Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Sepotong Cerita Kuliah Master (Part 2): The Courses

Gedung 51 Nishiwaseda Campus, Waseda University at Autumn

Melanjutkan tulisan sebelumnya, di tulisan ini saya akan menuliskan lebih detail tentang perkuliahan yang saya ikuti di kampus untuk memenuhi syarat 18 credits lecture itu. Ini sebenarnya mengingatkan saya pada tulisan rada geje waktu S1 dulu yang isinya me-review perkuliahan tiap semester, ahaha. (sem4, sem5, sem6, sem7).

Seperti yang telah saya tulis di tulisan sebelumnya, saya mengikuti International Program for Science and Engineering (IPSE). IPSE di Waseda University ini baru dimulai pada tahun 2010. IPSE diadakan sebagai bagian dari program Global 30 yang diinisiasi oleh MEXT Jepang untuk meningkatkan jumlah mahasiswa asing di Jepang. Salah satu kendala yang mungkin menurunkan minat mahasiswa asing kuliah di Jepang adalah bahasa Jepang. Oleh karena itu, Jepang mulai mengadakan international program di beberapa kampus, di mana perkuliahan dilaksanakan dalam bahasa Inggris.

Bisa dibilang saya termasuk mahasiswa awal untuk IPSE di Waseda University. Ibaratnya bayi yang baru lahir, kita tidak bisa langsung mengharapkan si bayi sudah bisa berjalan dengan baik apalagi berlari. Begitu juga dengan IPSE yang saya jalani. Saya maklum bahwa pengadaan international program itu dilakukan secara bertahap, dan tentunya butuh waktu yang tidak singkat.

Untuk perkuliahan, mungkin karena mahasiswa asingnya masih sedikit, maka beberapa kuliah yang ditujukan untuk IPSE mayoritas juga diikuti oleh mahasiswa Jepang. Pada prinsipnya, aturannya, kalau ada saja satu mahasiswa asing di kelas yang tidak mengerti bahasa Jepang, maka kuliah itu akan dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Hanya saja dalam pelaksanaannya tidak semudah itu. Mayoritas mahasiswa Jepang akan kesulitan jika kuliah diajarkan dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, dosen pengajar memilih berbagai opsi untuk mengatasi hal ini, misalnya tetap mengajar dengan bahasa Jepang tapi menyediakan bahan kuliah dalam bahasa Inggris untuk mahasiswa asing atau bahkan menjelaskan materi 2x yakni dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Beberapa masih ada yang “patuh” dengan aturan, yakni mengajar full dalam bahasa Inggris.

Tidak ada mata kuliah wajib, jadi kita bisa memilih sendiri kuliah yang ingin diambil dengan terlebih dahulu mendiskusikannya ke profesor pembimbing. Profesor pembimbing biasanya akan merekomendasikan kuliah yang sesuai dengan bidang riset di lab. Hanya saja dalam kasus saya, dari 20 mata kuliah IPSE yang tersedia, cuma 2 kuliah yang cocok dengan research interest saya, padahal saya mesti mengambil 9 kuliah untuk 18 credits >.<. Tadinya profesor saya menyarankan untuk mengambil kuliah yang sesuai bidang riset lab, tapi mayoritas dalam bahasa Jepang (mahasiswa IPSE tetap bisa mengambil kuliah reguler yang diajarkan dengan bahasa Jepang). Saya bilang ke profesor saya kalau saya tidak mampu, dan akhirnya profesor saya menyerahkan sepenuhnya kepada saya kuliah apa yang ingin saya ambil.

Mau tidak mau saya mesti ambil kuliah lain yang bahkan sebenarnya tidak saya sukai sejak S1 dulu, sebut saja computer network :P. Dengan kondisi seperti itu, maka saya benar-benar memilah pilihan kuliah yang tersedia sehingga saya tidak akan merasa tersiksa karena terpaksa *halah, lebay*. Ada banyak juga kuliah yang tidak ada ujian akhirnya, penilaian didasarkan pada report (ibarat take home test) saja, lalu sebisa mungkin saya pilih kuliah seperti itu😀. Report-nya tentu saja ditulis dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Jepang. Saya juga tidak memilih kuliah yang ada tugas pemrograman ataupun presentasi, hihihi (ini sih karena tidak mau repot saja :P).

*****

Warning: bagian ini panjang, kalau malas baca, skip saja ke bagian setelah tanda ***** berikutnya😛

Berikut ini adalah kuliah-kuliah Dept. Computer Science and Engineering yang pernah saya ambil. Judul mata kuliah saya link-kan ke silabus kuliah, sehingga rasanya saya tidak perlu menceritakan isi kuliahnya tentang apa😀. Mungkin lebih ke gambaran seperti apa suasana international program-nya.

Fall/Winter Semester 2010

Di semester itu saya masih berstatus sebagai research student. Saya ambil satu kuliah yang diajar oleh profesor pembimbing saya, yaitu Software Development Engineering (2 credits). Kuliah ini isinya tentang software framework, software component, pattern oriented, software architecture, aspect oriented, dan software product line. Profesor saya mengajar full bahasa Jepang, saya satu-satunya mahasiswa asing di kelas. Beliau memberikan slide beliau yang dalam bahasa Inggris ke saya. Tapi slide itu bukan versi terbaru, jadi ada materi yang mungkin tidak ada di sana. -_-“

Spring/Summer Semester 2011

Di semester ini saya sudah berstatus sebagai mahasiswa master. Kuliah-kuliah yang saya ambil sebagai berikut.

Advanced Information Networks (2 credits)

Dosen kuliah ini bisa dibilang mengajar dengan bilingual. Saat itu ada dua mahasiswa asing, tapi hanya saya yang tidak mengerti bahasa Jepang. Mayoritas kuliah diajarkan dalam bahasa Inggris, slide kuliahnya juga, tapi saat ada bagian yang cukup penting dosennya akan menambahkan penjelasan dalam bahasa Jepang. Dosennya sendiri menurut saya sangat berpengalaman di dunia network karena sudah berkecimpung di sana bahkan sejak internet belum ada.

Software Development Technologies 1 (2 credits)

Ini bukan kuliah IPSE, diajarkan dalam bahasa Jepang. Saya ambil karena materinya cukup familiar buat saya. Dari awal juga sudah saya cek kalau penilaiannya hanya dari report, jadi saya tidak perlu kuatir dengan ujian. Selain itu di awal kuliah saya pastikan juga ke dosennya apakah saya boleh menulis report dalam bahasa Inggris, dan katanya boleh. Hanya saja di tengah jalan saya pernah kewalahan karena beberapa kali dosen memberi soal (dalam bahasa Jepang) yang harus dikerjakan selama perkuliahan dan langsung dikumpulkan hari itu juga. Untung saja soalnya pendek-pendek, tapi tetap saja saya mesti menghabiskan beberapa menit untuk menerjemahkan soal berhubung banyak kanji yang tidak bisa saya baca. Sejak itu saya kapok mengambil kuliah dalam bahasa Jepang. Cukup sekali saja. -_-“

Software Quality Assurance (2 credits)

Kuliah ini diajarkan oleh associate professor yang membimbing riset saya. Beliau mengajar dengan bahasa Jepang, padahal beliau tau persis saya tidak mengerti bahasa Jepang T.T. Di awal kuliah sepertinya beliau belum menyiapkan materi dalam bahasa Inggris, sehingga beberapa slide awal masih full dalam bahasa Jepang. Seiring berjalannya waktu, beliau mulai menambahkan penjelasan bahasa Inggris di slide, dan di akhir semester slide-nya ada yang full bahasa Inggris. Materi di kuliah ini baru dan menarik buat saya, sensei-nya juga oke, sehingga akhirnya bidang riset yang saya pilih masih berhubungan dengan software quality assurance.🙂

Fall/Winter Semester 2011

Di semester ini saya menyelesaikan 18 credits lecture yang mesti saya ambil. Mulai semester ini juga mahasiswa asing di departemen saya tambah banyak. Kuliah-kuliah yang saya ambil sebagai berikut.

Network Applications (2 credits)

Saat saya akan mengambil kuliah ini, di silabus kuliah dosennya sudah menuliskan bahwa kuliah ini tahun 2011 akan diajarkan dalam bahasa Jepang, akan diajarkan dalam bahasa Inggris mulai tahun 2012, sehingga kalau mau yang berbahasa Inggris silakan ambil tahun 2012. Buat saya tidak ada cerita ambil kuliah tahun 2012, karena itu bakal jadi semester terakhir saya dan saya lebih memilih sibuk dengan tesis *caelah*. Untuk report tidak perlu kuatir karena boleh ditulis dalam bahasa Inggris. Ya sudah, saya tetap lanjut dengan kuliah ini. Menurut saya dosen ini yang paling seru mengajarnya dibanding dosen di kuliah saya yang lain. Sayang pakai bahasa Jepang, huhu.

Theory of Computer Software  (2 credits)

Ini satu-satunya kuliah yang saya ambil yang full dalam bahasa Inggris. Mahasiswanya sedikit, tidak sampai 10 orang. Tapi ini kuliah yang sangat membingungkan buat saya dari segi materi kuliah @.@. Entahlah, saya cari referensi lain di internet yang sesuai dengan model yang diajarkan dosennya juga susah. Kuliah juga lebih sering diisi dengan penjelasan dosen untuk satu soal. Bingung deh. -_-“

Wireless Communications Network  (2 credits)

Di kuliah ini tidak ada report, tapi ada ujian akhir. Saya ambil karena tidak ada pilihan lain yang pas. Untungnya kehadiran dinilai, persentasenya cukup besar, sehingga tidak pernah absen menurut saya sudah sangat membantu, kekeke. Ujiannya juga tidak susah ternyata. Dosennya mengajar dengan bilingual. Dan menurut saya beliau niat sekali, menyediakan slide dobel bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Jadi tiap mengajar, beliau akan switch bahasa terus. Slide halaman 1 bahasa Jepang, slide halaman 2 bahasa Inggris yang merupakan terjemahan dari slide 1, lalu slide halaman 3 bahasa Jepang. Begitu seterusnya. Tapi tetap saja, penjelasan bahasa Jepang beliau lebih banyak daripada yang bahasa Inggris, heuu. Menurut saya, metode seperti ini tidak efisien. Bisa dibilang materi kuliah yang mestinya diberikan dalam 1.5 jam harus dipadatkan dalam 45 menit karena harus menjelaskan dalam dua bahasa. Terlalu tergesa-gesa jadinya.

~~~~~

Kalau dijumlahkan, maka yang saya tuliskan di atas totalnya baru 14 credits. Lalu 4 credits lagi dari mana? Saya juga mengambil kuliah Advanced Technical Reading and Writing 1 dan 2, masing-masing 1 credit. Kuliah ini bermanfaat buat saya, jadi lebih mengerti struktur research paper dan belajar menulis research paper juga. Baru 16 credits. Nah, 2 lagi rada mistis sebenarnya dan bisa dianggap bonus, haha. Jadi saya disuruh profesor saya mengambil yang namanya Special Laboratory in Computer Science and Engineering A dan B, masing-masing 1 credit. Tidak ada kuliahnya, tidak ada tugas, tinggal tunggu terima nilai, hihi. Saya kira nilainya dari aktivitas riset di lab karena yang memberi nilai adalah profesor sendiri. Lumayanlah, huehe.

*****

Semua perkuliahan sudah selesai saya jalani. Dengan kondisi masih ada kendala bahasa, saya memang mesti lebih banyak belajar sendiri. Alhamdulillah saat ini lebih mudah mencari berbagai hal dari internet. Materi apapun bertebaran di internet, tinggal kita mencari dan memilah mana yang sesuai. Penerjemah semacam Google Translate juga turut membantu. Beberapa kuliah memang bukan dari bidang yang saya suka. Tapi ada kepuasan tersendiri buat saya saat saya mampu menyelesaikan report yang diminta dengan baik. Alhamdulillah.

Develop a passion for learning. If you do, you will never cease to grow. — Anthony J. D’Angelo

14 responses to “Sepotong Cerita Kuliah Master (Part 2): The Courses

  1. zakkafauzan Tuesday, 12 June, 2012 at 02:53

    Kayanya yang theory of computer software itu seru deh😛

    • Reisha Tuesday, 12 June, 2012 at 09:37

      Familiar kk sama materinya?😛 Tapi di kuliah yg senpat dibahas cuma yg program verification -_-” Yang bagian mathematical logic sama tool exercise ga ada -_-” Padahal saya sempat nungguin yg pake tool kali2 bisa lebih ngerti.

  2. Arr Rian Tuesday, 12 June, 2012 at 16:59

    wah panjang ceritanyooo… Nagai😀
    #lanjut baca lagi ah
    #numpang komen dulu

  3. Arr Rian Tuesday, 12 June, 2012 at 20:27

    oh ya mbak, kalo dapat Monbukagakusho untuk S3 apa nanti akan beljar bahasa jepang juga selama satu tahun ?

    • Reisha Tuesday, 12 June, 2012 at 20:48

      tergantung kampus dan senseinya.

  4. Arr Rian Tuesday, 12 June, 2012 at 21:10

    Baru selesai baca.. ^_^ wah emang kebanyakan diajarkan dengan bahasa jepang ya? walau internasional…memang bertahap.
    Saya ucapkan selamat karena sudah selesai menyelesaikan kuliah 18 credit. ^_^

    • Reisha Tuesday, 12 June, 2012 at 21:27

      ahaha, arigatou. kebetulan jg mungkin yg saya ambil mayoritas masih banyak pake bahasa Jepang😛

  5. jk. Tuesday, 26 June, 2012 at 20:37

    Menarik sekali membaca essay anda mengenai pengalaman kuliah master di jepang.
    Sebagai mahasiswa asing yang bahasa ibunya bukan bahasa jepang, bagaimana cara anda menangani kendala tersebut? (yang notabene bahasa jepang sangat sulit untuk diperlajari). Apalagi dalam mendukung pembuatan tesis diperlukan studi literatur dengan sumber kepustakaan yang pastinya akan didominasi buku-buku berbahasa jepang.

    ditunggu sharingnya, terima kasih.🙂

    • Reisha Tuesday, 26 June, 2012 at 23:08

      Buat saya pribadi, kebetulan untuk bidang computer science atau IT banyak bertebaran sumber dalam bahasa Inggris. Jadi untuk kuliah saya cukup tau topiknya apa, lalu saya cari bahannya di internet. Untuk riset ataupun tesis, saya tidak bergantung pada literatur dalam bahasa Jepang. Saya lebih banyak menggunakan paper atau buku berbahasa Inggris. Kuliah di Jepang bukan berarti sumber ilmu terbatas dari sumber berbahasa Jepang saja.

      • jk. Wednesday, 27 June, 2012 at 16:06

        Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan mengenai kuliah di jepang, terkait pengurusan akomodasi disana terutama sebagai foreigner tentu akan lebih sulit. (mungkin anda bersedia meluangkan waktu sejenak untuk menuliskan essay ttg pengalaman anda pertama kali datang di jepang).🙂
        Mengenai final test maupun tugas-tugas kecil disana, sepertinya cukup mengerikan melihat penjabaran anda diatas apalagi khazanah huruf kanji sangat banyak. Apabila membicarakan ‘standard’ yang dibutuhkan, minimal kualifikasi seperti apa yang diperlukan atau yang dapat dikatakan ‘pantas’ supaya tidak terseok-seok dalam pembelajaran kuliah master? (katakan saja mengacu parameter level pada jplt)
        Kemudian, kuliah master tentu tidak akan pernah lepas dari metode penulisan ilmiah yang notabene terkadang merepotkan. Lantas, bagaimana teknik dan sistematika penulisan ilmiah disana? apakah masing-masing pengajar punya metode yang berbeda? dan untuk dosen yang mengajar memakai sistem bilingual, apakah dibolehkan penulisan laporan dalam bahasa inggris?

        sekian dan terima kasih atas tanggapannya saudari Reisha.🙂

        • Reisha Wednesday, 27 June, 2012 at 17:08

          Soal pengalaman awal-awal di Jepang, sebenarnya saya sudah menulis beberapa di kategori 1st Year in Japan. Silakan dilihat-lihat.

          Soal akomodasi, dulu sebelum datang ke Jepang, kampus saya sudah membantu mencarikan asrama. Tentu saja tidak selamanya bisa tinggal di asrama. Sekarang sudah pindah, dan soal pengurusan pindahannya emang belum dituliskan.

          Soal ujian/tugas kuliah, saya ikut international program, tentu saja saya berhak mengerjakan ujian/tugas dengan bahasa Inggris walaupun ada dosen yang mengajar dengan bahasa Jepang. Di kelas yang bukan international program pun juga boleh dengan bahasa Inggris, dengan catatan dosennya mengizinkan. Makanya di salah satu kuliah yg saya sebutkan di atas saya bertanya dulu ke dosennya boleh atau tidaknya mengerjakan tugas dalam bahasa Inggris.

          Soal kualifikasi bahasa Jepang, supaya bisa mengerti kuliahnya sih sepertinya minimal sudah di level N2 JLPT.

          Soal penulisan ilmiah, maksudnya menulis apa? Kalau research paper kan tergantung format yang ditetapkan journal/conference-nya. Kalau tesis/disertasi ya tergantung kampus.

          Tapi menurut saya pengalaman saya tidak bisa digeneralisir untuk seluruh Jepang. Lagi-lagi, semuanya tergantung profesor pembimbing dan kampus. Soal bahasa tidak perlu terlalu dikuatirkan, toh ada juga di sini yang bisa bertahan tanpa bisa bahasa Jepang sama sekali. Yang penting ada kemauan untuk berusaha, insyaAllah ada jalannya. Saya datang ke Jepang juga tanpa tau apa-apa malah, dan tidak ada masalah berarti sejauh ini.

  6. jk. Thursday, 28 June, 2012 at 03:06

    Sepertinya memang diperlukan effort lebih untuk kuliah di jepang, apalagi universitas tersebut tidak menawarkan international program. Kalau mengira-ngira nih menurut saudari Reisha, seberapa besar prosentasi universitas di jepang itu menawarkan international program dan lebih banyak di universitas swasta/negeri?

    Sebenarnya yang ingin saya tanyakan lebih mengarah pada ada tidaknya perbedaan tata penulisan journal, tesis, dan disertasi tersebut bila dituliskan dalam bahasa jepang, Kemudian, bicara mengenai tesis yang tergantung kampus, secara teknis kira2 ada perbedaan yang signifikan tidak bila dibandingkan dengan tesis dalam program pascasarjana di indonesia?

    Selanjutnya saya ingin bertanya mengenai kehidupan di jepang, yang memiliki konotasi dengan pekerja keras. Nah, bagaimana kehidupan sebagai mahasiswa asing disana apakah mengharuskan kita untuk mengambil part time/magang supaya impact ke kita sendiri yang sebagai mahasiswa asing akan lebih dihargai?

    (yup saya setuju, yang penting ada kemauan untuk berusaha.
    Jadi agak berkepanjangan nih, apakah tidak masalah saya berkomentar pada jejaring ini? yang sudah sangat *oot* rasanya. haha) gomen.

    • Reisha Thursday, 28 June, 2012 at 13:40

      Tentang kampus dg international program, silakan lihat di http://www.uni.international.mext.go.jp

      Tentang penulisan, saya ga tau juga. Soalnya saya belum menulis tesis dan ga tau program pascasarjana di Indonesia seperti apa.

      Tentang kerja keras, saya rasa tidak ada hubungannya part time dg impact dihargai. Sebagai mahasiswa pascasarjana, lebih utama terlihat kerja kerasnya dr sisi riset di lab.

  7. delthairuzsh Sunday, 24 August, 2014 at 12:14

    nice post mas..😉 boleh minta pin bb atau no WA nya? pengen ngobrol2. trmksh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: