Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Summer Time (/^o^)/

Sudah 4 bulan lebih saya berada di sini, dan musim semi pun telah berganti ke musim panas. Dulu, yang ada dalam pikiran saya mendengar kata summer adalah: 1. suhu udara yang panasnya naudzubillah; 2. libur musim panas. Hehe. Suhu udara di sini memang panas, ditambah kelembapan udara yang tinggi, membuat badan terasa lengket terus. Tapi tidak se-naudzubillah yang saya bayangkan ternyata, alhamdulillah😀. Libur musim panas atau dalam bahasa sininya 夏休み (=natsu yasumi), pertama kali saya dengar mungkin di Doraemon😛.

Setelah sampai di sini, barulah saya tau bahwa musim panas di Jepang tidak hanya tentang panas dan liburan😛 Setidaknya ada dua hal seru yang sudah saya lalui hingga saat ini.

Hanabi Taikai (花火大会)

Di Jepang, musim panas adalah musimnya 花火 (=hanabi) alias kembang api. Sekitar akhir Juli dan awal Agustus ada sejumlah hanabi taikai alias fireworks festival di beberapa tempat. Kembang api yang besar-besar itu dipertontonkan sekitar satu jam. Orang-orang Jepang banyak yang datang menonton hanabi taikai ini menggunakan 浴衣 (=yukata) alias kimono musim panas. Cantik-cantik euy yukata-nya. Pengen punya, tapi harganya mahal.😦

Pertama kali saya melihat hanabi taikai 24 Juli lalu di Tamagawa, Chofu. Saya sangat terpesona dengan keindahan kembang api itu di langit malam yang kelam *tsaaah*. Waktu itu saya sudah telat datang ke sana, cuma bisa melihat kembang apinya sekitar setengah jam. Saya juga tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau yang menonton bakal seramai itu.

Belum puas dengan kembang api di Chofu, saya berencana melihat hanabi taikai lagi 31 Juli di Sumidagawa. Katanya sih yang di Sumidagawa ini hanabi taikai yang terbesar di Tokyo. Kali ini saya datang lebih cepat, karena yakin yang datang bakal jauh lebih banyak. Jam 5 sore saya sudah sampai di lokasi. Dan alamak, ternyata semua space yang ada sudah di-booking. Orang-orang menaruh tikar plastik, bahkan ada yang cuma menandai dengan lakban. Ckckck. Jadilah saya nyelip-nyelip di antara orang-orang itu. Cukup puas saya menonton kembang api waktu itu.🙂 Ini ada sedikit yang saya rekam waktu itu, tapi rada burem, maklumlah bukan profesional, fufufu…

Mt. Fuji Climbing (富士山のぼり)

Musim panas waktunya mendaki Mt. Fuji, karena Mt. Fuji hanya boleh didaki saat puncaknya itu tidak tertutupi salju. Saat ada salju, jangan mendaki Mt. Fuji, karena tidak boleh dan lebih cantik Mt. Fuji-nya dilihat dari jauh😀

Tanggal 4 Agustus lalu saya ikut rombongan anak-anak asrama saya mendaki Mt. Fuji. Kami berangkat jam 6 pagi. Mulai mendaki di Subashiri route sekitar jam 11.15, dan sampai di puncak sekitar jam 19.15. Pendakian itu melelahkan, kawan. Setidaknya buat saya yang lebih sering duduk dan jarang olahraga ini, hiks. Beberapa meter pertama saya masih fit, tapi berikutnya tiada langkah tanpa sesak napas. Huff. Mengatur napas, menahan beban di punggung. Cuaca berawan, lalu hujan, lalu berawan lagi, dan terakhir cerah. Awal-awal saya pesimis bakal sampai ke puncak. Nyaris saya menyerah di tengah-tengah, tapi begitu mengetahui puncaknya tinggal sedikit lagi, saya kumpulkan sisa-sisa tenaga yang tersisa.

Sesampainya di puncak, kami menginap di penginapan yang ada di sana. Langsung tepar, tapi susah tidur😦 Paginya kami keluar menanti sunrise. Dingin banget, badan saya juga masih lemes. Jadinya saya tidak terlalu bersemangat menanti sunrise.😦

Jam 6an kami mulai turun. Kalau naik susah di napas dan punggung, turun ini susah di kaki. Ingin rasanya saya turun cepat-cepat biar cepat pulang, sampai kamar, lalu tidur, tapi lutut dan jemari kaki saya sudah sakit menahan perih. Waktu naik saya yang paling terakhir sampai, waktu turun juga saya yang paling terakhir sampai. What a loser.😦

Hiking gunung setinggi itu mungkin memang tidak cocok buat saya. Tapi saya bersyukur bisa melaluinya. Saya juga senang sekali menatap pemandangan dari tempat setinggi itu, terutama melihat awan putih itu. Rasanya damai sekali. Tapi cukup sekali saja deh. Yang penting kalau ditanya “udah daki gunung fuji atau belum?” jawabannya “udah”.😀

        

***

Sekian dulu cerita dari saya. Sebenarnya banyak yang bisa saya tulis dari ini. Tapi apa daya saat ini diri ini tidak mampu berbanyak kata. Fufufu.😛

12 responses to “Summer Time (/^o^)/

  1. harisu Saturday, 7 August, 2010 at 23:17

    A well-known Japanese proverb: “A wise man climbs Fuji once. A fool climbs it twice”😛
    aku blum climb sekalipun.. jd blum wise😀

    • reiSHA Saturday, 7 August, 2010 at 23:29

      Hihihi. Iya iya. Ada temen yang bilang, daki fuji sekali itu beki, kalo dua kali baka😀

  2. filia Wednesday, 11 August, 2010 at 01:42

    sugoi..🙂
    ak jg blum pernah^^’

  3. nurul Wednesday, 11 August, 2010 at 10:58

    asl.mb saya tertarik untuk ikut monbusho tahun depan:) mohon bimbingannya ya:)
    kira2 startnya bulan berapa lagi ni saya dah baca semua tentang kisah perjalanan daftar beasiswanya:) sungguh menarik:) sebahagian ada yang nekat:) selalin takdir Allah, benar2 usahanya mb:) dan doanya itu __kalau memang jalannya _mudahkanlah ya Allah:) saya suka dengan harapan itu

    mb bimbing saya yah , semoga saya juga bisa melanjutkan studi disana:)__kalau saya umur 26 tahun apa masi bisa ya? dan ipk saya aja cm 3,01>>apa bisa yah
    kutau bukan hanya semangat saja>tapi iAllah saya serius akan mempersiapkannya
    makasih jawabannya mb

    kalau berkenan di ba;las di email mb
    nurul_degreen@yahoo.com

    • reiSHA Wednesday, 18 August, 2010 at 01:33

      Coba perhatikan lagi aja persyaratannya. Selagi memenuhi syarat ya pasti bisa-bisa saja…

  4. Ryan Masri Sunday, 22 August, 2010 at 09:08

    halo. mbak atau ba uni se lah
    samo-samo urang minang🙂

    cerita uni sangat meng-inspirasi sekali untuk berjuang di monbusho tahun depan
    walau masih kelas 3 sma
    cukup susah kayaknya melihat perjuangan uni untuk bisa lulus beasiswa
    tapi saya akan berusaha

    oh ya.. kemarin sekitar tanggal 6 juli ryan juga pergi ke jepang untuk mengikuti program pertukaran pelajar. tapi cuma 10 hari (jenesys-japan east asia network of exchange for student and youth)
    ada sekitar 4 hari di tokyo
    uni berada dimana ?
    kalau ryan berada di daerah deket stasiun shinagawa(pasti tau lah)

    jepang pada saat itu emang panas sekali
    tapi yang males nya pas ke shibuya malem2 malah kena hujan😦
    bete! gak puas gak sempet ke haciko gara2 hujan
    hahaha

    • reiSHA Sunday, 22 August, 2010 at 21:23

      Di Komaba, naik Keio Inokashira line, 2 eki dari Shibuya…

  5. Ryan Masri Monday, 23 August, 2010 at 05:37

    kalau buat universitas di sapporo yang ada jurusan hub.internasional.

    bagusan dimana ?
    masih bingung.. nyari nyari nya –“

    • reiSHA Monday, 23 August, 2010 at 12:55

      Ga tau

  6. Yohan Wibisono Thursday, 28 October, 2010 at 14:31

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang Bisnis dan Kesehatan di
    blogku : http:// http://www.ptmsi.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat.

  7. tomy Friday, 27 January, 2012 at 22:27

    naiknya dari ketinggian berapa sha?😀

    • Reisha Friday, 27 January, 2012 at 22:31

      Dari ketinggian 1.980 m tomtom..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: