Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Sebuah Perjalanan

Awalnya ia hanya ingin mencoba menaiki kereta kuda itu
Ya, hanya sebuah kereta sederhana
Kontras dengan mobil-mobil yang selama ini dipakainya
Ia lalu menelusuri sebuah jalan
Jalan yang sangat lurus
Bahkan belum terlihat ujungnya di mana

Ah, ia mulai merasakan
Walau hanya dengan sebuah kereta
Perjalanan yang ditempuhnya terasa indah
Ia bisa leluasa memandang ke alam lepas
Pemandangan yang selama ini tidak ia perhatikan
Karena, dengan mobil ia hanya fokus pada jalan

Jarak yang ditempuhnya semakin panjang
Ia masih belum tahu
Kemanakah jalan yang ditempuhnya itu mengarah
Sampai akhirnya
Ia sampai di suatu titik
Yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya

Di sana ia berhenti sesaat
Takjub, itu yang ia rasakan
Alam terlihat begitu indah
Sulit dilukiskan dengan kata-kata

Ia mulai berpikir
Di bagian jalan yang lain
Pasti ada tempat yang lebih indah
Dibanding tempat ia berada saat ini
Ia pun memutuskan meneruskan perjalanan
Tapi, dari sinilah ia memulai sebuah kesalahan

Ia tidak tahu seperti apakah
Jalan yang akan ia telusuri berikutnya
Dalam pikirannya hanya ada bayangan
Akan tempat yang lebih indah lagi

Salah… Salah besar…
Kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan
Ternyata jalan berikutnya tidak semulus sebelumnya
Jalan itu berbatu-batu
Susah sekali untuk dilalui dengan kereta
Dan perjalanan memang tidak akan bisa diteruskan
Jika ia masih memaksakan melakukan perjalanan itu
Dengan kereta sederhana itu

Ah, ia memutuskan meninggalkan kereta itu
Berat sekali
Tidak ada alat transportasi lain yang bisa ia gunakan
Jalan kaki menjadi satu-satunya pilihan

Ya, ia meneruskan perjalanan
Dengan sepasang kakinya
Yang awalnya sangat berat untuk melangkah
Melalui pinggiran jalan yang tidak terlalu berbatu

Kini, ia semakin jauh dari tempat
Di mana ia meninggalkan sang kereta
Jalan yang sekarang ia tempuh juga sudah mulus lagi
Pengharapannyalah yang membuatnya terus melangkah
Harapan kalau nun jauh di sana
Masih ada tempat yang lebih indah

Ah, andai saja saat berada di tempat yang indah itu
Ia memutuskan untuk berhenti
Bukannya meneruskan perjalanan

Apa kabar sang kereta?
Ia tidak tahu
Tidak tahu
Kereta itu sebenarnya tidak ingin ditinggalkan sendiri
Tapi jika itu lebih baik bagi perjalanannya
Kereta hanya bisa menerima
Toh kereta itu juga tidak mau
Jika ia malah jadi hambatan

Akankah ia kembali?
Entahlah…
Yang jelas, kereta akan selalu berada
Di posisi di mana ia ditinggalkan

-sHa-

19 responses to “Sebuah Perjalanan

  1. ibun Sunday, 9 March, 2008 at 11:47

    Hooo.. akhirnya dipindahin juga dari tumblr. Lain kali kalo lagi mellow jangan bikin puisi, ngerangkai bunga juga bagus tuh, haha..

    Yang lalu biarlah berlalu.. Kalau kita ga bisa kembali ke kereta itu, semoga kita bisa dapet kereta yang lebih baik lagi..

    Oia, saran lagi.. Kalo ngerangkai bunga ga bisa, mending ngerangkai kata-kata untuk dokumen PPL.. Hehe..

  2. taufikr Sunday, 9 March, 2008 at 13:43

    daleeem…
    dalem bgt maknanya..

    ya itulah perjalanan kehidupan
    kadang indah, kadang pahit
    tp ia sudah tepat untuk memutuskan mencari tempat yg lebih indah
    karena memang benar tempat itu adanya
    hanya perlu petunjuk agar ia tidak salah mengambil jalan
    kalau perlu gantilah kereta itu..
    teruslah maju, sampai bertemu dengan ujung perjalanan..
    teruslah maju sHa..

    mudah2an nyambung..😛
    mode sotoy [on]
    tumben bkin puisi..melow??g jg, bgs buat renungan..
    *sperti pernah dalam mimpi..

  3. evan Sunday, 9 March, 2008 at 17:34

    tokoh utama : kereta malang (kasian banget nasibmu T_T)
    tokoh pembantu : si dia (wah,tega nian sih ninggalin si kereta)
    figuran : evan (ada kok,coba baca lagi, pas si dia lagi berhenti ngeliat pemandangan, evan lagi makan mie rebus di warung depan)
    hwehehe

    meski udah pindah dari tumblr ke wordpress
    aku tetep mo jadi kereta nya
    ^-^

    jadi ini menceritakan apa sih?
    meski sebagian bisa kutebak tapi tetep aja yang ‘asli’ nya ada ama kamu
    kutunggu cerita ‘asli’ nya

    NB: pesan buat kereta–>yang sabar aja ya, dia bakal balik kok, tapi entah dengan kereta yang baru lagi nantinya……

    regards
    EK Sani

  4. fisha17 Sunday, 9 March, 2008 at 18:51

    Tulisannya cakep. Tapi non aqyu bingung itu kereta apa? Kereta kuda, kereta api (gak mungkin), kereta dorong (troli) atau kereta bayi?🙂

  5. fisha17 Sunday, 9 March, 2008 at 18:56

    Eh teryata kereta kuda ding. Sori hi2. Jadi yang kasian kudanya ya ditinggal sendiri. *kabur ah*

  6. putry pp purwanti Monday, 10 March, 2008 at 09:46

    gimana klo keretanya aku selamatkan????lumayan untung tambahan uang saku,,hahaha

  7. Widya Monday, 10 March, 2008 at 20:42

    wah sha ..
    ada bakat terpendam juga rupanya😀

  8. reiSHA Tuesday, 11 March, 2008 at 10:23

    @ibun: Apa sih bun…

    @taufikr: Dalem ya maknanya? Hehe… Baguslah…

    @evan: Soal tokoh, kereta dan si dia itu tokoh utama. Kalo figuran, jelas, dirimu boong banget. Di jalan itu ga ada yang jualan mie rebus tau, adanya jualan lumpia basah (naon siy???). Yang penting dah ngerti kan ceritanya, hehe…

    @fisha17: Tulisannya cakep ya? Kaya yang bikin puisinya donk? Haha… [narsis ga jelas mode ON]

    @putry pp purwanti: Ckckck… Pemikiran yang aneh…

    @Widya: Kalau menurutku bukan bakat terpendam. Kayanya aku ga punya bakat dalam dunia perpuisian deh… Hehe… Itu cuma terbawa perasaan aja, n kebetulan suasananya pas… Maklum, [mellow mode ON] waktu itu…🙂

  9. anis Tuesday, 11 March, 2008 at 14:41

    ummm klo saya jadi “dia” sih saya lebih baik ngelepasin si kuda dari keretanya trus naik kuda… klo kuda kan bisa naik-turun di jalan terjal, lagian kasian kan klo kuda-nya ditinggal sendirian dengan kondisi terikat pada kereta, dia jadi susah mau ke mana-mana bahkan buat nyari makan…

    ato jangan-jangan saya terlalu berasumsi ya sHa ttg keadaan si kuda, si dia dan kereta… makanya lain kali bikin I.S. ma F.S.-nya dulu sebelum bikin puisi :p (huaaa ya mana ada yang seperti itu…)

    weh emang kapan sHa bawa mellow? (“w”-nya dirotasi 180 derajat pake tugas grafika)

  10. Sutan Rajo di Langik Wednesday, 12 March, 2008 at 14:30

    akahahahahahaha
    akhirnya……😀

    tapi aspa kamsudnya?????

  11. KnightDNA Thursday, 13 March, 2008 at 21:23

    Karakter dan tipologi puisimu terpengaruh Khalil Jibbran (Kahlil Gibran). Ntahvava… -_- sebaiknya kalo orang baca puisi kamu, orang udah langsung tahu, oo… itu puisi bikinannya si Reisha.

  12. reiSHA Friday, 14 March, 2008 at 13:12

    @anis: Yah, kereta kuda itu dianggap satu kesatuan dalam puisi itu, jadi ga boleh dipisah…

    @Sutan Rajo di Langik: Mau tau aja kamu mah aspa kamsudnya…

    @KnightDNA: Terpengaruh? Aku aja ga pernah baca puisinya Kahlil Gibran, gimana caranya bisa terpengaruh? Kebetulan aja kali. Emang perlu ya ada ciri khas sendiri dalam puisi yang dibikin? Hmm… Lagian aku juga ga hobi nulis puisi…

  13. penunggangkuda Friday, 14 March, 2008 at 13:29

    Aslkm….

    waaah….muantab puisinya, reiSHA bisa juga yah jadi pujangga…hehe

    baa kaba nyo kini sha, lai sehat-sehat se? moga sehat2 slalu.

  14. penunggangkuda Friday, 14 March, 2008 at 13:34

    perjalanannya memang sangat panjang
    onak dan duri tentu menjadi penghalang
    namun kesabaran dan tekad harus hilang
    karena di depan ada harapan yang gemilang…………

  15. anis Friday, 14 March, 2008 at 16:19

    @reiSHA: hooo gt ya? baru tahu klo kereta ma kuda bisa nyatu, maaf nih rasanya saya akhir-akhir ini jadi kehilangan “rasa” seni

    @KnightDNA: ummm walau saya baru baca sedikit tulisan Kahlil Gibran, dan mungkin saya emang udah kehilangan “rasa” seni saya, tapi dalam penilaian saya, puisinya Sha nggak mirip apalagi sama ma karakter yang dibangun sama Kahlil Gibran. Klo masalah bentuk mungkin ya, tapi untuk “nilai rasa”, saya pikir masih sangat jauh berbeda. Ummm mungkin ini hanya pendapat yang sangat kasuistis dan personal ya…🙂 Allahu’alam

  16. M.Ray Tuesday, 18 March, 2008 at 09:39

    ini puisi ato ungkapan hati ya mbak?

    bagus juga…hehe

    salam kenal mbak

  17. subhan dani Friday, 4 April, 2008 at 10:11

    puisi nya bagus n q leh knl kn itung2 blajar buat puisi n q jg suka buat puisi tapi g sebagus puisi km?
    intinya diatas langit masih ada langit n jika kita ada diatas langit jangan lupa untuk menoleh ke bumi sebagai kenangan atu sebagai peljaran untuk menenpuh cobaan selanjutnya!.gitu kan tupun klo benar…hehehehehehehehehehehehe

  18. gama Friday, 18 April, 2008 at 00:32

    i like reading this, tapi tadi sore keretanya beneran ada di sini!

  19. joelian Tuesday, 7 September, 2010 at 07:33

    harusnya balik naek kereta ke rumah lagi trus ganti jadi naek mobilnya.. :p,

    baru baca, setelah posting linknya di tumblr.. hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: