Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Menghadapi Diri Sendiri

Teringat adegan di Nodame Cantabille Special Lesson 1.

Nodame: Human beings grow bigger after experiencing defeat, you know. Just like Nodame! Nnng?
Chiaki: You! What did you actually come here for??
Nodame: I’m sending you cheering yells…
Chiaki: What cheering yells?! You’re adding salts to my wounds! In fact you’re thinking I was defeated, right?
Nodame: I’m not thinking that you were defeated by Jean!
Chiaki: I don’t think that I was defeated by Jean either! I was defeated by… myself…

By myself. Itu dia. Seringkali kita kecewa dan dikalahkan, justru oleh diri kita sendiri, bukan oleh orang lain. Makin lama aku makin menyadari hal ini. Butuh perjuangan untuk menghadapi diri sendiri, diri sendiri yang kadang begitu kompleks, bahkan kadang justru tidak aku kenali. Hmm… Aneh kah? Sepertinya tidak, karena aku yakin bukan hanya aku sendiri yang seperti itu, hehe…

Sejak kuliah, mulai menjalani hidup sendiri jauh dari keluarga, aku mulai memahami, ke arah mana hidup itu harus dibawa, tergantung pada diri kita sendiri. Mau kuliah yang benar silakan, mau hura-hura sok wae, mau jadi orang yang ga bener monggo. Toh hidup itu adalah pilihan, dan tentunya kita sendiri yang harus memilih.

Duh, kok asa ga nyambung ya sama judul? Hehe… Teringat waktu berkunjung ke SMA, terus disuruh Pak KepSek untuk masuk ke kelas. Ada pertanyaan yang diajukan padaku, tapi aku lupa pertanyaannya seperti apa :p Cuma dari pertanyaan itu, aku malah jadi berpikir, sekarang yang sulit untuk ku hadapi bukanlah persaingan dengan mahasiswa lainnya (baik soal akademik, skill, atau lainnya), tapi justru bagaimana caranya untuk menghadapi diri sendiri. Bahasa lainnya pergulatan batin kali ya. Kenapa ya?

Saat SMA, paling yang dipikirkan cuma belajar, bagaimana caranya agar nilai rapor tetap bagus. Merasa bermasalah kalau orang lain nilainya lebih bagus, jadi harus berjuang agar diri ini lebih baik lagi. Sekarang? Uh, masalah itu tidak cuma sekedar NR, IP, dan IPK. Ada kisah senang (horeee!?), kisah sedih (di hari Minggu), kisah cinta (lho?), kisah sakit (iya ih, awalnya tenggorokan ga enakeun, trus berganti jadi demam, terus berganti jadi batuk, terus jadi pilek. Apa sih?) yang harus dihadapi. Ada juga hal yang sangat mengganggu pikiran, membuat kita jadi down sendiri. Ada juga kejutan kecil yang membuat kita bersemangat.

Makanya kubilang menghadapi diri sendiri itu sulit. Boro-boro menghadapi, kadang aku merasa justru aku tidak kenal siapa aku. Menghadapi satu hal kecil saja, diri kadang berpikir macam-macam. Rasanya di otak ini ada berbagai karakter yang berdialog. Tokoh utamanya R-Angel dan R-Devil yang selalu bertentangan, hehe… Ada juga sejumlah tokoh figuran, tapi tidak senantiasa muncul. (Kok jadi ingat ’24 Wajah Billy’ ya? Hehe…) Dialognya macam-macam, tergantung persoalan apa yang sedang dibahas. Kadang berujung pada satu titik temu, kadang malah jadi bingung sendiri, kadang tidak selesai dialognya karena keburu ketiduran, hehe…

Ada kalimat bagus nih dari seorang filsuf Cina, I Ching, “Peristiwanya sendiri tidaklah penting, tetapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.” Nah, respon itu datangnya dari diri kita sendiri kan? Jadi balik lagi, bagaimana cara diri kita merespon. Mau memberi respon positif sesuai pendapat R-Angel, atau malah jadi down gara-gara omongan si R-Devil.

Contoh kasus, anak tingkat empat kan katanya stress sama yang namanya Tugas Akhir ni. Ada yang mau presentasi proposal, stress. Masih belum prensentasi proposal, eh, dah ada aja yang mau seminar. Makin stress toh. Deadline TA 1 makin dekat, wuih, makin stress aja. Itu baru TA 1 lho, apalagi TA 2 ya? Hoho… Menurutku yang bikin stress sebenarnya bukan situasi sekitar kita ataupun TA-nya. Justru diri kita sendiri, respon kita terhadap peristiwa seputar TA. Orang yang presentasi proposal ataupun seminar tidak pernah bertujuan untuk membuat stress orang lain kan?

Hmm… Lama-lama tulisan ini ujung-ujungnya adalah, sebisa mungkin kita harus membawa diri kita sendiri untuk selalu berpikir positif terhadap masalah yang kita hadapi. Ada yang bilang, kalau ada masalah, justru kita harus berbahagia. Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita yang akan membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih bijaksana, dan lebih sabar. Kalau kata kategori di blog-nya Vinta, mungkin itu adalah suatu proses ‘pendewasaan diri’. Lalu, sebenarnya yang dimaksud dengan ‘masalah’ itu sendiri apa? Hmm… Silakan definisikan sendiri, karena tentunya akan berbeda bagi setiap orang🙂

18 responses to “Menghadapi Diri Sendiri

  1. petra Sunday, 14 September, 2008 at 21:54

    semangat loh sha!

  2. ghifar Sunday, 14 September, 2008 at 22:17

    jadi inget “Law of Attraction” nya versi “The Secret”…

  3. dwinanto Sunday, 14 September, 2008 at 22:29

    Hmm,.
    kLo bahasa ustadz-nya sih, “Kita adalah Da’i sebelum apa pun”,.😀
    kLo bahasa film-nya sih, “.. Never forget who we are.. Or where we came from ..”
    Hidup Depok,.😀

  4. arifromdhoni Sunday, 14 September, 2008 at 22:48

    Mungkin perlu berpikir kembali (muhasabah?) mengenai tujuan penciptaan diri kita (manusia). Selain itu, juga mempelajari seseorang yang merupakan teladan hidup terbaik (shallallaahu ‘alayhi wa sallam), mencintainya dan mengikuti jejak langkahnya. Imam Syafi’i rahimahullaahupun menyatakan bahwa hidupnya pemuda itu ialah dengan ilmu dan ketaqwaan; jika keduanya tiada, maka keberadaannya bagaikan ketiadaannya. CMIIW.

  5. lexdoank Monday, 15 September, 2008 at 11:21

    betul sekali tuh analisa mbak Reisha. tak tambahin dikit….hehe

    problem ??? ya slalu ada dalam hiduppp, karena hidup adalah “sejuta masalah itu sendiri”. namun masalahnya bukan besar kecil masalah itu, tapi lebih kepada “sikap kita dlm mengahadapi masalah itu, karna ia akan ia akan bernilai ibadaah apabila kita menyikapi nya dengan bijak.

    salam kenal, nice blog, banyak cerita2 bermanfaat disini……..🙂

  6. Albaz Monday, 15 September, 2008 at 15:55

    ” Masalah ga akan mendewasakan kita sama sekali sampai kita memilih untuk berani menaklukanya ”
    Albaz, 2008

  7. brahmasta Monday, 15 September, 2008 at 21:54

    Ternyata.. buntutnya TA juga.. Hehe..

  8. Elys Welt Tuesday, 16 September, 2008 at 17:37

    hidup memang sarat masalah, kalau nggak gitu nggak seru ya hidup ini ?🙂

  9. ray rizaldy Wednesday, 17 September, 2008 at 11:43

    hihi. masih bagus sha. R-Angelnya bisa muncul. dua tokoh utama di kepala daku namanya
    R-Devil1 dan R-Devil2. hehehe

  10. akokow Wednesday, 17 September, 2008 at 12:32

    paling susah tuh memang…semoga menang melawan diri sendiri.

  11. v i n t a Thursday, 18 September, 2008 at 22:04

    tenang aja sha..
    masalah adalah sesuatu yang akan membuat kita bertambah dewasa dan sadar bahwa hanya ada satu ‘kuasa’ di dunia ini..

  12. nank Friday, 19 September, 2008 at 02:16

    mantap…… tulisannya.
    good luck!

  13. indramukmin Friday, 19 September, 2008 at 10:08

    Ehm…masalah itu adalah sesuatu yang membuat bingung
    Btw, daku harus mulai positive thinking neh kk, soalnya sering banget aku ngerasa nggak pede-an. Udah sering ngerasa gagal duluan gitu

    Yosh… semangat kk

  14. evan Monday, 22 September, 2008 at 15:35

    itu bukan kamu
    cuma pikiran2 yang mewujud selayaknya kamu

    (makin ga jelas aja aku ngomong)

  15. areef Saturday, 4 October, 2008 at 15:58

    be good person….intip blog q ya…
    http://arvan8.dagdigdug.com
    and give comments…

  16. bayu200687 Monday, 13 October, 2008 at 13:13

    enaknya kuliah cm satu tahun…hehehe
    btw, aq ga pernah mikir segala yg namanya nilai.
    coz, bukan tujuanku. itu cm sarana aja.
    aq baru sungguh2 mencari nilai klo ada 7an.
    pas kuliah, ga ada tujuan selain lulus. ya udah, yg penting lulus.
    seandainya ada target, yg peringkat satu sampai tiga bisa memilih ditempatkan, maka aku pasti berusaha…
    yeah…teringat syair …sekolahlah, biasa saja…jangan pintar2, percuma!!!…

  17. unkick Monday, 3 November, 2008 at 05:40

    salam kenal…………………………
    disini wildan unkick.

    bener juga mbak. Menurutku bila kita pernah merasakan semuanya perasaan, seperti sakit hati, senang, benci, patah hati, marah, sedih, dll. Merupakan anugerah karena kita bisa merasakan hal itu semua…. hidup jadi hidup karena merasakan segala hal, walaupun ndak selamanya kan. Yang penting merasakan segalah hal sebagai bentuk pendewasaan diri.

  18. qaa Wednesday, 26 November, 2008 at 14:51

    sebenernya emang yang paling baik adalah bikin pikiran kita selalu positif sama apapun,, kayak sama orang lain, keadaan sekitar ataupun sama diri kita sendiri
    ada Quote yang paling aku suka “sesungguhnya bila kamu merasa lingkunganmu selalu bermasalah, maka kamulah yang sedang bermasalah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: