Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Almost 2 Years with Something Called “Research”

Fukazawa Lab. Saya heran kenapa di lab ini ada satu rak gede yang isinya komik, kekeke.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, salah satu alasan saya kuliah ke Jepang adalah untuk merasakan secara langsung dunia penelitian itu seperti apa. Sejauh ini, untuk level S2, saya rasa Jepang pilihan yang tepat untuk merasakan riset, karena porsi riset di sini cukup besar dibanding porsi kuliah. Sejak awal berada di kampus di Jepang kita langsung masuk lab dan tentunya sesegera mungkin berurusan dengan riset. Di beberapa negara lain sepertinya porsi kuliah di S2 masih lebih besar dan mungkin riset baru dimulai saat akan mengerjakan tesis saja.

Saya dan Dua Lab

Di ITB, nama sebuah lab didasarkan pada nama bidang keilmuannya, sebut saja lab basis data, lab rekayasa perangkat lunak, dsb. Di sini, sebuah lab dinamakan dengan nama sensei-nya dan bidang keilmuan yang dikaji di lab tersebut tergantung research interest sensei tersebut. Saya diterima di Waseda University di bawah bimbingan Yoshiaki Fukazawa-sensei. Otomatis saya menjadi member dari Fukazawa Lab.

Di lab sendiri ada banyak mahasiswa dan mereka dibagi-bagi ke dalam sejumlah research group. Sebuah research group isinya adalah beberapa mahasiswa yang topik risetnya sejalan atau dalam bidang yang sama. Tiap research group ini tidak langsung dikoordinir oleh sensei, mungkin karena Fukazawa-sensei tergolong sibuk. Maklum, pejabat di kampus.😛 Yang mengoordinir adalah associate professor, asisten, atau mahasiswa doktor.

Saya akhirnya bergabung dengan sebuah research group yang dibimbing oleh Hironori Washizaki-sensei. Beliau associate professor tapi sudah memiliki lab sendiri, yaitu Washizaki Lab. Walau labnya terpisah, dalam hal riset masih sering bareng. Kelas seminar isinya juga gabungan mahasiswa dari dua lab ini. Jadi, profesor saya yang sebenarnya adalah Fukazawa-sensei, tapi riset saya lebih banyak dibimbing oleh Washizaki-sensei.

Galaunya Memilih Research Group

Sebelum akhirnya menetapkan pilihan ke bimbingan Washizaki-sensei, saya sebenarnya sempat galau juga memilih research group yang ingin saya masuki *caelah*. Awal sampai di Jepang, Fukazawa-sensei memberitahu saya beberapa grup yang ada di lab, seperti framework, GUI, software pattern, software agent, accessibilty, dll. Saya mesti memilih mana yang ingin saya masuki.

Awalnya saya tertarik dengan accessibility. Bidang ini terkait dengan bagaimana agar perangkat lunak dapat diakses dengan mudah oleh orang cacat (people with disabilities), bagaimana agar mereka juga bisa memanfaatkan perangkat lunak seperti halnya orang normal. Saat itu saya berpikir, mungkin di situ saya bisa belajar tidak hanya dari sisi komputer, tapi juga dari sisi manusianya, serta turut berkontribusi membantu mereka yang memiliki keterbatasan.

Di suatu sore saya menghadap Fukazawa-sensei untuk bilang saya memilih accessibility, dan beliau pun akan mengontak koordinator grup itu supaya saya bisa ikut pertemuan grup yang berikutnya. Begitu saya keluar dari lab dan bersiap pulang, tiba-tiba saya didatangi orang Cina anggota lab yang lagi S3. Dia bilang mau bicara sama saya. Awalnya dia bertanya kenapa saya memilih accessibility. Aw, dia nguping obrolan saya dengan sensei tadi berarti. Saya bilang saja karena saya tertarik. Dia pun kemudian “menceramahi” saya.

Beberapa poin yang dia sampaikan adalah: Bahwasanya saya jangan memilih topik riset hanya berdasarkan ketertarikan saja. Saya juga mestinya memperhitungkan bagaimana prospek ke depannya, kalau saya lanjut S3 jangan sampai mengulang dari 0 lagi. Lalu faktor pembimbingnya juga perlu diperhatikan, apakah dia orang yang berpengalaman di bidang itu, apakah dia punya network yang bagus, dsb.

Waw. Saya memang sama sekali ga pernah memperhitungkan itu. Saya mikirnya pilih topik ya berdasarkan saya tertariknya tentang apa, soalnya kalau tidak tertarik lalu dipaksakan, ujung-ujungnya ga menikmati riset itu sendiri. Hmm. Saya juga ga ngerti, kenapa ujug-ujug orang itu mendatangi saya dan bilang itu semua? Apa untungnya buat dia? Apa masalahnya dengan yang membimbing topik yang tadi saya pilih? Karena super bingung, terakhir saya cuma bertanya ke dia, “OK, kalau pilihan saya kurang tepat, Anda menyarankan saya pilih apa/siapa?” Dia pun menyebutkan nama Washizaki-sensei. Akhirnya saya bilang saya akan pikirin lagi dan terima kasih atas obrolannya.

Di rumah saya pikir ulang lagi obrolan itu. Saya coba tanya ke teman apakah faktor sensei itu emang berpengaruh, dan dia bilang iya. Hmm. Waktu itu topik yang berada di bawah bimbingan Washizaki-sensei adalah seputar software pattern. Dibanding accessibility yang benar-benar baru buat saya, saya cukup familiar dengan kata-kata pattern karena waktu S1 sempat dapat materi kuliah tentang design pattern dan buat saya cukup menarik. Pada akhirnya, saya pun mengontak Fukazawa-sensei untuk mengganti pilihan saya. Entahlah, saya anggap pembicaraan waktu itu tanda buat saya kalau saya mesti ganti haluan.

Awal bergabung dengan grup itu, saya baru tau bahwa di bawah bimbingannya Washizaki-sensei tidak hanya ada satu grup. Saya masuk ke grup yang risetnya seputar pattern dan software model. Di pertemuan-pertemuan awal saya baca-baca tentang software pattern, lalu selanjutnya mengarah ke refactoring, lalu ke traceability. Sempat memantapkan diri di area refactoring dan traceability. Hanya saja, topik itu tergantung tool bikinan anggota yang lain sementara tool itu masih banyak bug-nya dan akan cukup mengganggu progres kerja saya. Akhirnya saya bicarakan lagi ke sensei dan beliau memberi 2 opsi: lanjut sambil bareng improve tool itu atau ganti ke topik lain. Dari pada nanti desperate di tengah-tengah kerjaan karena ketemu bug sementara ga tau bisa beresnya kapan plus si orang itu susah ngomong pake bahasa Inggris, akhirnya saya pilih ganti topik aja, haha. Mulai lagi deh dari awal. Pergantian topik ini juga akhirnya membuat saya pindah ke grup lain. Ya sudahlah, tidak apa-apa, hehe. Ah, kalau diingat-ingat lagi, panjang juga ternyata perjalanannya.😛

Aktivitas di Lab

Waktu S1 dulu, bisa dibilang TA adalah masanya mahasiswa mulai mencicipi riset. Kebetulan proses yang saya jalani selama TA adalah menghadap pembimbing membicarakan topik, tulis sesuatu, pembimbing membaca, ketemu pembimbing untuk membicarakan revisi dan langkah selanjutnya, tulis lagi, dibaca lagi sama pembimbing, dst. Entah kenapa buat saya suasana risetnya itu kurang berasa, saya merasa seperti mengerjakan tugas kuliah biasa saja.

Begitu di sini, yang saya jalani benar-benar berbeda. Di research group itu, kami ada pertemuan rutin setiap minggunya. Di pertemuan itu masing-masing mempresentasikan sesuatu. Yang saya alami, di awal sekali saya disuruh membaca buku, lalu kemudian disuruh mempresentasikan apa yang saya dapat dari buku itu. Lalu kemudian berlanjut ke membaca research paper dan mempresentasikannya. Dari paper yang dibaca itu, mulai dicari apa yang mungkin dikerjakan untuk riset saya. Setelah menemukan topik, saya mesti mempresentasikan progres pekerjaan saya. Intinya, setiap minggu ada diskusi membahas kerjaan yang telah dilakukan semua anggota grup. Metode seperti ini menurut saya bagus, beberapa dosen di ITB juga telah melakukannya. Mahasiswa terlatih untuk presentasi dan diskusi, tiap mahasiswa tahu apa yang dikerjakan temannya, pemahaman mahasiswa terhadap pekerjaannya bisa terlihat.

Tidak hanya presentasi dan diskusi, sensei saya juga cukup sering memberikan informasi tentang workshop, symposium, atau conference yang bisa diikuti. Tentu saja untuk itu kami didorong untuk men-submit paper untuk bisa mengikutinya. Jadi, walau tidak ada keharusan publikasi untuk kelulusan master, sensei biasanya mendorong agar kami punya submission target. Nanti saya cerita tentang workshop dan conference yang pernah saya ikuti di tulisan lain.

Oia, kalau dibanding rekan-rekan saya yang riset di bidang lain, bisa dibilang riset saya cukup “santai”, dalam artian saya tidak kenal yang namanya eksperimen di lab dengan alat-alat dan bahan-bahan khusus selama berjam-jam, bekerja dengan mesin-mesin entah apa, dan sejenisnya. Saya cukup bekerja dengan laptop saya dan itu bisa saja saya lakukan di kamar saya sendiri. Tapi godaannya jadinya juga besar, Anda pasti paham sekali nikmatnya berselancar di dunia maya dan ber-social media dengan internet yang kencang, fufufu.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip kalimat favorit saya dari sebuah paper, paper yang sangat menggambarkan kehidupan di graduate school itu seperti apa. Silakan dicari dan dibaca paper-nya.😀 Saya masih berjuang dengan riset saya (yang cukup sering bikin saya bingung sebenarnya apa yang saya kerjakan dan apa yang ingin saya capai :P), saya masih harus bekerja lebih keras lagi dibanding sebelumnya, dan saya berharap bisa menikmati setiap proses yang saya jalani.

Start small, think big, and keep yourself focused on your ultimate goal, which shouldn’t just be to get through graduate school, but to enjoy yourself, make progress towards being able to do what you want to do with your life, and learn something in the process. — Marie desJardins
in How to Succeed in Graduate School: A Guide for Students and Advisors (1994)

6 responses to “Almost 2 Years with Something Called “Research”

  1. petra Tuesday, 31 July, 2012 at 07:27

    Oneechan ganbatte!

  2. Arr Rian Tuesday, 31 July, 2012 at 07:36

    Lihat gambar yang ditampilin langsung ngakak😀 tapi emang komiknya hanya dipajang atau dibaca itu?
    Memilih sesuatu karena kita tertarik ternyata memang harus diimbangi dengan rencana jangka panjang, Untung ada yang ngingetin ya mbak😀
    Seruuu ya di Jepang kuliahnya lebih banyak di Lab,😀

    Oya, selamat menunaikan ibadah puasa😀

  3. bhellabhello Saturday, 4 August, 2012 at 21:36

    Pas banget nih baca artikel ini pas lagi banyak mixed feelings di otak aku yg tinggal menghitung hari buat jadi mhsiswa graduate school, kak. Quote-nya lsg bkn semangat. semoga semangat yg ada skrg nanti2nya ga luntur hehehe.

    aku copy quote-nya yaaaaa kak reishaa. mksyeee sharingnyaa

  4. NaNa Monday, 27 August, 2012 at 05:13

    kak, risetnya itu, diakhir masa (jatah) kita disana, nanti dipresentasikan (hasilnya) ke pihak tertentu dr yg ngasi beasiswanya ngga,?😀 ada apa ketergantungan kalau si riset itu harus beres sebelum kita dipulangkan,?😦 ? *seandainya ngga lanjut ke program master

    • Reisha Monday, 27 August, 2012 at 12:02

      saya ga tau gimana ceritanya kalo ga lanjut master. yang jelas kita ga ada tanggung jawab apa-apa ke MEXT selaku pemberi beasiswa, mungkin tanggung jawab ke profesor saja terkait risetnya.

  5. tia Friday, 2 November, 2012 at 01:14

    aslkm,,mbak reisha,,,
    kenalkan,,saya tia mbak..dari padang..
    saya berencana untuk ikut test monbusho thn 2013 ini mbak..tapi saya msh bngung mengenai surat2 yang hrus dipenuhi saat mendaftar mbak..
    banyak banget pertanyaan yg pgen saya tanyakan mbak…mmm…kalo’ boleh,,saya bisa minta emailnya gak mbak??
    biar lebih leluasa bertanya mbak??
    boleh ya mbak??
    pliiiizzzzzzz……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: