Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Menghargai yang Puasa atau yang Tidak Puasa?

Sembari menunggu tarawih di Tokyo Camii tadi, Mbak Isti melontarkan topik obrolan perihal orang puasa vs. orang tidak puasa di Indonesia, di mana tampaknya sudah jadi isu rutin di Indonesia. Tiap Ramadhan ada aturan dan himbauan bahwa tempat makan dan hiburan mesti tutup pada waktu-waktu tertentu. Kalau sebatas himbauan sih wajar lah ya, tapi kalau sampai mesti dikasih sanksi tegas kok kayaknya berlebihan ya.

Berhubung topik beginian cukup sensitif, tiap orang punya pendapat berbeda-beda, mari saya persempit dulu apa yang mau saya tulis. Pertama, ini menyangkut sudut pandang saya dari sisi yang berpuasa saja, terlepas dari aspek etika, sosial, budaya, politik, ekonomi, dsb. Kedua, mau bahas perihal tempat makan yang buka di siang hari aja. Kalo tempat hiburan mah, yang isinya maksiat, Ramadhan ga Ramadhan saya sih prefer ditutup😛

Ingatan saya melayang ke masa lalu (caelah..), masa kecil hingga SMA. Saya tinggal di kampung di mana bisa dibilang 100% warganya muslim. Soal tempat makan yang buka rasanya tidak pernah dihebohkan. Kalau pun buka, laku berapa coba makanannya. Lalu akhirnya saya kuliah di Bandung. Pertama kali melihat kantin di gerbang belakang ITB sebagian ada yang buka (walau ditutupi dengan kain), agak kaget juga. Kok masih buka sih? Tapi langsung sadar, oh iya, saya sudah tinggal di kota yang mana penduduknya bukan muslim saja. Jadi saya maklum saja sih. Terserah lah ada tempat makan ada yang buka atau ga, toh kalau niatnya bener mau puasa, godaan kayak gimana juga mestinya bisa ditahan kan ya.

Kenapa sih tempat makan dihimbau untuk tutup? Katanya sih untuk menghargai umat Islam, supaya mereka bisa konsentrasi berpuasa. OK. By default juga semua muslim pasti setuju, hehe. Lumayan kan ya mengurangi godaan selama berpuasa.

Lalu sampailah saya di Jepang sini, di mana muslim itu minoritas. Sedikit banyak saya merasakan seperti apa rasanya jadi minoritas. Sedikit banyak juga sudut pandang saya berubah.  Ramadhan di sini, mana ada restoran yang tutup😛 Wajar lah ya. Kenapa ga menghimbau tempat makan untuk tutup? Karena udah minoritas, bukan warga sini pula :P  Kenapa di Indonesia kita bisa bikin himbauan supaya tempat makan tutup? Karena mayoritas dan warga tanah sendiri pula, hehe😛

Kalau istilahnya Mbak Isti, kita jadi muslim di Indonesia sudah terbiasa dimanjakan. Bulan puasa suasananya sangat kondusif. Yang jualan makanan pas sahur dan berbuka banyak. Siang hari restoran tutup. Kalaupun ada yang buka, dikondisikan sedemikian sehingga yang tertutup. Kurang nyaman apalagi coba. Akibatnya kita jarang berpikir, gimana yang ga puasa nyari makan pas siang hari? Kita lebih sering berpikir bahwa mereka yang ga puasa mestinya bisa menghargai. Agak egois ga sih kalau kita cuma berpikir mereka yang mesti menghargai?

Seterganggu apa sih Ramadhan kita kalau ada tempat makan yang buka? Kalau kita puasa di luar bulan Ramadhan, di mana semua tempat makan buka dan teman kita makan di depan mata kita walau bukan di tempat makan, kenapa kita bisa? Lalu pas Ramadhan kenapa merasanya ada tempat makan yang buka itu malah mengganggu? Emang pas Ramadhan lapar dan hausnya berkali-kali lipat di luar Ramadhan ya?

Ga enak aja kan rasanya kalau ada kesan mentang-mentang mayoritas, maunya dapet enak terus dan egois ga mikirin yang minoritas. Maunya yang ga puasa menghargai yang puasa, trus pas ada tempat makan yang nyediain makan buat yang ga puasa malah ribut. Iya sih, ga semua muslim berpikir begitu, tapi pasti ada walau segelintir.

Menjawab pertanyaan di judul, jadinya mestinya siapa yang dihargai? Ya kalau kata saya mah dua-duanya mesti dihargai. Orang yang ga puasa yang ngerti artinya menghormati pasti tau diri kok untuk ga terang-terangan makan di depan yang berpuasa. Orang yang berpuasa juga mesti bisa mengendalikan diri untuk ga dikit-dikit rusuh soal tempat makan yang buka. Apa guna puasa coba kalau tetap ga bisa mengendalikan diri.

Terakhir, terima kasih banyak kepada rekan-rekan non muslim yang sudah sangat menghargai kami muslim yang berpuasa. Saya sangat mengapresiasi itu🙂 Dan tentunya, selamat menjalankan ibadah Ramadhan bagi kita semua🙂

“toleransi antarumat beragama” mungkin sekarang hanya dianggap sebagai frasa naif di pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan, tapi jikalau itu bisa terwujud dengan baik, alangkah indahnya hidup ini🙂

10 responses to “Menghargai yang Puasa atau yang Tidak Puasa?

  1. nova Tuesday, 2 August, 2011 at 01:45

    Aslm,
    Benar juga uni, harusnya kita kembalikan saja ke individu masing2, kalo memang sudah niat, toh gag masalah liat warung2 yang buka siang hari. Hmm tapi ada juga yg bikin heran bin miris uni, liat di Pasar Padang ada warung nasi yang buka di siang hari Ramadhan, yang makan disana malah muslim, bukan wanita pula (yg mana bisa didispensasi). Lagi-lagi, it depends on ourselves.
    Selamat puasa uni,

  2. Taufiq Tuesday, 2 August, 2011 at 04:08

    Sepakat sha! Masak tergoda gara2 tempat makan buka? Emangnya kita anak SD apa? Selain yang non muslim, orang muslim yang sedang tak puasa pun tentu mengalami kesulitan. Dan di Indonesia, walaupun persentasenya sedikit, jumlahnya tetap saja besar. Sudah saatnya kita selaku umat Islam lebih “dewasa” dan bisa meringankan kesulitan orang lain

  3. petra Tuesday, 2 August, 2011 at 08:42

    bulan puasa gini susah nyari makanan.. ~______~

  4. joel Tuesday, 2 August, 2011 at 17:37

    Nice,
    Doa saya, semua orang indonesia bisa mempunyai pikiran seperti lw sha karena saya punya cerita dengan orang-orang yang ‘rusuh dan tidak terima’ karena warung makan ‘buka’ saat puasa hehe..

  5. Asop Wednesday, 3 August, 2011 at 16:51

    Menurut saya, tak usahlah rumah makan dan tempat hiburan malam tutup saat bulan ramadhan. Justru, kalau rumah makan tutup saat ramadhan, di mana letak godaan dan ujian untuk kita yang berpuasa?😀 Kalau lokalisasi, saya sih setuju harus ditutup FULL selama ramadhan ya… tapi seperti bar dan cafe, sebaiknya tidak usah ditutup. Bener kata orang banyak, bagaimana niat dan ketahanan masing2 individu aja.🙂

    Lagipula, kalau rumah makan dan tempat hiburan ditutup, pekerja di sana dapet gaji dari mana?? Itu kan tempat orang2 nyari nafkah juga, ya toh? Masa’ ditutup sih? Dapet duit dari mana?

  6. tyas Thursday, 4 August, 2011 at 04:12

    waktu itu pernah ada perbincangan macem gini di kelas. kalo saya dikampus saya muslim lebih sedikit jumlahnya. dosen yg bikin diskusinya kebetulan muslim dan bilang kalo kita juga harus ngehargai yg ga puasa, kalo dipikir dari sudut pandang yg ga puasa, mereka ga sahur, dan terpaksa ikut kita ga makan, padahal rumahnya jauh, mau cari makan pun susah. atau temen saya pas sma, sampe mau makan di toilet gara2 yg lain puasa, atau mau minum sampe ngumpet2 dikolong meja saking ga enaknya sama yg puasa. kurang menghargai dimana lagi coba, ya tinggal yang puasanya aja yang jangan lebay dan harus bisa menghargai yang ga puasa.

  7. Fathelvi Mudaris Thursday, 4 August, 2011 at 09:09

    Assalaamu’alaykum Sha…(hehe, lgsg panggil nama ajah)…secaraaa kita kan satu angkatan… (2005 kan yah?) tapi Fathel di Padang Panjang (ndak jauh kan dari Candung? hee)

    Perkenalkan, aku Fathel….
    seneng banget deh baca blognya Sha…
    Boleh yah, Fathel link blognya?

    Semangaaatt…!

  8. ray rizaldy Thursday, 4 August, 2011 at 09:58

    ini sha, daku mampirin :p
    anyway busway, jadi ingin cerita pengalaman puasa waktu jalan2 ke Manado. karena disana muslimnya minoritas jadi mungkin sama dengan puasa di jepang kali ya. puasa2 tempat makan tetep buka. cari saurnya susah. wanitanya cantik2. *lho*

    intinya sih pengendaliannya terletak di diri sendiri. anggap aja lingkungan dikau waktu di bukittingi itu level tantangannya level easy, masuk ke ITB ketemu warteg buka level medium, jalan ke jepang dimana susah cari makanan saur dan makanan buka level hard.

    wah komentar daku jadi panjang gini. bisa buat nulis blog sendiri.😀

  9. ghifar Thursday, 4 August, 2011 at 17:47

    Saya sih bahkan merasa tidak dihargai dengan tidak ditutupnya tempat makan atau “makan secara tertutup”. Sampai sekarang masih bingung kok hal-hal kyk gitu bisa dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada orang yang berpuasa. Yang cuma bisa ngasih penghargaan ke orang-orang yang puasa hanyalah Yang Memberi Perintah nya.😉

  10. toonyf Sunday, 7 August, 2011 at 01:56

    bagus.. toleransi itu perlu. bagaimanapun kita sebangsa dan setanah air. Teman2 saya banyak dari berbagai agama. bukan saatnya kita saling sinis memandang, bahkan ada tembok2 yang membatasi hubungan kita. Lagipula apa gunanya itu semua?😀
    Selamat menjalankan ibadah Ramadhan..😀
    http://keepbrotherhood.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: