#6: Hidup Sebagai Muslimah di Jepang

Bagaimana rasanya hidup sebagai muslimah di sini? Tidak mudah, tapi seru. ๐Ÿ™‚ Tidak mudah, karena memang tidak seenak dan senyaman di Indonesia. Seru, karena di sini kita bisa jadi kreatif mengakali kondisi, serta merasakan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah dirasakan di Indonesia.

Tentang Shalat

Shalat, sesuatu yang wajib yang jadi menantang di sini. Tantangannya tidak hanya soal tempat, tapi juga soal waktu dan wudhu.

Kalau di Indonesia kita masih memakai kerangka berpikir bahwa shalat itu di masjid atau mushala (saat ke luar rumah), maka di sini kita harus mengubah itu: bahwa shalat itu bisa dilakukan di mana saja (selain di toilet dan kuburan tentunya). Tidak mudah menemukan masjid/mushala di sini. Ada, tapi jumlahnya masih sedikit sekali. Di kampus pun kadang tidak ada tempat khusus untuk shalat.ย Saat bepergian,ย location hunting ย untuk shalat pasti masuk dalam agenda kegiatan. Biasanya saya mencari tempat yang kemungkinan tidak banyak dilalui orang. Shalat di pojokan ruangan, di ruang ganti toko baju, di bawah tangga gedung, di taman, dsb sudah biasa. Dilihat sampai difoto-foto orang pernah dialami, ditegur satpam juga pernah. Awalnya saya akui itu susah, risih kalau dilihat orang, shalat juga sering jadi tidak tenang. Di situ ujiannya. Tapi ย lama-lama saya camkan ke diri saya supaya bisa secuek mungkin supaya shalatnya bisa tenang. Tidak apa-apa dilihat orang, toh yang penting kita tidak mengganggu, dan anggap saja kita mengenalkan Islam kepada orang yang tadinya tidak mengenal Islam. ๐Ÿ™‚

Shalat berjamaah di Mt. Takao waktu Hiking Momiji PMIJ 2010. Kiblat pas mengarah ke bagian tempat orang lewat. Diliatin orang, tapi cuek saja.

Dengan segala aktivitas yang dilakukan, kita mesti menyesuaikan diri dengan waktu shalat. Kadang ada masanya di mana ada kegiatan saat jam shalat lalu kegiatan itu tidak selesai sebelum waktu shalat berikutnya, alhasil mesti cari cara supaya bisa shalat. Minta izin sekitar 10 menit untuk shalat insyaAllah tidak masalah. Komunikasikan saja dengan baik. Selain itu, dengan kondisi Jepang sebagai negara empat musim, otomatis jadwal shalat akan bervariasi sepanjang tahun. Ada kalanya subuh sekitar ย jam setengah 3 pagi, ada juga masanya subuh sekitar jam setengah 6 pagi. Timpang sekali dengan di Indonesia yang jadwal shalatnya relatif sama sepanjang tahun.

Urusan berwudhu lagi-lagi tidak senyaman di Indonesia. Jikalau di Indonesia imej dari toilet itu adalah basah, maka di sini semua toilet kering. Saat berwudhu di wastafel pastinya ada cipratan air yang membuat basah. Ini sebaiknya dikeringkan lagi seusai berwudhu. Ga mau tentunya kalau sampai ada yang melabeli orang Islam itu ga bersih. ๐Ÿ™‚ Daripada ribet urusan wudhu, biasanya saya berwudhu dulu sebelum bepergian, jadi saat masuk waktu shalat nanti kita tinggal shalat. ๐Ÿ™‚

Tentang Puasa

Ramadhan salah satu masa di mana akan ada orang Jepang yang bertanya kenapa kita tidak makan dan minum pada siang hari. Another chance to introduce Islam. ๐Ÿ™‚ Saat ini sebagian orang Jepang alhamdulillah sudah kenal istilah Ramadhan, jadi insyaAllah lebih gampang menjelaskannya. Saya duluย surpriseย juga saat saya akan ada agenda lab 3 hari di luar Tokyo, saya bilang bahwa saya tidak pesan sarapan dan makan siang. Sudah berusaha menjelaskan panjang lebar bahwasanya saya sebagai muslim ada masa satu bulan di mana saya tidak boleh makan dari pagi blablabla, lalu profesor saya bertanya, “Ramadhan?”. Haiyah. Seringkali mereka juga akan berkomentar, “berat ya mesti puasa selama sebulan penuh”. Yaa, jawab saja dengan senyuman bahwa kita sudah biasa melakukannya, hehe.

Saat saya di sini kebetulan Ramadhan itu saat musim panas. Siang lebih panjang, otomatis waktu berpuasa jadi lebih panjang juga dibanding di Indonesia. Tapi puasa di musim panas tidak membuat lapar, kalau haus sih sudah pasti, hehe. Kalau puasa saat musim dingin waktunya lebih pendek karena malam lebih panjang. Musim dingin tidak membuat haus, hanya saja kita gampang lapar di musim dingin.ย Tapi kalau niatnya sudah kuat, kondisi apapun insyaAllah tidak jadi penghalang untuk berpuasa. ๐Ÿ™‚

Tentang Makan dan Minum

Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya, urusan makan jadi tidak mudah di sini, disebabkan mayoritas makanan yang beredar tidak halal. Ada sisi positifnya buat saya pribadi dari kondisi ini: saya “dipaksa” untuk memasak serta belajar lagi soal konsep halal-haram. Saya yang dulunya selama kuliah di Bandung tidak pernah memasak sekarang jadi menikmati sekali kegiatan masak-memasak, hehe.

Di Jepang sepertinya kita tidak akan terhindar dari acara yang namanyaย ้ฃฒใฟไผš (=nomikai). Sebuahย drinking partyย yang sudah jadi budaya buat orang Jepang. Adaย partyย pasti ada sake, bir, dkk. Kadang saya ikut party-nya, tapi yang pasti tidak ikut minum minuman kerasnya. Orang Jepang juga insyaAllah menghargai kita kok kalau kita bilang kita tidak minum minuman keras. Pertama kali saya ikut nomikai lab, seorang rekan lab pernah berkata kepada saya,ย “They don’t care whether you drink alcohol or not. They are happy that you join this party. So, don’t worry.” ๐Ÿ™‚

Tentang Jilbab

Sebagai muslimah berjilbab, yang mencolok dari penampilan kita tentunya jilbab. Alhamdulillah saat ini di Jepang sudah cukup banyak muslimah berjilbab, jadi tidak perlu merasa begitu aneh, hehe. Malah dari pengalaman saya pribadi, pakai jilbab justru memberikan keuntungan. Jilbab adalah identitas para muslimah, dari jilbab orang bisa tahu bahwa kita adalah umat Islam. Saat awal kedatangan saya keย school officeย di kampus, saya ditanyai petugas di sana, “Do you need special place to pray?”. Di Nishiwaseda Campus rupanya ada pojokan kecil buat shalat. Mungkin kalau saya tidak berjilbab, saya tidak akan ditanyai itu. Dari jilbab itu juga sebagian orang bakal langsung tau kalau saya tidak makan babi dan tidak minum minuman keras.

Berjilbab juga artinya siap-siap saja sewaktu-waktu ditanya-tanya oleh orang Jepang, hehe. Misalnya saja saat musim panas saya beberapa kali ditanyai apakah saya tidak apa-apa pakai jilbab panas-panas begitu, apa sebaiknya dilepas saja daripada kepanasan. Ehehe. Kebalikan dengan saat musim dingin, mereka akan berkomentar, sepertinya hangat yaa kepala ditutup seperti itu. Sering ditanyai juga kapan saja saya pakai jilbab, apakah saya selalu pakai jilbab kalau di rumah, nanti kalau sudah bersuami terhadap suami boleh buka jilbab atau ga, apakah warna jilbabnya mesti warna tertentu, punya berapa jilbab, beli jilbabnya di mana, dll. Pertanyaan yang bikin dilema mungkin saat ditanya, kalau memang jilbab itu wajib, kenapa ada yang tidak pakai jilbab? Lebih dilema lagi kalau ditanyanya pas lagi bareng teman muslimah yang tidak berjillbab. Nah lo.

Tentang Masjid dan Adzan

Pernahkah Anda merasa rindu dengan masjid dan suara adzan? Saya rasa sebagian besar orang yang pernah tinggal di mana muslim adalah minoritas tau sekali rasanya seperti apa. Suara adzan tidak ada sama sekali di sini, di masjid pun biasanya suara adzan hanya dibuat bisa didengar di dalam masjid saja, tidak sampai terdengar keras di luar. Mendengar adzan secara langsung setelah sekian lama ga dengar itu kadang bikin merinding. Bertemu masjid itu rasanya luar biasa sekali. Jangankan masjid, saat mudik ke Indonesia, pernah suatu ketika pas lagi di jalan waktu untuk shalat sudah mepet, akhirnya mampir dulu ke tempat makan. Saya tanya mas-masnya ada tempat shalat atau tidak, akhirnya ditunjuki tempat kecil untuk shalat. Saya numpang shalat di situ, dan saat itu rasanya ingin menangis mengingat begitu mudahnya mendapatkan tempat shalat di Indonesia. Hidup di sini sudah mengajarkan saya betapa berharganya ketersediaan tempat shalat, walau itu hanya sepetak kecil.

Tentang Idul Fitri dan Idul Adha

Tahun pertama saya di Jepang, saya tidak mudik ke Indonesia saat Lebaran, jadilah berhari raya di Tokyo ini. Bagaimana rasanya? Rada sedih sih. ๐Ÿ˜ฆ Di Indonesia malam sebelum Lebaran pastilah suara takbir menggema di mana-mana ย menyambut hari kemenangan. Di sini jangan harap. Yaa, paling bisa menghibur diri dengan dengar via internet, hehe. Kalau shalat ied, saya ikut shalat ied di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Di sana pas shalat ied ramai sekali, takbiran juga ada sedikit, walau cuma bisa didengar dari dalam SRIT-nya saja. Saat Idul Fitri, KBRI Tokyo biasanya juga mengadakan open house, jadi kita bisa silaturrahim sambil makan-makan di sana seusai shalat ied, hehe. Tapiii, setelahnya, ya kembali lagi seperti hari biasa, suasana Lebarannya langsung hilang, huhu. Begitu pula saat Idul Adha, shalat ied juga lumayan ramai, tapi suasana kurbannya ga berasa, hehe. Sepertinya kurban orang-orang di sini disalurkan ke Indonesia dan ga ada potong hewan kurban di sini ๐Ÿ˜›

Oia, Idul Fitri dan Idul Adha tentunya tidak jadi hari libur di sini. Pas saya di sini kebetulan Idul Fitri jatuh pas libur musim panas, jadi tidak ada masalah. Pas Idul Adha, kalau jatuhnya pas hari kerja, mesti mempertimbangkan apakah tidak masuk kuliah demi shalat ied atau tetap masuk kuliah jadi tidak bisa ikut shalat ied, hehe.

*****

Apapun tujuan kita menuju belahan bumi Allah bagian mana pun, ada hal yang mesti kita pegang erat, yakni keislaman kita. Kadang mudah, kadang susah, tapi saya yakin ada hikmah dari semuanya.

There are so many “ladang amal” here. Everytime we study hard, everytime we struggle to find place for praying outside, everytime we keep ourselves away from haram food, every time we step our feet for finding knowledge, everytime the tears come streaming down our face because living here is so hard; everytime, everything could be great things if we do that just because of Allah. — Reisha Humaira

Advertisements

109 thoughts on “#6: Hidup Sebagai Muslimah di Jepang

    1. waalaikumsalam. wah bener juga kelupaan nulis itu. tulisannya udah saya update ya. saya tambahin tentang Idul Fitri dan Idul Adha di akhir tulisan, hehe. arigatou ๐Ÿ˜€

      1. Assalammu’alaikum.maaf mbak reisha ini penerima beasiswa jepang ya?beasiswa kategori pa mbak?sy ingin mencoba beasiswa teacher training tapi sy kok masih agk bingung dg persyaratannya.mhn blsn.trmksh

  1. Amazing.. g’kebayang bgt gimana nglakuin itu semua.. apa lagi klo saya sebagai laki-laki, yang pengalaman masak-memasak sangat minim, bikin rendang formula emak pun akan ribet nemuin bahannya… ๐Ÿ™‚
    Super sekali sdri Reisha.. mgkin, yang bisa bikin pusing klo wudhunya batal dijalan.. bisa-bisa jadi lbih rajin dari OB dalam hal membersihkan wastafel.. semoga anda dimudahkan..

  2. asssalamualaikum,
    saya suka sekali dengan cerita di blog ini terutama kata terakhir yang anda sampaikan “There are so many โ€œladang amalโ€ here. Everytime we study hard, everytime we struggle to find place for praying outside, everytime we keep ourselves away from haram food, every time we step our feet for finding knowledge, everytime the tears come streaming down our face because living here is so hard; everytime, everything could be great things if we do that just because of Allah”…sungguh menyentuh saya untuk lebih beriman kepada allah

  3. Salam kenal, Teh. Sy mahasiswi ITB juga, mau brangkat ke Jepang dan dipertemukan Google untuk berkunjung ke blog teteh ๐Ÿ™‚
    Merangkum banget Teh tulisannya, sy pernah berkunjung 1 minggu ke sana dan sudah merasakan kesulitan2 tsb di atas, skrg untuk waktu yg lebih lama, saya harus menetap di sana.

    Kalau saya bilang, hidup di luar negeri itu menguji keikhlasan kita karena hanya ada Allah dan kita. Tanpa mata2 lain yang melihat atau peduli apakah kita beribadah dengan baik atau tidak :).

    Kalo teteh gmana kiatnya biar bisa tetep istiqomah, Teh?

    1. Salam kenal Ratih. Wah pertanyaan sulit, hehe. Mungkin salah satu kiatnya perbanyak berteman dengan orang saleh dan sering2 ikut pengajian. Kita bertemu beraneka ragam orang di sini dan bergaul dengan siapa saja, dari yang ga kenal agama, yang non muslim, yang muslim tapi cuek sekali terhadap ajaran agama, hingga yang muslim taat. Tapi untuk dijadikan teman yang dekat dan akrab saya rasa kita memang mesti pilih2. Yang agamanya bagus tentunya pilihan yang tepat, hehe. Lingkungan pertemanan kita di sini menurut saya berpengaruh sekali terhadap cara pandang kita terhadap ajaran agama. ๐Ÿ™‚

  4. Nyari-nyari referensi soal persiapan sebelum berangkat ke Jepang (terutama soal packing biar nggak over-baggage di airport :P), tapi jadi baca-baca postingan Mbak yang macem-macem. Good read. d(^w^)b Nangis saya, baca quotenya Mbak yang dikotakin di ujung tulisan ini. Ayo tanggung jawab…
    Hope to be able to see you someday, meski saya di barat (Kanazawa) dan Mbak di timur (Tokyo). ๐Ÿ˜‰

  5. Kak Reisha, ^_^ critanya menginspirasi bgt.. Jd inget critanya kak Hanum Salsabila Rais (buku 99 cahaya di langit Eropa) waktu harus tinggal di Austria dan hidup sebagai minoritas. Disana jg susah mendengar suara adzan, juga gak mudah bertemu masjid. Banyak yg bertanya jg ttg puasa. Tak sedikit jg yg menawarkan makanan/minuman haram.

    Jadi sangat bersyukur krn masih bsa sering mendengar adzan dan melaksanakan aholat tanpa trlalu banyak rintangan.
    Tp ^_^ pengalaman kakak tetap menggiurkan.. Smoga ada kesempatan dan jalan untuk bisa mendapat pengalaman yg sama..

    Semangattt kakk…. ^_^ d

      1. mbak, bisa bagi alamt emailnya? udah lumayan lama saya nyari info tntng beasiswa di jepang tp msh ada yang bingung. bisa ya mbak, please…………………

  6. hebat! saya kagum sama keteguhan kakak menjaga kewajiban kakak sebagai seorang muslimah di negeri sakura ^^
    kak mau tanya nih, orang jepang kan waktu mau makan suka bilang “itadakimasu”, nah menurut kakak apakah kata tersebut halal/haram diucapkan oleh seorang muslim? soalnya saya pernah denger kalo kata itu arti aslinya adalah ucapan syukur kepada dewa…
    mohon dijawab ya kaak,
    hontou ni arigatou ^^

    1. wogh saya baru tau ada yang bilang gitu. setau saya ucapan “itadakimasu” itu bagian dari etika makan aja, sebagai ekspresi ucapan terima kasih atas makanan yang siap disantap. menurut saya ga masalah sih selama niatnya bukan untuk berterima kasih kepada selain Allah. tapi sebagai muslim alangkah lebih baiknya sebelum makan yang dibaca itu doa sebelum makan, atau minimal bismillah, hehe.

  7. subhanallah.. ใ›ใ‚“ใฑใ„ใฏใจใฆใ‚‚ใ™ใ”ใ„ใงใ™ใญ ^.^
    banyak bgt pelajaran yg saya ambil dr beberapa artikel senpai, alhamdulillah saya jd lebih semangat ingin sekolah di Jepang..
    ใฉใ†ใ‚‚ใ‚ใ‚ŠใŒใจใ†ใ”ใ–ใ„ใพใ™ใ€€

  8. allahu akbar ๐Ÿ™‚ gimana ya, tiap hari gak ndengerin adzan? gimana ya suasana lebaran kayak gitu? aku jadi pengin nangis mbayangin gitu T_T mba semangat ๐Ÿ™‚ ganbate kudasai

  9. assalamu’alaikum kak rei, salam kenal ๐Ÿ™‚
    aaa aku ngefans banget sama kak rei, tulisan-tulisannya inspiring sekali ๐Ÿ™‚
    kemarin alhamdulillah dapet kesempatan exchange selama 5 minggu di tokyo.. baca2 blog kakak jadi teringat kembali masa-masa disana. apalagi tentang perjuangan menjadi seorang muslimah :’)
    insyaAllah habis lulus dari itb mau nyoba apply s2 ke jepang. mohon doanya ya kak :). kakak sampai kapan di jepangnya? ingin sekali bertemu ๐Ÿ˜€

  10. nice articles,, truly help,, thanks,,
    saya jg mau ambil beasiswa yg teacher training,,,
    smga, jd senjata ampuh menembus seleksi beasiswa ke Jepang,,,
    Ya Allah, mudahkanlah jalan saya menimba ilmu ke Jepang.Aamiin.

  11. Assalamu’alaikum, mbak.. Salam kenal.. Tadi lagi browsing2 daftar makanan halal eh malah nemu blog ini ๐Ÿ™‚ . Saya juga baru 3 bulan ini tinggal di Jepang, dan kurang lebih ternyata pengalaman kita sama ya, mbak… Ribetnya shalat pas berpergian (shalat di kursi taman, di tangga darurat mall, bahkan pojok parkiran), ngabisin tissue buat ngelap wastafel setiap abis wudhu, searching and hunting produk2 makanan halal, belajar masak (saya tinggal di Maebashi yang ga ada satu pun tempat makan berlabel halal), susahnya menolak ajakan “party” dari sensei2 dan senpai2 (mesti hati2 milih menu), etc etc. Alhamdulillah saya tidak sendirian, saya dan teman2 saya (kami berlima) berusaha untuk saling mengingatkan. Apapun, anekawarna dan anekarasa kehidupan selama di negeri sakura ini akan jadi pengalaman yang sangat berharga saat sudah kembali ke negeri asal (bahagianya ada mushalla dan masjid dimana2, ga perlu repot2 bawa bekal setiap kali mau jalan2 -tinggal masuk ke rumah makan terdekat).

    1. Hmmm, sejujurnya saya ga tau persisnya, soalnya ga pernah jg nanya ke cowo2. Kl yg bs menjangkau mesjid biasanya ke mesjid. Kdg ada jg yg ngadain di ruangan kampus/gedung kl yg mau jumatan banyak. Coba tanya ke yg cowo aja kl mau tau lbh jelas..

  12. Tidak shalat ied, tidak berkurban pasti sedih rasanya.
    Saya juga mau bertanya, apakah ini artinya orang jepang menerima perbedaan? seperti pada kalimat Do you need special place to pray?, yang dilontarkan dari petugas disana?

  13. Kak reisha.. ^_^ Mw nnya nih.. sya sring dngar klo org2 jepang gk bgtu mmprdalam bhs inggris,, tuh bner gk ya kk..?? soalnya sya ingin ke jepang tpi gk trlalu mahir bhsa jepang T_T klo bhsa inggris msih bsa.. hehe..
    sblumnya trma ksih sdah brbagi pngalaman ya kk..

    1. Siapa bilang masjid di Jepang cuma satu? Ada banyak kok. Dan shalat jumat kan ga melulu mesti di masjid. Di beberapa kampus mahasiswa muslimnya meminjam tempat atau ruangan untuk dipakai shalat jumat.

  14. Assalamu ‘alaikum..
    Kak mau tanya, kan kalo didunia barat itu suka ada pelecehan trhadap muslimah yg brjilbab dan ada juga yg fobia islam. Kalo dijepang ada ga kak yg prnah ngalamin plecehan atau ktemu org yg fobia islam?
    Trus wktu kaka ditanya knapa ada muslimah yg ga pake jilbab pas ada orang’a jg kaka jawab’a apa? Aku bingung bgt soal’a kalo bgitu..
    Syukron ya kak..

    1. Waalaikumsalam Mery. Tentang pelecehan terhadap jilbab atau fobia Islam alhamdulillah ga pernah nemu di Jepang. Mereka ga masalah dengan jilbab, dianggap kayak fashion aja mungkin sama mereka, kayak orang yang pake topi, hehe. Kalo ditanya ada muslimah yg ga pake jilbab, biasanya saya ibaratkan dengan sikap orang terhadap peraturan aja. Ada orang yang mematuhi aturan dan ada yang ngga. Tapi biasanya jawab gini kalo lagi ga sama temen yang ga pake jilbab aja, hehe. Kalo ada orangnya langsung, mending dia yang jawab ๐Ÿ˜€

      1. ass,mbak….. seru ceritanya. oh ya mbak, bs bagi alamat emailnya? alnya saya butuh bantuan tok informasi beasiswa kejepang. bisa ya mbak, please…………….

    1. Bahasa Jepang relatif susah menurut saya. Hurufnya jelas bikin pusing, jumlahnya ada banyak, cara bacanya juga macam-macam. Trus perubahan bentuk kata kerjanya juga banyak. Tapi kalo suka dan memang mau belajar pasti bisa kok ๐Ÿ™‚

  15. Assalamualaikum….
    Sepertinya berat ya bila tinggal di jepang…
    Saya sendiri tidak bisa membayangkan….
    Ya allah…. semoga bagi umat muslim d jepang sll d beri kmudahan. Kesabaran. Kekuatan. Keberkahan. Dan amal pahala yang berlimpah.
    Semangat selalu ya.
    Wasalamualaikum.

  16. moshi moshi..
    mau tanya dong kak, misalnya tinggal di jepang itu seminimalnya kita belajar bahasa jepang yg mananya ya kak ? biar orang sana ngerti apa yg kita maksud juga, istilahnya yg penting “i know, you know” gitu..

    1. Waalaikumsalam Diah. Kalau saya biasanya pakai tisu yang dibasahi. Di tiap toilet biasanya selalu ada tisu, tinggal dibasahi dulu dengan air dari keran di wastafel. Atau kalau mau bisa bawa botol kalau bepergian untuk diisi air untuk bersuci. Tapi tetap jaga supaya toiletnya tetap kering ya. Kalau ada cipratan air lebih baik dilap dulu sebelum keluar toilet.

  17. masya Allah…bisa ngebayangin tapi ga bisa ngebayangin juga.. hehe maklum belum pernah ke luar negeri. dan yang selalu terlintas bila di luar negeri dengan muslim sebagai minoritas pasti mengenai ibadah dan makanan haram.
    tulisan kaka sangat bermanfaat. gak perlu khawatir lagi mah soal itu. bisa fokus ke hal lain^^

    jadi inget suatu quote. kalau gak punya seseorang untuk bersandar ketika kita sedang dalam masa kesempitan, maka selalu ada lantai untuk bersujud. apapun yang terjadi bila dijalani ikhlas lilahi taala pasti akan selalu diberi kemudahan. :’)

  18. assalamualaikum kak, aku pengen nanya, apakah disana suka ada diskriminasi gitu? dijauhin gitu ga sih kak kalo pake jilbab? terus kalo waktu solatnya bisa tau darimana kak? hehe

    1. Waalaikumsalam. Di Jepang ga ada diskriminasi kok sama yang berjilbab. ๐Ÿ™‚ Kalau waktu shalat tinggal lihat dari app adzan di HP. Atau bisa juga cek di web semacam islamicfinder.org.

  19. assalammu’alaikum ka reisha..
    thanks udah mau share info ttg muslim disana..
    aku mau nanya nih ttg beasiswa monbukagakusho, kaka waktu daftar beasiswa itu statusnya sudah diterima univ. disana atau belum ? untuk mendaftar beasiswa ini apakah kita harus diterima dulu oleh univ. disana atau pendaftaran ke universitasnya dilakukan setelah kita menerima beasiswa ini? yoroshiku onegaishimasu. ๐Ÿ™‚

    1. Waalaikumsalam. Maaf baru dibalas, saya dah lama ga buka WordPress ๐Ÿ˜€

      Dulu waktu saya daftar, saya belum diterima di universitas di Jepang, bahkan belum mencari profesor pembimbing di Jepang. Saya baru mencari profesor setelah saya lolos seleksi di Kedubes Jepang di Jakarta. Untuk mendaftar, kita ga harus diterima dulu sama kampus di Jepang, cuma memang lebih baik kalau sudah kontak dengan profesor di Jepang, apalagi kalau sudah ada profesor yang bersedia menerima kita untuk jadi mahasiswa di labnya.

  20. Assalamu’alaikum oneechan! ^^
    aku dari kecil, kan, udah tertarik banget sama Jepang. Aku udah belajar hiragana sama katakana, tapi yang paling susah itu kanji. Gimana sih, cara belajar kanji itu??? Trus, aku pengin banget kuliah di Jepang, tinggalnya itu di hotel atau di sewa?? satu lagi! Kota di jepang yang banyak penduduk Muslimnya itu di mana?? Udah, deh, itu aja. Arigatou!

  21. assalamualaikum…
    subhanallah,,,inspiring sekali,,bermanfaat…semakin membuka wawasan saya about japan,,doakan saya juga ya mba..one day saya jadi berangkat ke jepang (insya allah 2015) dan merasakan apa yang mba rasakan saat di jepang…boleh bagi email nya gaa,,,heeehee

  22. Assalammu’alaikum kak ๐Ÿ™‚
    saya Martina, salam kenal ๐Ÿ™‚

    saya benar-benar tertarik bagaimana pengalaman kakak berhijab selama berada di Jepang??
    bagaimana muslimah disana mengenakan hijab??
    dan apa perbedaan yang mencolok antara gaya berhijab muslimah di Indonesia dengan muslimah diluar???

    ditunggu banget sharing nya ๐Ÿ™‚
    bolehkah saya meminta alamat email kakak??
    pengen banget bisa ngobrol
    ini alamat email saya, martinanoviyanti@gmail.com

    1. Waalaikumsalam. Maaf baru balas. Saya jarang buka WordPress akhir-akhir ini. ๐Ÿ˜€

      Muslimah “di sana” ini maksudnya gimana ya? Muslimah yang orang Jepang atau muslimah dari negara manapun yang tinggal di Jepang? Kalau yang dari luar Jepang sih biasanya masih seperti bagaimana muslimah di negara asalnya berhijab. Kalau yang orang Jepang kebetulan yang pernah saya temui dikit banget dan gaya berhijabnya juga biasa aja, ga ada perbedaan mencolok dengan muslimah di Indonesia. ๐Ÿ˜€

  23. Saya seorang pelajar sma .saya ada niat kalo allah ngizinin kuliah dijepang. Saya pemakai jilbab. Apa nanti kalo dijepang pakai hijab akan dibully?mendapat teman?atau malah dikucilkan? Terus gimana bisa ikut tes pendaftaran beasiswa kuliah dijepang ? Oia ka bagamaina kehidupan dijepang apa harus memakan banyak biaya untuk makan dan lain lain ?

    1. Soal jilbab tidak ada masalah. Saya sudah tulis dalam postingan ini. Beasiswa kuliah di Jepang ada banyak macamnya. Coba cari info dulu, baca syarat dan prosedur pendaftarannya, nanti tinggal diikuti prosesnya. Biaya hidup di Jepang tergolong mahal apalagi kalau dikonversikan ke rupiah.

  24. Assalammualaikum kak,pingin nanya dong
    sebelum beasiswa di jepang kaka kuliah dmn? ipk nya berapa? *hehe penasaran
    terus waktu penyeleksian, apakah kaka sudah bisa bahasa jepang atau belum??

  25. Assalammu’alaikum, Reisha Senpai.
    Watashi wa Arum-desu. Yoroshiku onegaishimashu.
    Wih blog nya mengiinspirasi sekali. Ternyata menjadi muslimah di negeri Sakura itu tidak begitu mudah seperti halnya di Indonesia ya, senpai.
    Oiya senpai. Karena kebetulan arum baru kelas 3 SMK jurusan Animasi dan berniat melanjutkan kuliah di Jepang. Jadi boleh dong arum minta pengalaman yang banyaaakkkkk banget dari senpai selama kuliah disana ๐Ÿ™‚
    Boleh kan senpai minta alamat emailnya senpai? ๐Ÿ™‚ lumayan juga kan untuk menambah hubungan silaturahmi sesama muslim:)
    Arigatou Gozaimashu.

  26. Halo Reisha,
    Nama saya Nurmianti, saya ingin memposting tulisan ini di salah satu situs pendidikan di Indonesia, karena saya rasa akan banyak membawa manfaat termasuk salah satunya adalah memotivasi para pelajar muslimah Indonesia yang tidak yakin memakai jilbab saat akan kuliah di luar negeri. Untuk itu saya mohon izin dari Reisha untuk memberikan izinnya. Email saya ada di Nurmianti@hotcourses.com

  27. Assalamualaikum mbak , saya kelas 2 sma mbak minat banget mau ke jepang,, pengen sekolah disana ,, tapi saya sekarang sikonnya sekolah di pondok .. (gontor) jadi sempet kebingungan juga gimana kedepannya ,, soalnya ilmu eksak disini juga yah~ begitulah.. mau tau info tentang pelajar/ mahasiswi muslim disana gimana ya mbak? makasih atas infonya ..
    Wassalam..

  28. Assalamualaikum kak, aku mau tanya kan aku mahasiswa jurusan agama islam, apakah dg jurusan aku yg skrg ini bisa lanjut kejepang, maksudnya itu kaya ada keterkaitan ga antara jurusan s1 ama nanti kalo mau lanjut s2? mohon dijawab ya kak, soalnya aku pengen lanjut kesana

    1. Waalaikumsalam. Saya ga paham ya kuliah jurusan agama Islam belajar apa aja, kalau emg mau lanjut master ke Jepang kamu mesti cari kampus/profesor yang risetnya terkait agama Islam. Yang saya tau ada islamic studies-nya di Keio University (https://www.kri.sfc.keio.ac.jp/en/lab/islamic.html).

      Btw keterkaitan jurusan S1 dan S2 itu requirement-nya beasiswa Monbukagakusho ya. Kalau kamu ingin belajar di jurusan lain yang ga terkait dengan S1 bisa aja, tapi artinya mesti cari beasiswa lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s