Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Sedikit Cerita Tentang Saya dan Gempa

Sepertinya sudah terlambat ya nulis cerita ini, soalnya sudah 70 hari berlalu sejak gempa besar itu terjadi. Sudah dari dulu ingin nulis, tapi baru kesampean sekarang.😛

Saat Kejadian

11 Maret 2011. Hari itu saya tidak kemana-mana, hanya di kamar saya di lt. 4 asrama, seperti biasa menghabiskan waktu di depan laptop. Tiba-tiba terasa getaran. Bumi bergetar adalah hal yang lumrah di Jepang, saya sudah cukup sering merasakan sebelumnya. Hanya waktu itu tidak biasa. Getarannya agak lama, dan bahkan jendela kamar saya mulai berderit. Biasanya tidak seperti itu. Lalu terdengar suara orang lari di lorong asrama. Saya berpikir, ini gempanya pasti besar sampai ada yang berlari keluar, bagaimana kalau tiba-tiba gedung ini runtuh? Akhirnya saya ikut lari keluar, menuruni tangga yang goyang-goyang.

Di luar sudah ramai. Semua orang tau gempa yang ini tidak seperti gempa yang biasanya. Setelah agak tenang saya kembali ke kamar. Mulai ada kabar di Sendai sudah tsunami. Baru beberapa menit di kamar, goyang lagi. Beberapa kali saya naik turun tiap merasakan getaran. Saya ketakutan. Sampai akhirnya malam itu saya tidur dengan pakaian lengkap (plus jaket tebal karena saat itu masih musim dingin), baru bisa tidur sekitar jam 2 pagi, lalu jam 4 pagi terbangun lagi karena ada getaran yang cukup kuat.

Persiapan itu Penting

Sejak tinggal di Jepang saya akui saya tidak pernah membaca panduan apa yang mesti dilakukan saat gempa terjadi. Setelah gempa besar itu barulah saya tau kalau kabur keluar dari bangunan saat getaran masih berlangsung adalah keputusan yang salah, bahkan bisa jadi ajang bunuh diri kalau saja ada bagian bangunan yang runtuh. Mestinya saya berlindung ke bawah meja (meja yang kokoh tentunya).

Saat orang-orang mulai meributkan soal emergency bag, siapkan ini itu di dalam satu tas sehingga gampang dibawa kalau-kalau harus melarikan diri, saya malah kebingungan. Apa yang mesti saya bawa? OK, paspor, dokumen penting, minuman. Lalu? Pikiran saya blank, belakangan baru saya ketahui kalau isi emergency bag itu banyak (kalau memang serius menyiapkannya).

Begitulah, persiapan itu penting teman. Penting sekali membekali diri dengan pengetahuan seperti ini jika Anda akan tinggal di Jepang, jangan seperti saya. (Apalagi persiapan untuk menghadapi kematian ya, astaghfirullahal’adziim).

Kekeluargaan di Crisis Center KBRI Tokyo

Saya turut bergabung dengan para relawan di KBRI Tokyo. Kerjaan Crisis Center ini lebih ke arah pencarian dan pendataan WNI yang terkena dampak gempa, tsunami, dan radiasi karena banyak keluarga di Indonesia yang mencari saudaranya di sini. Menerima telepon dari Indonesia, mencatat data orang yang dicari, menghubungi orang yang dicari, memberi tahu ke keluarganya kalau sudah ada kabar, merekapitulasi data, meng-update informasi, dkk.

Kalau tidak salah lebih dari seminggu saya di sana. Tambahan kenalan, ngobrol dan heboh rame-rame, makan 3x sehari, sakit mata melototin spreadsheet mulu, cemilan yang banyak sangat, bercanda dan ngobrol dengan Pak Dubes sampai pagi, tokoh Udin Mamuju sang komandan tim, nuclears boys yang jadi tumpuan Pak Dubes untuk pengambilan keputusan terkait isu nuklir; itu sebagian random things dari memori di KBRI Tokyo. Tim Crisis Center-nya kompak, Pak Dubes-nya asik n gaul. Kekeluargaan itu salah satu hikmah yang saya rasakan dari adanya gempa besar itu.

Media Lebay

Seluruh dunia memberitakan tentang Jepang. Hanya saja sangat saya sayangkan sejumlah media tanah air berlebihan dalam pemberitaan, sampai PPI Jepang gerah dan mengeluarkan siaran pers-nya. Radiasi yang seolah-olah mengenai seluruh Jepang lah, Tokyo yang dibilang seperti kota hantu lah, wew. Bikin emosi saja membacanya, padahal semua masih aman terkendali di sini.

Dari dulu saya memang sudah merasa, jangan terlalu percaya dengan media di Indonesia. Tapi sejak kejadian gempa itu makin besarlah rasa ketidakpercayaan saya. Mohon maaf kalau ada media yang tersinggung. Saya cuma berharap pemberitaan yang berkualitas.🙂

Jepang yang Luar Biasa

Seluruh dunia sudah tau betapa tangguh dan tabahnya Jepang menghadapi bencana ini. Rasanya tidak perlu saya tuliskan semua di sini betapa siapnya Jepang menghadapi bencana gempa (nomor satu di dunia tentunya), betapa tenangnya warga saat gempa terjadi (karena mereka sudah siap dan tau apa yang mesti dilakukan), betapa sabarnya mereka antri untuk memperoleh bantuan dan sama sekali tidak ada penjarahan, betapa kompaknya mereka menghemat listrik demi menghindari pemadaman listrik bergilir, betapa rendah hatinya pemerintah dan pejabat Tepco meminta maaf kepada pengungsi, dsb. Yah, Anda mungkin sudah lebih banyak baca dan lihat dibanding saya.🙂

Jepang tidak banyak bicara, mereka menunjukkannya langsung dengan sikap mereka. Tidak hanya pemerintah, tapi juga seluruh masyarakatnya. Dari lubuk hati terdalam saya, saya salut dengan negara ini. Semoga Indonesia bisa banyak belajar. Amin.🙂

Pulang ke Indonesia

Ini hikmah lain dari gempa itu. Saat dunia heboh dengan dampak radiasi dari PLTN Fukushima, saya sebenarnya termasuk yang kekeuh bertahan di sini karena saya yakin semuanya baik-baik saja. Betapapun parahnya pemberitaan media, saya tetap meyakinkan keluarga saya di Indonesia bahwa tidak ada masalah di sini. Namun email dari kampus di suatu sore tanggal 18 Maret mengubah segalanya (caelah bahasanya :P).

Semesteran saya sebenarnya dijadwalkan mulai pada awal April lalu. (Ini juga salah satu faktor yang membuat saya bertahan, saya sudah akan mulai kuliah, nanggung banget kalau pulang cuma seminggu). Namun karena (sepertinya) transportasi dan listrik di Tokyo masih belum stabil pasca gempa, kampus saya memutuskan untuk menunda semesteran ke awal Mei. Alhasil liburan saya bertambah satu bulan lagi.

Kuliah baru mulai sebulan lagi, lalu saya mau ngapain? Sebenarnya banyak sih yang bisa dilakukan. April itu musim sakura, siapa sih yang ga mau menikmati sakura di negeri ini? Namun karena ada momen-momen spesial (di antaranya 3 teman saya di IF’05 menikah di bulan April, lalu ada wisudaan juga di ITB) plus juga sudah rindu dengan Indonesia akhirnya saya memilih pulang (31 Maret sampai 24 April). 3 hari di Jakarta, 8 hari di Bandung, 2 hari di Padang, 11 hari di rumah; sebenarnya belum cukup, tapi saya sudah sangat bersyukur.

So, saya garis bawahi lagi, saya pulang bukan karena mengungsi dari gempa, tsunami, dan radiasi.🙂

***

Segitu dulu deh cerita saya, sudah panjang ternyata, bertolak belakang banget ya dengan judul, hihihi. Rasanya ada yang belum tertuliskan di sini cuma saya tidak ingat apa. Heuu, susahnya me-recall isi memori >.<

Kita tidak pernah tau apa rencana Allah berikutnya, karenanya kita mesti mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

10 responses to “Sedikit Cerita Tentang Saya dan Gempa

  1. Zakka Thursday, 19 May, 2011 at 02:19

    Mantab ada quote segala di akhirnya😀

    • reiSHA Thursday, 19 May, 2011 at 09:10

      Hehe, iya kk. Mulai 2011 ini mau saya kasih quote di akhir.🙂 Postingan sebelumnya juga udah saya tambahin quote. *demi, hihi*

  2. faridtriawan Thursday, 19 May, 2011 at 18:50

    Baca tulisan ini, jd flash-back lagi kegiatan kita di CC dulu ya..hehe.

    • reiSHA Thursday, 19 May, 2011 at 20:18

      Hehe, yoi. Ayo makan2 lagiiii😀

      • udin Wednesday, 25 May, 2011 at 02:23

        mari makan2…..^ ^

        • reiSHA Wednesday, 25 May, 2011 at 10:38

          Aseeeeekkkkkk

  3. egyerel Saturday, 21 May, 2011 at 01:55

    Uni..berarti kini msh d Bukittinggi yo ni?
    egy k nanyo soal beasiswa Monbukagakusho ni..
    rncananyo nio ikuik..hehe:D

    • reiSHA Saturday, 21 May, 2011 at 08:20

      Ndak, lah baliak.

  4. Gita Diani Astari Thursday, 19 January, 2012 at 19:04

    Wah, ngeri juga ya. Saya pernah baca, Jepang itu negara yang paling rawan gempa, ternyata nggak salah ya. Saya juga baca tuh soal kehebatan Jepang, itu bener-bener patut dicontoh deh. Semoga Indonesia bisa belajar ya, aamiin… Nice post!😉

    • Reisha Sunday, 22 January, 2012 at 11:19

      Aaamiiinnn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: