Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Salahkah Bila Cita-Cita Itu Tidak Setinggi Langit?

Panggilannya Fani, sekarang akan duduk di kelas 3 SMA. Adikku yang perempuan. Kalau bertemu dengannya, coba tanya ke dia apa cita-citanya. Sampai sejauh ini, yang aku tahu, dia akan menjawab, ingin jadi guru SD. Hmm… Apa yang terpikir olehmu ketika mendengar jawaban itu? ‘Heh, jadi guru? Guru SD pula?’. ‘Rendah banget cita-citanya’. Apalagi ya?

Jangankan orang luar, di rumahku saja, jika ada pembicaraan seputar cita-citanya ini, dialognya tidak akan jauh-jauh dari skenario seperti ini. (Langsung terjemahan Indonesia-nya saja ya, hehe…)

Mama : Tamat SMA jadinya mau masuk ke mana?
Fani : PGSD. Kan mau jadi guru SD.
Nenek : Rendah banget cita-citamu.
Fani : Biarin. Itu ga rendah kali nek. Nenek tahu ga, justru jadi guru SD itu pahalanya gede. Guru SD tu lebih dahulu masuk surga dibanding yang lain. Bayangkan saja nek, orang yang awalnya ga tau apa-apa akhirnya jadi punya pengetahuan.

Kira-kira seperti itu. Aslinya lebih seru dan lebih menggebu-gebu dari itu, haha…

Tentunya kalimat perlawanan dari adikku itu (aku anggap perlawanan karena biasanya perang mulut Fani vs. Nenek akan berlangsung sengit, hehe…) tidak sepenuhnya benar, toh rasanya di akhirat tidak ada aturan guru SD masuk surga duluan, hehe. Tapi rasanya ia juga tidak salah kalau menjadi guru itu pahalanya besar. Yang akan menolong kita di alam kubur nanti hanyalah shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shaleh yang selalu mendoakan kan? Satu poin, ilmu yang bermanfaat, bisa mewakili guru kan?

Sebenarnya keluargaku tidak terlalu mempermasalahkan sih, termasuk nenek. Dialog di atas mungkin suatu dialog untuk memastikan keteguhan hati adikku itu akan cita-citanya (duh, bahasanya…). Lalu, masalahnya apa? Hmm…

Peribahasan berkata, “gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Apakah definisi ‘setinggi langit’ di sini? Apakah cita-cita setinggi langit itu berarti bercita-cita menjadi, hmm… yaa… apapunlah profesinya, yang penting dapat memberikan penghasilan yang besar? Jadi pengusaha, bekerja di perusahaan asing? Apakah dengan bercita-cita menjadi guru, terlebih lagi guru SD, itu berarti tidak memiliki cita-cita setinggi bintang di langit? Jika iya, salahkah?

Aku mengerti sekali mengapa cita-cita jadi guru itu dianggap rendah, atau dalam kalimat lain, mengapa jarang sekali ada anak yang bercita-cita menjadi guru. Orang tuaku keduanya guru, aku mengerti seperti apa kehidupan guru di negeri kita ini. Gaji minim, hidup pas-pasan, kudu cari kerjaan sampingan jika ingin punya penghasilan lebih, berhutang di beberapa tempat sampai-sampai gajinya mencapai angka minus karena dipotong untuk cicilan, dan sebagainya; mungkin seperti itu kali ya image seorang guru. Mungkin itu benar adanya, tapi juga tidak senantiasa seperti itu. Jika nama adalah doa, apakah julukan ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu sudah jadi doa? Guru tidak memerlukan tanda jasa yang pantas?

Begitulah jika anggaran pendidikan begitu rendah. Masalah pendidikan yang kualitasnya makin menurun akan terus ada. Bayangkan saja. Langka orang yang bercita-cita jadi guru. Lalu siapa yang akan menjadi guru? Biasanya orang-orang yang tidak berminat jadi guru, tapi karena kemampuan akademiknya pas-pasan, jadilah jurusan pendidikan guru menjadi pilihannya. Bisa dilihat kan, passing grade jurusan itu biasanya tidak terlalu tinggi. Jadilah orang-orang tadi menjalani pendidikannya, sampai akhirnya jadi guru. Setelah jadi guru, ia tidak terlalu serius menjalani profesinya. Akibatnya, entah seperti apa jadinya anak didiknya. Imajinasi yang berlebihan ya? Hehe…

Entahlah. Aku bingung saja, kenapa kalau ada orang yang cita-citanya ‘tidak setinggi langit’ itu, yang ribut justru orang lain. Kenapa ya?

Aku sendiri kalau ditanya soal cita-cita, yaa, aku belum memiliki gambaran yang jelas sih soal masa depanku. Baru kebayang, lanjut pendidikan S2, mungkin juga S3, nantinya jadi dosen. Kenapa? Hmm… Aku rasanya tidak cocok kerja kantoran (perasaan selama KP, hehe…). Malas saja berangkat pagi-pagi, pulang menjelang malam, kerjanya seharian di tempat yang sama. Bosan. Aku tidak mau waktuku tersita untuk kerja melulu. Apalagi kalau nanti sudah berkeluarga, masa iya nanti anak-anak dekatnya sama pengasuhnya. (Hihi, lucu deh kalau udah ngebayangin sampai sini…).

Mungkin ada sedikit imbas dari kata-kata nenek dan mamaku juga. Menurut mereka, profesi yang cocok untuk perempuan itu, kalau tidak dokter, ya guru. Dulu keluargaku inginnya aku jadi dokter, terus kalau lanjut ke dokter spesialis, saran mereka ambil spesialis kandungan. Tapi aku tidak mau jadi dokter. Alasannya sederhana, aku malas kalau harus menghapalkan isi buku-buku kedokteran yang tebalnya luar biasa itu, hehe…

Aha, dengan jawabanku seperti itu, paling tidak minimal ada satu orang yang akan berkomentar seperti ini. “Ya kalau pendidikan tinggi kaya gitu, ujung-ujungnya ya jadi dosen. Orang tuanya guru, anaknya paling tinggi jadi dosen”. Jadi dosen saja dikomentari seperti itu, apalagi jadi guru. Yaa, itu terserah si pemberi komentar. Aku cuma bisa menanggapi dengan satu pertanyaan: Apa itu salah?

30 responses to “Salahkah Bila Cita-Cita Itu Tidak Setinggi Langit?

  1. Petra Barus Monday, 7 July, 2008 at 10:24

    wah Sha,,,,,
    sama dong…. gw juga ada keinginan mau jadi dosen di IF

    bisa bareng-bareng dong kita ^_^

  2. restya Monday, 7 July, 2008 at 10:46

    sama juga cita2nya… Dosen
    tapi sebelumnya mw ngerasain kerja di industri dulu

  3. halim Monday, 7 July, 2008 at 11:36

    ya begitulah k’lo harta sudah dijadikan parameter kesuksessan seseorang, padahal yang namanya ilmu itu lebih bernilai dari apapun

  4. anis Monday, 7 July, 2008 at 12:38

    cita-cita setinggi langit menurut saya bukan berarti untuk mendapat sebuah pekerjaan di “lahan basah”, bukan untuk mendapat jabatan tinggi, bukan untuk mendapatkan segala kemudahan dunia… bagi saya sebuah pekerjaan adalah mulia ketika niatnya agar diri bisa bermanfaat (sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain).

    dan sungguh, saya sendiri malu sama dik fani yang sudah punya “tujuan” dengan profesi yang akan digelutinya. sesuatu yang saya nggak punya, tujuan profesi….

    cuma yah, sayangnya paradigma sukses di mata kebanyakan orang masih bertolak dari hal-hal yang kasat mata. padahal ketika kita mencintai pekerjaan kita, dan dengannya kita bisa mendapat ridha-Nya, itu jauh lebih berharga…. Allahu’alam

    *tumben serius ngasih komennya :D*

  5. evan Monday, 7 July, 2008 at 14:27

    asal jangan “gantungkan mimpimu setinggi langit-langit”
    hehehehe

    guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
    tapi bukan berarti ga ada balas jasa kan?
    mw makan apa guru Indonesia ini?

    hormatku untuk guru

    (lagi males serius)😛

  6. ghifar Monday, 7 July, 2008 at 15:18

    Salut sama adikmu Sha! Sedari dini dah punya tujuan mulia…

    Wah, alhamdulillah, ternyata masih ada yang pengen jadi guru (lihat ini: http://ghifar.wordpress.com/2008/07/05/jatuh-cinta-dengan-%E2%80%A6%E2%80%A6-bahagia-rasanya/)

    insyaAllah suatu saat nanti adikmu bakal berbuat banyak untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Kapan lagi ada orang yang punya cita-cita mulia kayak adikmu.🙂 Apalagi ngeliat jaman sekarang bahwa banyak pendidik yang “terpaksa” jadi pendidik. Kapan mo majunya pendidikan kita…he eh

    So, klo menurutku pribadi, jadiinlah cita-cita menjadi pendidik itu sebagai “misi”, bukan hanya sekadar “profesi”. Profesi boleh apa aja (asal halal tentunya🙂 ), tapi “mendidik”-lah yang tetep menjadi misi kita. Jadi ga ada alasan lagi klo menjadi guru bakal hidup kurang sejahtera dari segi materi. Hmm, aku punya cita-cita di masa depan nnt bakal ngebuat para pemuja “lahan basah” (ngutip dari anis ;p) tersebut sadar akan pandangan mereka yang “rendah” itu karena ngeliat para guru memiliki kesejahteraan di atas mereka, fiuh.. (maaf, agak sedikit emosi dengan para pemuja “lahan basah”)

  7. bonsall Monday, 7 July, 2008 at 15:55

    Seandainya gw ‘seberani’ adeklo, sha.. tapi gapapalah, Allah punya rencana yg lebih tinggi dari cita2 gw itu..

  8. ray rizaldy Tuesday, 8 July, 2008 at 09:30

    wui, salut sama adek dikau sha. menurut daku cita2nya udah tinggi banget. tinggi dan luhur…

  9. Koko Tuesday, 8 July, 2008 at 12:13

    Waduh jadi inget iklan…

    mau jadi apa?
    Guru sd?
    tinggian..
    GUURRUU SSSDDD… (dengan suara meninggi)

    gantungkan cita-cita setinggi langit, biar saat kamu gagal, kamu paling tidak berada di antara bintang..

  10. ismailfaruqi Tuesday, 8 July, 2008 at 13:03

    Apa judulnya yang salah???

  11. Catra Tuesday, 8 July, 2008 at 13:45

    kenapa ya menjadi guru SD tidak menjadi sesuatu hal yang luar biasa sekarang????

  12. surya Tuesday, 8 July, 2008 at 15:03

    hmm… mayan ad bacaan pas lagi ngantuk2 gini (Syndrom KP : Kebosanan di Kantor)

    Kalo kata aku sih yak, yg dimaksud cita-cita setinggi langit itu cita-cita yg benar2 km inginin.
    Soalnya klo mengukur suatu tingginya cita-cita dari parameter kayak kesuksesan, posisi, dll kan bakal relatif.

    Lagipula klo dipikir2 maksud dr “cita-cita setinggi langit” biar melakukan segala sesuatu untuk mencapai cita2 itu semaksimal mgkn walaupun cita-cita yang diharapkan klo didalam tatanan masyarakat berada di tingkat rendah.

    So, apapun cita-cita mu perjuangkan sampai titik darah penghabisan

    NB : Sry klo rada2 kyk ngelantur… maklumlah namanya juga lagi teler gara2 kebosanan😀

  13. Brahmasta Wednesday, 9 July, 2008 at 07:55

    Lakukan apa yang kamu cintai. Itu saja😀

  14. alvaro203 Wednesday, 9 July, 2008 at 10:52

    Juga lakukan untuk semua yang kamu cintai… Dan ingat jangan egois…

  15. p3durungan Wednesday, 9 July, 2008 at 11:08

    Mau jadi guru SD? hal yang luar biasa? bisa ya bisa tidak. Luar biasa karena berani memutuskan untuk menjalani sesuatu yang sulit, gaji rendah, tunjangan kurang de el el de es be

  16. dewantika Wednesday, 9 July, 2008 at 12:24

    idem sama anis😀

  17. anggriawan Wednesday, 9 July, 2008 at 18:03

    hm.. sy pikir, guru TK & SD itu lebih penting daripada dosen ITB loh..
    kenapa? karena mereka bisa membentuk karakter seseorang..
    nilai-nilai yang diperoleh semasa kecil seseorang bisa sangat berpengaruh ke seumur hidup orang tsb..

  18. [PaW] Wednesday, 9 July, 2008 at 20:57

    wah, salut.. jujur aja, dari dulu ga kepikiran mau jadi guru. hehe..

    cita-cita setinggi langit itu kan cuman kiasan, ya kita pandang aja bahwa ‘langit’ di sini bervariasi ‘bentuk’-nya di setiap orang.

    yang salah? yg salah adalah pola pikir dan cara pandang bangsa ini yang seperti sekarang aja bentuknya. kacang lupa kulitnya.

  19. btyop Thursday, 10 July, 2008 at 13:15

    Kalimat “cita-cita setinggi langit” pada dasarnya hanya untuk mendorong kita untuk meraih cita-cita yang diinginkan.

    Klo menurut gw sih kenapa “langit” karena tidak cuma tinggi, tetapi luas. Cita-cita yang tinggi ga cuma satu atau beberapa saja tetapi banyak. Tingginya cita-cita bukan dari profesi sebagai “entitas” cita-cita, tetapi makna di dalam mengapa menginginkan cita-cita tersebut.

    Duh, ngomong apa sih gw? ga jelas >_<

    Yang pasti setuju sama bram, “lakukan apa yang kamu cintai”. Tapi jangan lupa dikasi batasan ya😀

  20. Anis juga :-) Thursday, 10 July, 2008 at 16:08

    Kunjungan balasan. Makasih udah mampir ke blog aku.🙂

  21. Petra Barus Monday, 14 July, 2008 at 00:14

    yah yang penting jangan terlalu dengerin kata orang lah

  22. Tom Abbe Monday, 14 July, 2008 at 12:21

    dulu aku juga cita2 jadi guru…….cita2 mulia lho…..

  23. ibrahim Wednesday, 16 July, 2008 at 00:46

    terima kasih resha saya juga mau ingin citacita S2 dan S3 kemudian menikah.

  24. harimaubelang Wednesday, 16 July, 2008 at 12:31

    kalau saya sih pingin jadi dosen jail😀
    hahahhaha
    becanda,,

    saya cenderung setuju dengan Bram, lakukanlah yang kamu cintai
    sempat terpikir juga untuk jadi guru bahasa indonesia SMA
    alasannya?
    hmmm, jarang dalam pelajaran bhs indo SMA tentang tafsir sastra dan puisi.. kebanyakan bahas soal SPMB

  25. paculz Thursday, 17 July, 2008 at 12:52

    Mulia sekali cita-cita adikmu yah….
    Dosen belum tentu lebih baik dari guru SD kecuali dari sisi financial.

    Tergantung pola pikir sih…
    Klo semuanya dinilai dengan materi…yah..memang bagusan dosen.

    Jadi inget lagunya saujana “Terima kasih guru”.

    Tapi apapun profesinya, kita adalah da’i.
    Yang harus selalu menyampaikan kebenaran serta menangkis kebathilan…

  26. shi3nzzz Thursday, 17 July, 2008 at 15:51

    gw sempet ada terbersit sdikit utk jd guru *sedikiiiiiit bgt loh* haha.. soalna pgn ngerasain ngliat murid2nya deg2an, ntah deg2an gara2 mo ulangan, mo tes nyanyi.. hehe.. pas aku jd murid, aku deg2an bgt klo disuru nyanyi soalna.. trs melirik ke arah bapak guru, *enak bgt sih tinggal maen tunjuk aja gitu.. -_- hehe..

    @oon : trs knp mesti SMA? hahahaa..

  27. Yudha P Sunandar Friday, 18 July, 2008 at 03:35

    ademu polos, yah?😀
    klo ngak ada beban hidup, aku juga pengen nyebutin cita2 dengan senang hati kayak gitu.
    bahagia rasanya kalo hidup melakukan apa yang kita senangi…

  28. ozenk Friday, 25 July, 2008 at 09:45

    ups…mampir sebentar,,,

    cita cita sech seharusnya setinggi bulan kali,, klo jatuh kan sial-sialnya masih setinggi langit…

    tapi gw kira mulia sekali klo jadi guru…

  29. ŝoliter Monday, 11 August, 2008 at 18:41

    imho, profesi bukan ukuran kemuliaan.

  30. Pingback: Mimbar Jum'at

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: