

Sigiran dan Sani yang memang tidak berbuat apa-apa tentunya membantah pernyataan Bujang Sembilan. Sampai akhirnya, untuk membuktikan bahwa fitnah itu salah, Sigiran dan Sani disuruh melompat ke kawah Gunung Tinjau. Jika Sigiran dan Sani yang benar, maka Gunung Tinjau akan meletus; sebaliknya tidak terjadi apa-apa. Bisa ditebak, Gunung Tinjau pun meletus. Letusan ini demikian dahsyatnya sehingga membentuk kawah besar yang kemudian terisi air lalu menjadi danau. Danau itulah yang dinamakan Danau Maninjau. Bujang Sembilan akhirnya dikutuk menjadi ikan (ikan yang menghuni Danau Maninjau kali ya?).

Nama dua sejoli tadi diabadikan sebagai nama daerah di sekitar Danau Maninjau sekarang, yaitu Sigiran dan Tanjung Sani. Dalam pelajaran Budaya Alam Minangkabau yang aku dapat waktu SD dan SMP memang sudah disebutkan dua nama tadi, sebagai nagari yang termasuk dalam Luhak Agam, yakni Nagari Sakaliliang Danau Maninjau yang meliputi Maninjau jo Sungai Batang, Sigiran jo Tanjuang Sani, Bayua jo Koto Kaciak, Koto Gadang Koto Malintang, Paninjauan jo Batu Kambiang, Lubuak Basuang jo Manggopoh. Nah, dari nagari terakhir yang disebutkan, ada seorang pahlawan wanita yang dikenal turut berjuang melawan penjajah Belanda. Nama aslinya aku tidak tahu. Yang jelas ia dikenal sebagai Siti Manggopoh.

Hikmah dari cerita ini, janganlah memfitnah orang lain, apalagi saudara sendiri. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Jadi daripada memfitnah, lebih baik bunuh saja orangnya. Ahaha… Penarikan kesimpulan yang aneh…

Dongeng ini aku dapat waktu berada di Matur, sebuah daerah sebelum Maninjau (dari arah Bukittinggi). Di Matur ini ada objek wisata yang namanya Embun Pagi. Nah, dari Embun Pagi ini kita bisa melihat keindahan Danau Maninjau secara keseluruhan. Duh, jadi ingin ke sana lagi. Rindu pemandangan indah dan hawa sejuknya (sepertinya lebih tepat dikatakan ‘dingin’, bukan ‘sejuk’, hehe…). Tidak jauh dari Embun Pagi ada yang namanya Puncak Lawang. Ah, tapi aku belum pernah ke sana. Oh, iya. Di dekat Danau Maninjau juga ada Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.

Argh, sebenarnya masih ada dongeng lain yang ingin aku tulis, tapi tampaknya postingan ini saja sudah cukup panjang. Jadi, di-cut dulu…

13 responses to “Dongeng Lain

  1. thewhiteglasses Friday, 15 February, 2008 at 10:16

    miss that so much
    dah lama ga ke maninjau lagi…

  2. penunggangkuda Friday, 15 February, 2008 at 12:08

    Asll…udah lama nggak kesini…..

    tapi kayaknya itu asli dongeng deh..sama cerita si malin kundang dan siti nurbaya….(karna sy orang asli maninjau). Tapi setidaknya bisa diambil pelajaran dan hikmah disini……….

    oke hidup cerita minang………oiya ya ikut promosi juga deh…….kampung gw……senang….(berlari sambil hati berbunga2.)

  3. penunggangkuda Friday, 15 February, 2008 at 13:32

    thanks ya..udah postingan ini..setidaknya sy bangga punya kampung yg banyak cerita2 hikmahnya…spt kebanggaan Buya Hamka dan M.Natsir pada negeri mereka……

  4. penunggangkuda Friday, 15 February, 2008 at 13:34

    tapi kayaknya cerita diatas memang asli dongeng…spt cerita malink undang dan siti nurbaya, tp setidaknya ini (cerita rakyat) bisa diambil pelajaran dan hikmahnya. terlepas dari fiksinya.

    thanks.

  5. Da Revan Monday, 18 February, 2008 at 23:16

    Di kelok ampek puluah ampek
    Denai bamulo barangkek
    Tinggalah kampuang sanak sudaro
    Denai barangkek ka tanah Jao
    Tinggalah kelok ampek puluah ampek

    Di Taluak Bayua den tamanuang
    Den lapeh pandaang sakuliliang
    Tabayang rantau nan ka den hadang
    Dima ko badan beko manompang
    Jauah badarai aia mato
    Tinggalah kelok ampek puluah ampek

  6. Sutan Rajo di Langik Thursday, 21 February, 2008 at 17:31

    hihihihihi
    udah lama ga denger cerita tambo lagi…..

    jadi kangen pulang

  7. taufikr Monday, 25 February, 2008 at 21:31

    walaupun aneh2, tp hikmahnya mmg kna..crita2 neneng moyang kita (kita?) mmg pinter2 d..mengelola crita buat anak2nya..
    aneh1:ko untuk membuktikan salah ganya harus terjun ke lembah?? cem mak mak ajaūüėõ
    aneh2:”Jadi daripada memfitnah, lebih baik bunuh saja orangnya. Ahaha‚Ķ Penarikan kesimpulan yang aneh‚Ķ” : SHA nya yg aneh wakaka..bodor..
    tambahan:danau ini dcetak di mata uang ya??

  8. reiSHA Wednesday, 27 February, 2008 at 20:04

    @thewhiteglasses: Sama… Kapan kita mau kesana? (Lho?)

    @taufikr: Ya namanya juga dongeng. Emang ada dongeng yang logis?

  9. thewhiteglasses Wednesday, 27 February, 2008 at 21:14

    beuuuhhh
    naik apaan ya kesana?
    masa naik motor?
    bisa mabok aku
    hahaha

    eh
    tapi kan klo di padang bisa bawa mobil aku
    hehehe

  10. reiSHA Thursday, 28 February, 2008 at 10:47

    @thewhiteglasses: Haha… Ada mobil toh… Asikkk, nambah niy investasiku… Haha…

  11. deno Saturday, 1 March, 2008 at 10:29

    ooo.. maninjau ya…
    deno pernah ke situ..
    walo cuma baru sekali…hehe..

  12. Dee NBL Thursday, 4 September, 2008 at 07:50

    Ass, Salam kenal dari saya

  13. Dee NBL Thursday, 4 September, 2008 at 08:32

    Aku telah membaca tulisan mu,
    Tulisan ini mengingatkanku tentang seseorang
    Makasih ya,

    aku ingin sekali melihat keindahan alam maninjau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: