Hanya Kebiasaan Kecil, Tapi …

Hampir empat minggu sudah saya tinggal di Tokyo yang katanya adalah kota termahal di dunia. Wow. Saya tidak akan membahas soal biaya hidup yang mahal itu kali ini, hehe…

Hampir empat minggu, walau rute yang saya lalui hanyalah asrama-kampus, saya amati ada beberapa kebiasaan kecil masyarakat di sini yang menurut saya bagus untuk kita tiru di Indonesia.

Jalan Kaki

Kebiasaan yang mudah sekali terlihat di Tokyo. Jalan kaki 15 menit, 20 menit, 25 menit, atau lebih adalah hal yang sangat biasa. Melihat orang-orang tua seumuran kakek atau nenek kita jalan kaki di sini juga hal yang biasa. Karena itu mungkin ya orang Jepang itu sehat sampai lanjut usia, plus badannya langsing.

Jangan disangka jalan kaki di sini sama seperti kebiasaan jalan kaki kita di mal-mal di Indonesia. Super jauh berbeda. Di sini jalan kakinya termasuk kategori jalan cepat bagi orang Indonesia. Jalan kaki yang kecepatannya biasanya saya gunakan kalau sudah terlambat masuk sekolah dulu, hihi… Di keramaian, tidak usah coba jalan santai sambil lihat kiri-kanan ala sightseeing, nanti nabrak orang. 😀

Oiya, sejauh yang saya lihat, jumlah pejalan kaki jauh jauh lebih banyak daripada yang pakai kendaraan pribadi. Mungkin karena itu, walau namanya tinggal di kota besar, saya tidak merasakan polusi udara seperti halnya di Jakarta. Kemacetan juga belum saya temukan. Patut ditiru nih. Kalau rutinitasnya cuma Dago-ITB, ga usah pakai mobil pribadi lah di Bandung, hehe…

Sebuah persimpangan di Shibuya saat para pejalan kaki menyeberang jalan. Bandingkan jumlah pejalan kaki dan kendaraan di sini dengan di Indonesia.

Di Kereta

Kereta adalah alat transportasi utama di sini. Di peak hours stasiun akan sangat ramai, kereta pun penuh sesak. Kebiasaan sebelum masuk kereta cukup menarik buat saya, antri. Saya kurang tahu persis sih apakah masyarakat Indonesia pengguna KRL sudah antri seperti ini, tidak pernah soalnya, hehe. Di sini, penumpang yang akan naik kereta antri dengan rapi di tempat tersedia. Lalu saat kereta berhenti, mereka berbaris seperti pagar ayu di kiri-kanan pintu, memberi space bagi penumpang yang ingin turun. Setelah penumpang di dalam kereta turun, barulah mereka masuk ke kereta.

Kadang saya jadi ingat kejadian waktu di Labtek V dulu. Di lift sih, tapi bisa buat perbandingan lah. Mau keluar dari lift yang kecil itu, yang mau masuk lift malah nyerobot masuk duluan. Ckckck. Atau mau keluar lift, malah ada yang berdiri persis di depan pintu lift, menghalangi jalan saja.

Di Eskalator

Sebuah eskalator di Shibuya. Kanan eskalator naik, kiri eskalator turun.

Jika di mal-mal eskalator bisa dibilang sebagai tangga malas dan orang terserah mau mengambil posisi seperti apa, maka di sini ada kebiasaan khusus di eskalator. Mengutip dari tulisan blog ini, kebiasaan di Tokyo sini adalah: Bagi yang tidak terburu-buru dan ingin berdiri-diam di atas eskalator, silakan berdiri di jalur kiri. Bagi yang terburu-buru dan ingin cepat, silakan mendahului dari jalur kanan. Di Osaka sih katanya jalurnya sebaliknya.

Saya baru tau ada kebiasaan ini setelah sampai di sini. Ternyata, orang Jepang, saking ingin mengefektifkan waktu, di eskalator saja ada kebiasaan seperti ini, sehingga yang memang buru-buru bisa berjalan dengan lebih cepat tanpa terhalangi.

いらっしゃいませ - ありがとうございます

Irasshaimase – arigatou gozaimasu. Yup, kalimat ini akan sangat sering kita dengar saat berada di restoran atau tempat belanja. Saat masuk, kita akan disambut dengan kalimat irasshaimase dari pegawai sana. Saat berpapasan dengan pegawai di dalam toko, mereka juga bilang irasshaimase. Saat membayar, mereka akan mengucapkan arigatou gozaimasu. Saat kita akan keluar, mereka juga berterima kasih lagi. Dengan dua kalimat ini saja, menurut saya, rasanya benarlah berlaku pepatah “pembeli adalah raja”.

Ada satu tempat makan dekat kampus saya yang menyediakan bento halal. Lumayan jadi bisa makan ayam dengan tenang, hehe. Pemilik tokonya adalah orang Jepang, tapi punya rumah di Indonesia. Si bapak ini mengurus toko itu bersama adiknya. Bapak dan ibu ini baiiiiik sekali. Terkait dengan irasshaimase dan arigatou gozaimasu di atas, setiap pembeli yang masuk ke toko selalu disambut dengan ramah oleh mereka. Walau si ibu yang menerima di depan dan si bapak sibuk memasak di dapur, si bapak juga turut mengucapkan irasshaimase. Khusus arigatou gozaimasu-nya, entah berapa kali si ibu mengucapkan. Waktu saya menyerahkan uang, waktu saya menerima bento beserta uang kembalian, waktu saya menyerahkan sampah setelah makan, waktu saya akan pergi. Minimal sebanyak itu. Plus si bapak juga mengucapkan ‘terima kasih’ di samping ‘arigatou gozaimasu‘.

Bisa dibilang, pegawai restoran atau tempat belanja di sini ramah-ramah. Tidak hanya di toko sebenarnya, di tempat pelayanan publik lainnya mereka juga ramah. Terlihat dari raut muka mereka. Ini perlu ditiru nih oleh masyarakat kita yang katanya terkenal dengan keramahannya itu. Di Indonesia masih sering kita jumpai pegawai di pelayanan publik yang tidak ada ramah-ramahnya sedikitpun. Ckckck… Tentu bukan kalimat いらっしゃいませ - ありがとうございます nya yang perlu kita terapkan di Indonesia. Tapi keramahannya itu. 🙂

Advertisements

30 thoughts on “Hanya Kebiasaan Kecil, Tapi …

  1. Hmmm, setau saya “aturan” eskalator itu aturan tidak tertulis tapi umum… Di Portugal ini “aturan”nya kanan santai kiri buru2… Kalo di Austria itu bahkan rata2 eskalatornya ada tulisannya “Bitte rechts stehen”, gatau dengan negara2 lainnya…

    Makanya disini kalo ada orang berdiri di sisi kiri (di eskalator) dan ada orang yang mau nyalip, si orang yang berdiri either pindah ke sisi kanan ato ikut mempercepat jalannya, karena salah dia dan bukan salah orang yang mau nyalip… Beda bener ama di Indonesia ya? 😀

    1. Hihihi… Aku juga kurang suka pelayan toko yang ngekor kita di belakang kalo lagi belanja. Kesannya ga percayaan gitu. Apalagi kalo ngekornya pake pasang muka jutek 😛

      Ada juga yang aneh. Waktu tu di Pasar Baru. Udah berdiri di depan tokonya sambil ngeliatin barang, pelayannya ga nyapa sedikitpun. Cuek aja. Ga niat jualan kali ya? Haha 😀

    1. Yang mana? Yang いらっしゃいませ - ありがとうございます? Itu hiragana semua kok, dan sudah saya tulis bacanya: irasshaimase – arigatou gozaimasu.

  2. Mirip2 dengan pengalaman pertamaku keluar negeri juga uni…

    Langsung kagum sama keteraturannya: Keretanya, pejalan2 kakinya, dan eskalator nya.

    Kapan ya indonesia bisa seperti itu… 🙂

  3. salam mbak reisha, ini Sara lagi 🙂

    mau tanya2 mbak, agak banyak nih :p

    selama menjalani research student, selain belajar bahasa jepang, kegiatan yg dilakukan sebagai research student apa saja yah? apakah kita sudah mengikuti kelas di kampus, terlepas bahwa kita belum regular student? atau sebatas consult dengan profesor (yg memberi LA) terkait dengan research yg kita ajukan saat pendaftaran? (bayangan saya seperti konsultasi reguler seperti jaman skripsi/TA).

    kalau yang saya baca dari lembar informasi ketentuan pendaftaran, monbusho mencakup beasiswa sampai 24 bulan (utk kedatangan bln April), untuk jadi regular student apakah harus memenuhi jangka waktu 24 bulan sbg research student atau tergantung dari jangka waktu penyelesaian research yang kita ajukan? maksud saya, jika riset bisa selesai dalam setahun apakah sudah bisa apply ujian utk regular student?

    yang terakhir mbak, selama menjalani research student apakah ada ujian semesternya?

    maaf ya mbak klo merepotkan, pencerahan dari mbak akan sangat bermanfaat 🙂
    terima kasih sebelumnya,
    Sara 🙂

    1. Setelah sampai di sini, semuanya tergantung pada profesor pembimbing dan universitas bersangkutan. Akan beda-beda untuk tiap orang, bahkan yg satu universitas sekalipun. Saya belum bisa jawab banyak…

      Coba baca tulisan saya yang judulnya Tentang Beasiswa Monbukagakusho (MEXT) Research Student bagian Setelah Seleksi…

  4. wah jadi inget dulu…pengen kesana lagi..hiks2….beneran tuh…dari semua kebiasaannya..meski edo bentar disana..udah cukup kepengaruhi….lucunya pas balik ke indonesia…malah marah2 sendiri liat kebiasaan negara kita teh….hahahaha
    kangen T_T

  5. Walaupun hanya hal-hal kecil tapi hasilnya luar biasa. Contoh, jalan kaki menghasilkan kesehatan tubuh yang prima.
    Kalau di jalan Jakarta mobil Jepang bejibun, yang jalan kaki sedikit. Kareta bawah tanah (MRT) baru sebatas wacana, entah kapan realisasi angkutan massal yang sedikit ramah lingkungan itu. Blog Reisha sudah saya link di blog saya. Sukses selalu.
    http://Alrisblog.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s