Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Film Ayat-Ayat Cinta Itu…

Fyuuuhhh… Tiada hari tanpa tugas… Cape badan, cape pikiran… Blog ini rada terbengkalai. Minggu ini bakal jadi minggu yang sibuk. Sedikitnya tiga deadline tugas buat Senin ini. Trus, ikut penampilan UKM juga. Maklumlah, dah lama ga nari. Kangen. Lagian kabarnya ini penampilan terakhir di kepengurusan UKM yang sekarang.

Lho? Kok jadi OOT ya, ga sesuai sama judul…

Hmm… Yah, kalo dengar ada yang sebut film Ayat-Ayat Cinta (AAC), komentar orang sebagian besar adalah komentar negatif. Misalnya saja:

1. Orang yang udah baca novelnya, tapi belum nonton ‘versi .avi-nya’

  • “Novelnya mah bagus banget. Kalo filmnya, pati ga sesuai sama novelnya. Pasti bakal ngecewain. Film sekelas Harry Potter aja masih belum bisa menandingi novelnya, apalagi film buatan Indonesia.”
  • “Yah, yang bikin filmnya emang udah berjuang keras, tapi masih pesimis filmnya bakal bagus”
  • “Yakin banget kalo filmnya ga bakal sebagus novelnya.”

2. Orang yang belum baca novelnya, tapi udah nonton ‘versi .avi-nya’

  • “Ya walau belum baca novelnya, kecewa. Filmnya ga sebagus yang dibayangkan.”
  • “Akting pemainnya ga bagus. Ga cocok…”

3. Orang yang udah baca novelnya dan udah nonton ‘versi .avi-nya’

  • “Filmnya jelek. Ceritanya beda jauh. Dah kaya cerita percintaan biasa. Kecewa.”
  • “Filmnya ga sebagus novelnya. Banyak bagian yang dihilangkan. Ceritanya juga kurang jelas. Bagian akhir kok kayanya agak beda ya sama yang di novel? Kayanya udah ditambah-tambahin deh…”
  • “Ah, pemainnya cuma modal nama ya? Ga cocok banget meranin tokoh-tokoh AAC.”

Hmm… Kalau aku siy, termasuk kategori 3, tapi aku berpendapat lain. Entah kenapa dari awal aku ga suka aja berpikir negatif tentang film ini. Saat orang bilang “ah, pasti ga bakal sebagus novelnya”, aku cuma berpikir “ntar pengen nonton deh…”. Setelah membaca kisah di balik pembuatan film AAC, entah kenapa aku malah jadi penasaran melihat hasil perjuangan tim pembuat film ini.

Setelah menonton ‘versi .avi-nya’… Hmm… Aku bukan pengamat film yang baik. Aku cuma melihat film dari sisi cerita dan makna di baliknya, terlepas dari hal lainnya.

Aku coba berpendapat. Ya, memang benar kok, film ini tidak sebagus novelnya, toh sutradara filmnya sendiri mengakui hal itu. Benar juga, banyak hal di novel yang tidak ditampilkan pada film ini. Tapi aku rasa wajar saja. Kita butuh berapa lama siy untuk baca novel? Bandingkan dengan durasi filmnya. Tiap adegan menurutku serasa dikejar-kejar, dialognya jadi singkat-singkat aja, masalah durasi mungkin ya, jadilah ceritanya kurang jelas digambarkan. Mungkin karena ini juga ada orang yang bilang ‘feel-nya ga dapet’. Akting pemainnya tidak terlalu bagus? Ya, menurutku ada benarnya. Akting sebagian pemain memang masih terlihat kaku. Tapi wajarlah. Berat juga kali memerankan seorang tokoh yang digambarkan sempurna di novelnya.

Apa lagi ya? Bagaimana pun, aku tetap penasaran dengan versi bioskop-nya. Pati ada yang beda dari ‘versi .avi-nya’. Bagaimanapun filmnya, aku cuma memandang, film ini layak untuk dihargai. Menghargai kalau ada yang mau membuat film dengan cerita yang beda dari film-film Indonesia yang beredar sekarang. Menghargai kalau ternyata di balik tayangnya film ini di bioskop banyak rintangan yang telah berhasil mereka lalui.

Ah, harusnya redaksi postingan ini ga kaya gini… Intinya, aku cuma mau menyampaikan pendapatku… Ya sudahlah ya… Yang jelas akhirnya aku bisa posting, hehe…

Perfilman Indonesia… Hmm… Film AAC mungkin memang tidak bagus. Tapi apakah film itu memang segitu jeleknya jika kita bandingkan dengan film-film horor sampah yang akan beredar beberapa waktu ke depan di bioskop Indonesia? Kayanya masih mendingan AAC deh… Tonton aja filmnya, tapi ga usah bawa-bawa novelnya dalam pikiran. Nikmati filmnya sebagai film, bukan sebagai novel yang dijadikan film. Paling ga ini membantu membuang jauh pikiran buruk itu🙂 Besok kan premiernya?

26 responses to “Film Ayat-Ayat Cinta Itu…

  1. thewhiteglasses Wednesday, 27 February, 2008 at 21:05

    whew…
    pengen nonton dah jadinya

    apa premier aja ya?
    hehehe

    tapi kayaknya klo udah keluar di bioskop,
    perlu ditambah 2 kategori lagi tuh
    4.Orang yang udah baca novelnya, tak nonton ‘versi .avi-nya’ dan udah nonton versi bioskop nya
    5.Orang yang udah baca novelnya, udah nonton ‘versi .avi-nya’ dan udah nonton versi bioskop nya

    o iya
    ada tu lagi
    6.Orang sama sekali ga tau apa itu AAC (naon?)

    hehehehe

  2. catra Wednesday, 27 February, 2008 at 21:27

    halo Uni,,,

    emang sih, kebanyakan imajinasi kita sewaktu membaca novel tidak sesuai dengan visualisasi yg dibuat sutradara, tapi bagi catra hal ini sungguh menarik karena kita bisa membandingkan interpretasi kita dengan sutradara.

    Film nya udah keluar, tapi ga tw bisa nontonnya kapan…

    hhuhhh…

  3. Oscar Wednesday, 27 February, 2008 at 22:44

    Kalo aku sih gak terlalu ambil pusing dengan bagus tidaknya film, tapi kalo aku berusaha lebih melihat bahwa sebenarnya ada makna-makna moral di film yang dapat menjadi semacam pelajaran bagi kita di dalam kehidupan ini. Misalnya ketika tokoh utamanya (duh..kok lupa sapa tuh namanya) menangis di penjara, kemudian oleh teman satu penjara ia diingatkan bahwa Allah sedang berbicara kepadamu…bersabarlah dan ikhlas…itulah Islam. Sebuah pernyataan yang kalo diresapi sungguh sangat menyentuh, paling tidak itu yang aku rasakan. Sampai-sampai aku terdorong untuk menulis ini di blog ku (silahkan kalo mo mampir ke : idhea.co.cc, tapi masih rada ‘sepi’ nih, maklum masih baru). Dan masih banyak lagi hal-hal positif yang bisa kita ambil dari film ini, sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya sehingga kita bisa mengambil manfaat positif dari film ini.

  4. m4rino Thursday, 28 February, 2008 at 08:45

    Yah, kalo ekspektasinya bakal sebagus novel sih susah….
    So far, film based on novel yang bisa nyaingin novelnya itu cuma LOTR deh,
    yang lain, walaupun bagus, tetep masih kalah sama novel.

    Pengen nonton…..
    Kapan y….
    Udah sengaja ga nonton .avi nya nih

  5. Zakka Fauzan Muhammad Thursday, 28 February, 2008 at 09:17

    Hmmm, premiernya udah lama kalo di Jakarta… Di Bandung pun sejak Sabtu (23 02 08) dah ada, tapi masih midnight…

    Dan sepertinya premiernya tidak hari ini (28 02 08), karena kemarin saya udah nonton juga😀

  6. udhee Thursday, 28 February, 2008 at 10:34

    wah, kalo gw gak termasuk dari 3 kategori di atas. Menurut gw, filmnya bagus banget, dan cukup mengena. Malah gw pengen nonton sekali lagi… apalagi musiknya itu lho… pas banget… two thumbs up buat film ini (kalo menurut gw yaaaaa…).

  7. reiSHA Thursday, 28 February, 2008 at 10:51

    @thewhiteglasses: Hihi… Nambah ya kategorinya… Dikau mau masuk kategori yang mana?

    @catra: Wess… Nyasar ke sini si Catra… So pasti itu. Imajinasi pembaca vs. gambaran sutradara. Imajinasi tiap pembaca pun bisa berbeda-beda….

    @Oscar: Setuju…

    @m4rino: Kapan ya? Kapan-kapan… Hehe…

    @Zakka Fauzan Muhammad: Oh, gitu ya?

    @udhee: Hoo… Two thumbs up juga deh buat udhee… Termasuk populasi yang cukup langka, hehe…

  8. anis_ka Thursday, 28 February, 2008 at 10:56

    saya masuk kategori ke-3… iya mang bener siy dibanding film Indonesia yang lainnya, ini masih “mending” karena bernafaskan hal-hal yang “baik”. tapi satu hal yang saya sayangkan esensi utama yang seharusnya bisa diambil dari novelnya tak tersentuh di film-nya. menurut saya sih walau penuh keterbatasan, yaaa tujuan utama tetep harus berusaha dicapai, dan bukannya menghilangkannya sama sekali😛
    jadi kepikiran klo saya jadi penulisnya, saya pasti sedih jika apa yang saya tulis diinterpretasikan lain oleh orang lain karena nonton film based on tulisan saya tanpa membaca tulisan saya.
    saya juga agak sedih sih karena di mata saya kok orang2 perfilm-an di Indonesia tuh kok keknya nggak PD gt klo bikin film diluar “film Indonesia yang biasa” padahal menurut saya film2nya Dedi Mizwar yang menurut saya “diluar” dari “film2 Indonesia yang biasa” justru disambut dengan luar biasa kan?
    tapi saya tetep yakin (dan berusaha meyakinkan diri saya) kok diliat dari sisi negatif atau positif, film ini bisa membawa banyak hikmah. dan keep on hoping klo nasib pemeran2 film itu bisa sebaik pemeran Umar Mukhtar di film Lion on The Desert yang akhirnya masuk Islam karena memainkan peran itu.
    (ya ampun panjang bener nis? ini sih bikin postingan baru… hehe :p gpp ya, lagian dah lama nggak ngasih komen ke Sha :P)

  9. taufik Thursday, 28 February, 2008 at 19:31

    setuju lah sama SHa, daripada nnton film horor SAMPAH (ga bs ngasih garis tengah y?:P), mendingan nnton ini.bahkan film horor bukan lg sampah yg layaknya dibuang, tp racun!, yg merusak masyarakat, pembodohan manusia, merusak akidah!, berapa banyak anak2 yg takut kalau mau kebelakang?pingin dianter terus? bahkan bukan anak2 lg tapi….,tolong dong para sutradata, ikt cerdaskan bangsa, hasil karya anda dilihat banyak org, kl bagus akan jadi pahala buat anda, tp kl merusak…tau lah gmn…
    (ups jadi marah2 disini, siapa jg sutradara yg ngebaca disini hee..punten, Astaghfirulloh..)

    btw, melihat kisah balik pembuatannya, salut deh..Three thumbs up..😀
    -yg blm atau GA nnton.. (msh kbayang indahnya novel)
    tp melihat postingan SHA dan udhee jd pnasaran..tp males kl g ada yg ngajak (as always :D)
    @SHa:tampak lebih bijak menilai
    @udhee:musiknya gmn mmg??
    @anis_ka:wah pemeran Umar Mukhtar di film Lion on The Desert akhirnya masuk Islam??
    film perjuangan yg mengesankan mmg..
    dah ah kpanjangan.. :peace:

  10. ibun Sunday, 2 March, 2008 at 15:50

    Hoo.. Gw termasuk orang yang belum baca novelnya…

    Setelah nonton.. Gw langsung pengen sms sha.. Trus akhirnya salah ngirim malah ke orang lain, haha… Parah2..

    Ayo sha, semangat… Bentar lagi pensiun kan.. Tari keyboard udah ada di depan mata tuh…

  11. rani! Sunday, 2 March, 2008 at 17:06

    hmm…
    termasuk kategori ke3…
    jalan cerita terlalu cepet jelas…
    yang disayangkan itu, ada perubahan-perubahan yang justru seharusnya ga diubah…

  12. rickisaputra Monday, 3 March, 2008 at 11:57

    wajar saja bila sebuah film yang diangkat dari cerita novel tidak akan persis sama dengan redaksi yang ada di bukunya…
    karena memvisualisasikan sesuatu tentunya akan lebih sulit.. apalagi divisualisasikan oleh orang yang bukan mengarang tulisan itu secara langsung..
    selain itu, cerita yang hinggap di pikiran orang yang membaca tulisan itu tentu akan berbeda di tiap-tipa kepala orang..
    so, sudah wajar saja bila film itu akan sulit untuk bisa memuaskan opini/harapan semua orang..

    at least, film itu bisa meramaikan suasana per-film-an Indonesia…🙂

  13. Widya Monday, 3 March, 2008 at 12:02

    menurut daku siy sha, film ini merupakan satu dari sedikit sekali film indonesia yang bener-bener bermutu. Mas hanung dkk sudah cukup sukses mengangkat isi novel yang tergolong ‘berat’ menjadi sebuah film yang tak kalah bermaknanya … Pokoke two thumbs up lah buat niy film …

    Btw, klo ga salah versi avi yang beredar sebelum premiernya, merupakan versi masih mentah dari film AAC. Jadi masih banyak yang belum dibenerin. Mas Hanung sendiri sudah menjabarkan dengan cukup detail di sini. Jadi, pasti ga akan sepuas nonton di bioskop ^_^

  14. rozyee Monday, 3 March, 2008 at 19:18

    Aku termasuk yang mana ya…???
    Kayaknya aku no 2 dech, lom baca novelnya tapi udah liat ‘.avi’ nya

    Nurutku nggak jelek2 amat..Apa aku yang nggak ngerti cara meng-apresiasi film ya?..entahlah…:D
    Terlepas dari semua kontroversi yang tersebar di masyarakat, film ituh layak dihargai,…toh setelah beredar versi ‘.avi’nya masih banyak yang nonton …tiket2 di bioskop Surabaya pada abis..kata koran sih…
    Malahan waktu di Graha ITS ngundang sang pengarang -‘Habiburrahman…..’-, banyak banget yang datang…..hehehhee…

    Terlebih, dari sekian banyak film indonesia yang ‘nggilani’-film horror- yang nggak jelas…mending film kayak gini-AAC-…ya nggak..?

  15. alsasian Tuesday, 4 March, 2008 at 20:36

    mengecewakan? gw termasuk orang yang tidak terlalu berharap dari film adaptasi.. jadi yaaa its oke2 aja si.. tapi banyangannya beda jauh.. sebelum ntn filmnya, gw masi ngebayangin orang2nya biasa2 . Tapi pas liat filmnya.. kynya kegantengan deh.. hehe.. tul ga sa?

  16. Dhillah Friday, 7 March, 2008 at 10:18

    Aq termsuk no.3 dech!!!!

    Beda?? Banget!!!! Tapi it’s OK!! AAC bisa menang piala FFI,cz beda banget ma film2 yang lain,yang dikategorikan “sampah” itu tuh!!! Melihat keblgkng FFI dibrong oleh Nagabonar JAdi 2

    Tapi kita liat ntar,Novel Laskar Pelangi juga mo d’filmkn.Kita bandingin aja ngena mana AAC atw LP

  17. aisar Friday, 7 March, 2008 at 22:03

    Blom baca novelnya

    Aq ketiduran di tengah2 pas nonton AAC..
    Abis flownya ga jauh beda ma film2 cinta yg lain..
    Yah paling beda dikerudungin aja :p

    Tapi jadi pengen baca novelnya, setelah melihat segitu kecewanya yg udah baca hehe

  18. Sutan Rajo di Langik Wednesday, 12 March, 2008 at 14:20

    kalau aku, blm nonton ni film…

    kenapa???
    1. ga mau nonton fersi .avi nya, soale ini film indonesia. Kasihan orang kita udah cape2 bikin film, eh, malah enak2an nonton gratis di komputer rumah. Kalau film luar, beda lagi judulnya…
    2. karena ga mau nonton di rumah, pasti harus nonton di bioskop dong, nah masalahnya bulan ini lagi boke bgt……

    makanya blm nonton😦

  19. lou Friday, 14 March, 2008 at 17:08

    makanya itu gw gak nonton. sudah tahu lah dari iklan2 di tv, kalo masih tetep seperti itu, gimana bisa bagus film indonesia?? coba gw yang jadi sutradaranya,akan gw bikin film yang mengguncang dunia!!!!

  20. pakisbintaro Saturday, 15 March, 2008 at 14:36

    Assalamu’alaikum.
    Salam kenal. Main k blog punya organisasi saya yah d http://pakisbintaro.wordpress.com/. Thx. –Fahrizal di Bekasi–

  21. Aswin Juari Tuesday, 18 March, 2008 at 09:09

    Nyampah dikid. Saya ada di Golongan ke-6.

  22. M.Ray Tuesday, 18 March, 2008 at 09:36

    waah…..kalo saya mah, bagus novelnya lagi, biar sy gini2 kurang paham dgn agama, tapi nurani sy berkata bahwa novelnya lebih bagus dari filmnya, karena di novelnya nggak ada yg namanya si fahri ama si maria itu dua2an, ee….ternyata di film di bikin, trus novelnya cerita si maria udah meninggal ketika setelah bersaksi di pengadilan, dan maaf si fahri dan si maria blom pernah hidup serumah layaknya suami istri karena si maria keburu meninggal..ee..di filmnya dibikin si maria dan si aisya di madu dan disatukan dlm satu rumah dan si fahri ama si maria hidup layaknya suami istri hehe itukan tambahan sutradaranya mas hanung.

    tapi sy coba objektif aja, lebih mendingan daripada film2 murahan selama ini, lumayan MENGIGIT dan ada nuansa DAKWAHnya juga, contoh ketika si fahri nggak mau salama sama si Alicia. pokoke sy apresiasi aja deh, salut ama mas Hanung.

    oiya salam kenal mbak dari sy.

  23. andre Tuesday, 18 March, 2008 at 10:00

    kenapa???
    1. ga mau nonton fersi .avi nya, soale ini film indonesia. Kasihan orang kita udah cape2 bikin film, eh, malah enak2an nonton gratis di komputer rumah. Kalau film luar, beda lagi judulnya…

    @sutanrajodilangik:

    hmm… bukannya nanti klo udah tetep nonton di bioskop atw beli DVD/VCD nya bkal ga ngaruh ya..
    sebab kita tetap kontribusi ke sutradara/produsernya..

    tapi klo memang idealisnya spt itu, monggo saja…

    klo saya udh salah si, udah nonton avi yg 3 biji tp blum ada ‘kontribusi’ ke produsernya😀

  24. Sutan Rajo di Langik Tuesday, 18 March, 2008 at 11:28

    @andre… : sebenarnya ga ngerti juga sih.. Tapi lebih seru nonton di bioskop kali, aplagi kalau berdua ama si ehem… Langsung dilamar dah…😀

  25. imung murtiyoso Wednesday, 19 March, 2008 at 18:23

    Lam kenal ya mbak. Menurut saya, dibanding nonton film bertema hantu dan semua turunannya, ya lebih baik nonton ACC. Justru film setan kok nggak ada yang protes ya?

  26. Igun Thursday, 27 March, 2008 at 11:18

    Salam kenal.
    Ada sisi positif yang mungkin terlupa. Melalui AAC, ada ayat alquran yang terlantun di bioskop secara intensif hampir di seluruh Indonesia (jarang-jarang tuh).
    Memang fenomenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: