Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Balada Pindahan ke Apāto (Part 2): Mencari Apāto

Setelah menetapkan kriteria apāto yang diinginkan, saatnya datang ke fudosan. Dari hasil browsing di website fudosan, ada kemungkinan kita sudah menemukan pilihan yang cocok. Tapi ada baiknya juga kita lihat-lihat lagi pilihan lain yang ada di sana, siapa tau ada yang terlewat dari pencarian kita atau datanya belum dimasukkan ke website.

Prosedur Mencari Apāto via Fudosan

Langkah pertama tentu saja mendatangi kantor fudosan-nya. Untuk datang ke sana, jika tidak bisa berbahasa Jepang saya sarankan minta bantuan pada teman yang bisa berbahasa Jepang yang tulus dan ikhlas mau membantu *penting* untuk menemani. Sesampainya di kantor fudosan, kita akan diminta mengisi satu lembar form yang berisi data pribadi serta sejumlah kriteria apāto yang kita inginkan. Setelah itu petugasnya akan mencarikan data apāto yang sesuai dengan kriteria yang kita isikan tadi. Siap-siap lihat banyak kertas karena biasanya petugasnya bawa banyak print-an atau bundelan tebal berisi informasi apāto.

Selanjutnya kita bisa menentukan apāto mana yang kira-kira cocok. Di sini kita bisa tanya-tanya lebih banyak ke petugasnya, dan tak jarang pula petugasnya menjelaskan berbagai hal. Setelah dipilih, petugas akan mengantarkan kita ke apāto tersebut untuk melihat secara langsung apāto-nya seperti apa, jadi nanti tidak akan bagai beli kucing dalam karung. Tidak usah kuatir soal transportasi ke apāto-nya, karena tiap kantor fudosan biasanya punya mobil khusus untuk urusan ini. Saran saya jangan pilih melihat hanya satu apāto, pilihlah 2 atau 3 apato sehingga waktunya lebih efisien, karena tak jarang kita butuh datang ke beberapa fudosan sampai menemukan pilihan yang tepat. Siap-siap menulis mengisi data pribadi karena tiap datang ke fudosan akan selalu ada prosesi ini.😀

Berburu Apāto dari Gyotoku Hingga Kodaira

Sebelum datang ke fudosan tentunya saya mesti menetapkan saya ingin tinggal di daerah mana, karena kantor fudosan yang dituju juga tergantung lokasi tempat tinggal yang diinginkan. Kampus saya, Waseda University, enaknya diakses dari Takadanobaba Station. Karena saya mau sekali kereta saja ke kampus, maka saya mesti mencari di area jalur kereta yang melewati Takadanobaba Station. Takadanobaba station dilalui 3 jalur kereta: Yamanote Line, Tokyo Metro Tōzai Line, dan Seibu Shinjuku Line. Area Yamanote Line adalah area mahal, jadi saya skip area ini. Pilihan saya tetapkan ke Gyotoku di area Tōzai Line (sekitar 40 menit kereta ke Takadanobaba) karena orang Indonesia banyak yang tinggal di area sana, serta ada masjid dan toko halal. Saya tidak begitu kenal area Seibu Shinjuku Line, jadinya saya tidak terpikir mencari ke sana.

Karena bahasa Jepang saya cupu sekali, akhirnya saya minta bantuan kepada Mbak Yati untuk menemani. Tanggal 2 Februari saya janjian pergi ke fudosan dengan Mbak Yati. Walau kontrak asrama saya berakhir akhir Maret, saya mulai mencari apāto sejak awal Februari, bukan awal Maret. Kenapa? Karena bulan Maret itu musimnya orang-orang pindahan, persaingan mencari apāto sangat tinggi, sehingga akan lebih susah mencari yang sesuai untuk kita.

Siang itu pertama-tama kami ke Gyotoku, ke kantornya Able. Di website Able sebelumnya saya sudah menemukan apāto yang rasanya pas, tapi ternyata pemilik apāto tersebut tidak menerima orang asing. Selain itu katanya sewa apāto itu ternyata lebih murah dari kamar lain di gedung yang sama karena sebelumnya ada yang bunuh diri di kamar itu. Wew. Moral dari cerita ini: apāto bagus tapi harganya relatif lebih murah dibanding apāto setipe di lokasi yang sama itu patut dicurigai, haha. Tapi tenang saja, petugasnya tidak akan menutup-nutupi hal itu. Pokoknya benar-benar tidak akan beli kucing dalam karung. Masita dan saya ada pengalaman lebih lucu lagi malah.😀

Di Able saya tidak menemukan yang sreg, akhirnya kami pergi tanpa melihat-lihat langsung satu apato pun. Selanjutnya kami ke MiniMini yang terletak tidak jauh dari kantor Able tadi. Dari MiniMini ini saya menemukan 2 pilihan yang sepertinya cocok, lalu kami pergi melihat kedua apāto tersebut diantar petugasnya. Setelah dilihat-lihat, saya lumayan sreg dengan salah satu apāto, match sejumlah kriteria yang saya inginkan, sewanya hanya 38,000 yen/bulan, hanya saja jaraknya ke Gyotoku station 13 menit jalan kaki. Dari segi harga sih sudah pas sekali, tapi dari segi jarak saya masih mikir-mikir, apakah saya mesti mengorbankan kriteria ini. Hmm hmm.

Sembari berpikir, Mbak Yati pun bertanya kenapa tidak mencoba cari di area Seibu Shinjuku Line? Berhubung Mbak Yati masih bersedia menemani saat itu, kami pun segera pergi dari Gyotoku untuk ganti haluan. Sambil jalan kami browsing kira-kira mau ke stasiun mana, akhirnya kami tetapkan ke fudosan di Tanashi. FYI, Gyotoku ini sudah berada di Chiba Prefecture, di timur Tokyo, sementara Tanashi ini berada di Tokyo bagian barat. Takadanobaba berada di tengah-tengahnya. Jadi ini benar-benar dari ujung ke ujung, huehehe.

Di Tanashi kami mampir lagi ke Able. Lagi-lagi tidak menemukan apāto yang sreg, tapi saya cukup dapat pencerahan tentang transportasi dengan Seibu Shinjuku Line ke Takadanobaba Station. Seibu Shinjuku Line memiliki kereta ekspres, Kodaira-Takadanobaba sekitar 25 menit kereta. Dari stasiun pertama hingga Kodaira, hanya ada satu jalur kereta. Dari Kodaira, jalurnya bercabang, ada yang menuju ke Haijima, ada juga yang ke Hon Kawagoe. Artinya kalau tinggal lewat dari Kodaira ada kemungkinan saya butuh ganti kereta nanti di Kodaira kalau sebelumnya naik kereta tujuan yang berbeda.

Akhirnya saya perluas range pencarian saya, maksimal sampai stasiun Kodaira supaya tetap sekali kereta ke kampus. Di Tanashi tidak ada MiniMini, adanya di Kamishakuji. Kami pun ke sana, padahal sudah sangat sore waktu itu. Di MiniMini saya menemukan satu apāto yang sesuai dengan kriteria saya, letaknya juga cuma 2 menit jalan kaki dari Kodaira Station, hanya saja gedung apātonya tampak kurang meyakinkan buat saya dan harga sewanya 42,000 yen/bulan. Memang sih saya mematok maksimal 45,000 yen/bulan, tapi kalau bisa saya dapatnya yang maksimal 40,000 yen/bulan, hihi.😀

Atas saran Mbak Yati dan berhubung diantar melihat apāto itu tidak bayar, akhirnya kami memutuskan melihat apāto tersebut. Gedung apāto itu ternyata sebuah rumah 2 lantai dengan 3 kamar disewakan di lantai 1, jadi bukan gedung yang khusus dibangun untuk apāto gitu. Lantai 2 adalah kediaman pemilik rumah, udah nenek-nenek. Kami dibukakan pintu oleh beliau, padahal sebelumnya di Gyotoku langsung petugasnya yang pegang kunci karena yang kami datangi adalah gedung khusus apāto sementara pemiliknya tinggal di tempat lain.

Dari luar kelihatan sebagai rumah lama (memang rumah tua sih), tapi di dalamnya ternyata bagus. Don’t judge a book by its cover banget lah. Tapi saya masih bimbang mau ambil yang di Kodaira ini atau yang di Gyotoku tadi. Yang di Gyotoku menang jauh dari segi harga, juga lebih dekat ke masjid dan toko halal, tapi jauh dari stasiun. Yang di Kodaira lebih mahal tapi dekat sekali dengan stasiun dan kereta ke kampus lebih cepat. Hmm hmm.

The Decision

Saat berbicara dengan petugas dari fudosan Kamishakuji ini, Mbak Yati sudah menceritakan tentang apāto di Gyotoku itu. Si petugas menangkap keraguan saya, kemudian dia bilang bahwa si ibu yang punya apāto tersebut baik, jadi sepertinya bisa ditawar harga sewanya. Dia lalu bertanya bagaimana kalau si ibu mau menurunkan sewa apāto jadi 40,000 yen/bulan, apakah saya mau? Kalau memang mau harus dipastikan saat itu juga sebelum dia terlanjur mencoba menawar. Hoho. Akhirnya saya mantapkan memilih apāto yang di Kodaira itu kalau harganya bisa turun. Si petugas segera menelepon si ibu, menjelaskan kondisinya, menawar, dan alhamdulillah, si ibu mau menyewakan apāto 40,000 yen/bulan.

Yatta, akhirnya perjalanan panjang seharian membuahkan hasil juga. Dan justru dapatnya saat sudah mepet jam kantor fudosan-nya mau tutup serta di daerah yang tidak terpikirkan sebelumnya.😀

Denah dan foto apāto yang akhirnya saya ambil  (dari website MiniMini)

Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya, trade off pasti ada, ada kriteria yang mesti dikorbankan. Alhamdulillah 9 kriteria utama yang sudah saya tentukan terpenuhi. Kriteria “dapurnya bisa pakai kompor gas dengan 2 burner, ada tempat untuk mesin cuci, dan ada supermarket tidak jauh dari apāto” juga alhamdulillah terpenuhi. Kriteria yang saya korbankan: apāto berada di lantai 1, tidak ada beranda/balkon, dan rumahnya sudah tua. Soal yang berada di lantai 1 menurut saya tidak terlalu masalah karena rumah ini masih ada pekarangannya dan ada pagar, sehingga jendela kamar saya tidak langsung berbatasan dengan jalan. Soal beranda/balkon, tidak jadi masalah juga karena di dekat jendela dan di ruangan dapur ada gantungan untuk menjemur pakaian. Kemudian soal umur bangunan, gedung yang tergolong baru biasanya jadi pilihan karena dibangun sudah mengikuti standar pemerintah untuk ketahanan terhadap gempa. Tapi saya mikirnya karena lokasi ini sangat jauh dari laut, insyaallah aman dari gempa apalagi tsunami. Toh setelah gempa besar tahun 2011 rumah ini masih baik-baik saja. Jadi sekarang sering-sering saja berdoa supaya tidak ada lagi gempa besar.😀

Aw, sudah panjang rupanya tulisan ini. Mari stop dulu di sini. Cerita selanjutnya adalah tentang mengurus kontrak apāto.

Make the decision, make it with confidence, and the world will be yours.
— Jaren L. Davis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: