Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

#4: Berkereta Ria di Tokyo

Tinggal empat tahun lebih di Bandung, mode transportasi utama saya adalah angkot Bandung yang sungguh banyak dan warna-warni itu. Begitu pindah ke Tokyo, tentu saja saya berganti mode transportasi, yaitu ke kereta. Soal perkeretaan ini menurut saya cukup menarik untuk dikenang sehingga saya tulis cerita sendiri di sini *halah*.

Transportasi di Tokyo didominasi oleh kereta, baik yang di darat (train) maupun yang di bawah tanah (subway). Akses ke berbagai tempat biasanya diinfokan dari seberapa jauh tempat itu dari stasiun terdekat. Selain kereta juga ada bus. Bus biasanya melalui area yang tidak dilewati kereta. Taksi juga ada, tapi pakai taksi di sini mahal banget (710 yen di argo begitu naik :D). Sebagian warga di sini juga ada yang memakai sepeda.

Saya pribadi di sini lebih banyak memakai kereta plus jalan kaki kalau bepergian. Asrama saya dekat dengan stasiun Komabatōdaimae (sekitar 5 menit jalan kaki dengan santai), jadi rasanya tidak butuh sepeda. Lagipula saya tidak berani mengendarai sepeda di jalanan yang ramai, hehe. Untuk ke kampus saya butuh waktu berkereta sekitar 20 menit, lanjut dengan jalan kaki sekitar 10 menit (kalau ke Nishiwaseda Campus) atau 20 menit (kalau ke Waseda Campus, tapi kalau lagi malas saya pilih naik bus dari stasiun Takadanobaba ke kampus, hehe).

Kalau di Wikipedia disebutkan, “Public transportation within Tokyo is dominated by an extensive network of clean and efficient trains and subways.” Bersih dan efisien. Bener banget. Terasa sekali gampangnya di sini kalau mau pergi ke mana-mana. Keretanya sudah ada jadwal yang jelas dan bisa dibilang selalu on time, jadi kita bisa mengatur waktu untuk perjalanan dengan lebih efisien. Say no to ngetem layaknya angkot di Bandung, yang selalu membuat waktu perjalanan tidak bisa dikira dengan persis, belum lagi macet, hehe. Keterlambatan kereta biasanya terjadi karena faktor kondisi alam yang tidak memungkinkan (misalnya gempa besar atau taifun) atau ada kecelakaan di rel (misalnya ada yang terjatuh ke rel hingga tertabrak kereta atau memang ada yang bunuh diri). Itupun biasanya ada pemberitahuan di stasiunnya.

Jalur kereta di Tokyo bisa dibilang lebih ribet dari jaring laba-laba. Sumpah. Kadang jadi bertanya-tanya, ini Jepang gimana caranya bisa membangun jalur kereta serumit itu, dan hebatnya mereka bisa mengelolanya dengan “sempurna”. Kalau cuma bermodal peta jalur kereta yang super rumit itu, mungkin pusing sendiri menentukan jalur kereta untuk bepergian. Untungnya ada website yang menyediakan layanan pencarian rute kereta, seperti Jorudan dan Hyperdia. Dari situ kita bisa dapat info rute keretanya, jadwalnya, serta harga tiketnya. Kita pun bisa menentukan, kalau ingin sampai di suatu tempat jam sekian, maka kita perlu berangkat jam sekian. Ticketing serta gate keluar masuk stasiun sudah pakai mesin. Praktis sekali.

Railway Lines in Tokyo and its Suburbs

Banyak hal menarik yang bisa diamati selama di kereta. Kadang dari kehidupan dalam kereta kita bisa belajar beberapa sisi kehidupan di sini, hehe. Kalau Anda pernah dengar cerita, orang Jepang itu di kereta pun masih membaca, itu benar adanya, walau mungkin jumlahnya ga yang wah atau wow *apa coba*. Maksudnya ga mayoritas juga di sini orang-orang membaca. Yang cukup banyak ditemui adalah yang tidur, sambil berdiri pun juga ada yang tidur, hihi. Sebagian lagi sibuk dengan handphone atau game nintendo-nya, atau mendengarkan musik lewat earphone-nya. Agak jarang ditemukan yang ngobrol hingga ribut, biasanya orang Jepang akan berusaha ngobrol dengan suara pelan. Yang ribut sih biasanya anak sekolahan, itupun kalau ramai dengan teman-temannya. Hampir tidak pernah menemukan orang Jepang telponan selama di kereta, beda banget kan ya dengan di Indonesia, hehe. Oia, yang makan dan minum juga hampir tidak ada. Saya tidak tau ada aturan tertulisnya atau tidak, tapi kenyataan di lapangan berkata begitu.

Di kereta kita bisa menemui manusia dari bayi yang dibawa dengan kereta bayi, hingga kakek-nenek para lansia yang masih sehat walafiat di hari tuanya. Kadang salut juga melihat kakek-nenek itu masih kuat berjalan kaki ke mana-mana serta berdiri di kereta karena ga selalu mereka dapat tempat duduk. Di kereta juga kita bisa mengamati ritme hidup para pekerja. Di rush hour pagi hari, kereta biasanya banyak diisi oleh para pekerja yang kebanyakan tinggal di suburban Tokyo tapi bekerja di Tokyo. Rush hour sore hari diisi oleh mereka yang akan pulang. Dan kereta Tokyo di rush hour ibarat kaleng sarden. Padat. Tengah malam hari Jumat atau weekend, kereta berbau alkohol mungkin cukup sering ditemui. Yaa waktunya mereka minum-minum karena party atau melepas kepenatan.

Dengan keefektifan dan keefisienannya, saya sangat menikmati perkeretaan di sini. Awal-awal tentunya pusing dengan jalurnya, ticketing-nya, kepadatannya, dsb. Tapi kalau sudah terbiasa ya tidak masalah lagi. Ketepatan waktunya dan kepraktisan penggunaannya selalu saya rindukan kalau berada di Indonesia😀

Railway termini are our gates to the glorious and the unknown. Through them we pass out into adventure and sunshine, to them, alas! we return. — E. M. Forster

7 responses to “#4: Berkereta Ria di Tokyo

  1. littleflow3r Sunday, 4 March, 2012 at 13:28

    Aslmkm Mba Reisha,

    InsyAllah saya mendaftar beasiswa MEXT periode ini. Sekarang saya sedang menyiapkan dokumen2nya. Mba Reisha masih ada ngga dokumen yg dulu dipakai untuk mendaftar, maksud saya untuk form-nya (terutama form application dan field of study)? Mba Reisha kan diketik mengisinya, jadi mungkin masih ada kah file nya?
    Saya ingin menghindari kesalahan dalam pengisian form tersebut. Kalau mba berkenan, mohon di emailkan ke saya (littleflow3r [at] gmail [dot] com), atau gimana caranya terserah mba Reisha.
    Atau mungkin mba Reisha punya contoh lain (dari net atau yg lain yang bisa saya pakai sebagai contoh), juga gpp🙂

    *untuk data yg sekiranya rahasia atau mba Reisha ngga pengin ditunjukin, gakpapa dihapus sebelumnya. Terimakasih ya Mba Reisha. Semoga selalu didekatkan dengan Allah.

    Wslmkm.

  2. all4m Monday, 5 March, 2012 at 20:34

    kalo melihat kereta eks Jepang yang dipake di sini sih emang ada tanda dilarang menelpon ya. Tapi kalo dilarang ribut mungkin kesadaran masing-masing saja. Tapi dempet-dempetan juga ga ya di sana kalo jam kerja?

    • Reisha Monday, 5 March, 2012 at 20:42

      Jam kerja juga dempet-dempetan da Alam. Video http://www.youtube.com/watch?v=E7kor5nHtZQ mungkin bisa jadi gambaran😀

  3. Ayu Diah Lestari (@ayuudl) Saturday, 17 March, 2012 at 19:16

    Assalamualaikum ka Raisha.. Subhanallah banget kak perjalanannya buat ke lulus beasiswa MEXT sampe udah di Jepang. Jadi kepengen banget.. :”) Aku insya Allah tahun depan mau coba buat ikut MEXT. Doakan ya kak biar bisa seperti kakak. Oh iya kakak ngambilnya yang U to U ya? Aku masih SMA kelas XI kak. Salam kenal🙂

    • Reisha Sunday, 8 April, 2012 at 23:25

      Waalaikumsalam wr wb. Saya ambil yang G to G, hehe. Kalau yang untuk lulusan SMA beda lagi proses seleksi beasiswanya.

  4. yumugee Sunday, 8 April, 2012 at 11:06

    permisi mbak, mw nanya

    saat ini masih kuliah S1 di salah satu universitas swasta jurusan Sistem Informasi.
    ada beberapa yg ingin saya tanyakan.
    1. apa beasiswa monbu boleh diikuti mahasiswa dari universitas swasta? atau hanya PTN?
    2. kalau jurusan S2 di universitas Jepang yang tepat buat ngelanjutin dari Sistem Informasi apa y?
    3. adakah perguruan tinggi di tokyo/chiba yg memiliki jurusan sesuai buat ngelanjutin dari Sistem Informasi?

    nyesel bener dulu ini masuk ips bukan ipa

    makasih ya🙂

    • Reisha Thursday, 12 April, 2012 at 23:48

      Untuk pertanyaan 1, jawabannya boleh, ga dibatasi kok.

      Untuk pertanyaan 2 dan 3, saya tidak tau. Begini, ketimbang mencari jurusan yang tepat, mending kamu cari info lab mana yang risetnya sesuai dengan research interest kamu. Lalu nantinya kamu otomatis masuknya ke jurusan di mana si profesor bernaung. S2 di Jepang cukup didominasi oleh riset, jadi carilah yang topiknya cocok dengan kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: