Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Beberapa Perbedaan Setelah Tinggal di Apāto

Masa-masa rame-rame di dapur asrama Komaba

Tinggal di apāto tentu saja berbeda rasanya dengan tinggal di asrama. Masing-masing ada enaknya, ada tidak enaknya. Yang enak di asrama tentu dirindukan, yang tidak enaknya sayōnara saja, haha.😀

Enaknya di asrama, yang jelas: banyak teman. Asrama dulu isinya jelas mahasiswa semua, sedikit banyak kenal dan berteman dengan mereka. Saat pindah ke apāto, semua sudah berpencar. Tempat tinggalnya jauhan. Ada sih tetangga apāto, tapi interaksi dengan penghuni lain itu tidak sebanyak saat di asrama.

Biaya hidup di asrama lebih murah. Biaya listrik, air, dan internetnya juga lebih murah. Di apāto, dari segi sewanya saja sudah lebih mahal dibanding asrama, belum lagi biaya listrik, air, gas, dan internet juga yang lebih banyak.

Di sisi lain, saya enjoy dengan kamar dan dapur saya di apāto sekarang. Kamar saya sekarang lebih luas dan saya punya dapur sendiri. Dulu di asrama, dapur yang tersedia adalah dapur bersama untuk tiap lantai. Jadi tiap memasak saya mesti keluar dari kamar saya sambil menenteng alat dan bahan masak. Dan entah kenapa ya tiap saya masak, selalu saja ada yang ketinggalan saya bawa ke dapur. Otomatis saya mesti bolak-balik kamar-dapur. Ditambah lagi kamar saya itu letaknya di ujung, sementara dapurnya ada di tengah, sudah seperti olahraga saja kalau masak, fyuh. Oia, sebenarnya di dapur asrama itu ada jatah rak kecil untuk menaruh peralatan masak kita. Tapi saya kapok menaruh barang-barang saya di sana setelah beberapa kali alat masak saya dipakai seenaknya tanpa izin hingga pernah ada beberapa barang yang hilang. Pernah juga nasi di rice cooker yang saya taruh di ruang makan asrama dimaling entah oleh siapa. Nasib memang tinggal di asrama yang isinya orang asing entah dari negara mana saja. Hal-hal seperti ini yang membuat saya ingiiin sekali punya dapur sendiri.

Setelah punya dapur sendiri, terasa memang enaknya, hoho. Yang jelas saya tidak perlu bolak-balik lagi karena semuanya sudah berada di satu ruangan saja. Terus saya bisa eksperimen masak sesuka saya tanpa perlu kuatir bikin bau yang aneh-aneh atau sampai bikin bersin orang lain, hihi. Selain itu saya tidak perlu lagi berebut oven dengan penghuni lain. Oia, supermarket juga lebih dekat sekarang, belanja pun jadi lebih menyenangkan, hoho.

Ada 2 hal lagi yang mau saya bahas di sini: tentang memilah sampah dan tentang menerima paket.

Memilah Sampah

Bukan hal baru memang bahwasanya sampah di Jepang harus kita pilah sesuai aturan yang berlaku. Aturan pemilahan sampah ini biasanya berbeda antar kota. Kita tinggal mengikuti panduan yang diberikan.

Dari hari pertama saya datang ke asrama, saya sudah dapat panduan memilah sampah. Mana yang masuk kategori burnable garbage, unburnable garbage, PET bottle, can, bin, dsb tertera dengan jelas di sana. Di dapur asrama ada beberapa tong sampah besar yang sudah dilabeli untuk tiap jenis sampah. Biasanya saya buang sampah di dapur ini saja. Nantinya ada petugas asrama yang mengurusi sampah-sampah itu. Awal-awal saya ikuti lah panduan itu. Membuang sampah sesuai tempatnya. Tapi lama-lama, entah karena faktor penghuninya orang asing semua, soal pemilahan sampah ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Orang-orang seenaknya saja mencampurkan sampah-sampah. Heuuu. Ya sudah, karena lingkungannya sudah begitu, lama-lama saya ikutan seperti itu juga.😡

Contoh panduan memilah sampah di Higashimurayama-shi

Begitu pindah ke apāto, saya sadar diri urusan sampah ini tidak bisa seenaknya seperti di asrama dulu. Di hari pertama saya pindah saya sudah dapat arahan dari si ibu pemilik apāto tentang bagaimana membuang sampah. Saya ditunjukkan tempat membuang sampahnya di mana dan diberi buku panduannya. Jadi, di kota saya sekarang, yakni Higashimurayama-shi, selain dipilah, sampah itu juga harus dibuang dengan plastik khusus. Plastiknya itu bisa dibeli di supermarket, wew. めんどくさい, haha. Tapi si ibu memberi tahu saya satu hal. Apāto saya ini letaknya berbatasan langsung dengan Kodaira-shi. Keluar pagar apāto itu sudah wilayahnya Kodaira-shi. Kebetulan ada tempat pengumpulan sampah Kodaira-shi tepat di seberang tempat semestinya saya buang sampah. Dan Kodaira-shi tidak perlu plastik khusus untuk membuang sampah! Haha. Akhirnya saya lebih sering buang sampah ke kota sebelah.😆

Kalender jadwal buang sampah Higashimurayama-shi

Oia, tidak hanya dipilah, sejak tinggal di apāto saya juga baru tau kalau buang sampah itu ada jadwalnya! Ada kalender khusus jadwal buang sampah. Jadi kita hanya boleh membuang sampah di hari yang sudah dijadwalkan. Kalau salah jadwal, sampah kita tidak akan diangkut oleh petugas sampah. Ketentuan seperti ini kadang membuat kita juga perlu mengatur strategi bagaimana menaruh sampah di apāto kita. Tentunya kita tidak mau apāto jadi bau karena sampahnya kelamaan menumpuk. Apalagi di musim panas sampah basah itu cepat sekali membusuk, wew.

Menerima Paket

Contoh Undeliverable Item Notice

Pada dasarnya, paket (termasuk juga surat penting) harus diterima langsung oleh si penerima, tidak boleh hanya dimasukkan ke kotak surat. Saat di asrama dulu, kebetulan urusan penerimaan paket ini ditangani oleh petugas asrama. Jadi semua paket akan diterima oleh petugas asrama, lalu nanti mereka menaruh pesan di kotak surat, dan kita bisa mengambil paket kita dengan menunjukkan pesan tersebut.

Begitu tinggal di apāto, tentunya mesti saya sendiri yang langsung menerima paket. Kalau pas lagi ada di apāto tentunya tidak masalah. Tapi kalau kebetulan kita sedang keluar saat kurirnya datang, urusannya bertambah. Jadi, kalau di rumah tidak ada orang, kurir akan meletakkan lembar Undeliverable Item Notice di kotak surat kita. Di dalamnya ada petunjuk apa yang mesti kita lakukan untuk redelivery. Awal-awal mungkin akan bingung, soalnya semuanya dalam bahasa Jepang, heuuu. Ada beberapa opsi yang bisa dilakukan, seperti menghubungi mesin penjawab telepon otomatis, mengisi aplikasi di internet, atau langsung menghubungi operator. Nanti kita bisa mengisikan tanggal berapa kita bisa menerima paket tersebut, termasuk range jamnya. Kurirnya akan datang lagi sesuai jadwal yang telah kita isikan.

***

Kira-kira beberapa poin di atas lah yang saya rasakan begitu berbeda antara kehidupan saya di asrama dulu dengan di apāto sekarang. Pindahan memang selalu memberikan warna yang berbeda dalam hidup kita, entah itu pindah tempat tinggal, pindah kota, apalagi pindah negara. Tempat baru, suasana baru, dan tentu saja kehidupan baru.

If you’re brave enough to say “good bye”, life will reward you with a new “hello”. — Paulo Coelho

2 responses to “Beberapa Perbedaan Setelah Tinggal di Apāto

  1. milanne Tuesday, 16 July, 2013 at 16:38

    Wah, ribet juga ya pindahannya😀
    Aku pembaca baru nih kak sha, panggilanku lann, salam kenal😀

    Oya, itu total biaya hidup kak sha setelah pindah berapa per bulannya? (termasuk air, listrik, internet)

    soalnya kakak sepupuku mau ke jepang selama 4 taun tp mau bikin rincian biaya/bulan dulu, biar lebih siap xD

    • Reisha Tuesday, 23 July, 2013 at 16:22

      Halo lann. Salam kenal juga.🙂

      Soal biaya hidup, menurut saya pengeluaran paling gede itu untuk tempat tinggal. Kalau dapat asrama mungkin lebih murah. Kalau mesti tinggal di apato, kalau mau yang murah ambil yang agak di pinggir kota, bisa dapat yang sewanya di bawah 50,000 yen/bulan. Trade off-nya adalah, kalau dapat apato murah di pinggir kota tapi jauh dari kampus, maka nanti mesti keluar biaya untuk transportasi.

      Soal biaya makan, sering masak sendiri bisa menekan pengeluaran untuk makan. 20,000 yen/bulan kayaknya udah lumayan banyak untuk makan dengan masak sendiri dan sesekali makan di luar.

      Lalu biaya telepon, kalau pakai iPhone lengkap dengan paket internet unlimitednya habis sekitar 6,000 yen/bulan, tp biaya telepon ini masih bisa ditekan dengan opsi: pakai HP biasa dan ambil paket yang paling minimal😀, mungkin bisa habis sekitar 2,000 yen/bulan.

      Lalu kalau tinggal di apato, biasanya mesti bayar listrik, air, dan gas lagi. Ini tergantung pemakaian sih. Sekitar 10,000 yen/bulan kali ya kalau dirata-ratain (biasanya pas puncaknya musim panas atau musim dingin pengeluaran sektor ini meningkat).

      Soal transportasi, tergantung akses tempat tinggal ke kampus itu tadi. Kalau dapat teikiken (commuter pass) bisa lebih murah, tp tergantung jarak dan berapa line kereta yang dipakai juga. Kalau sering pergi-pergi atau jalan-jalan tentunya duit keluar lagi.

      Jadi kalau itung-itungan versi saya, “lega”-nya biaya hidup sekitar 100,000 yen/bulan untuk single (untuk keluarga beda lagi, tapi saya ga tau :D). Kalau mau ditekan lagi bisa aja sih, mungkin 80,000 yen/bulan cukup, tapi emang pas-pasan banget. Kalau punya banyak (di atas 100,000 yen), bisa rada “foya-foya”, atau bisa nabung dan banyak-banyak sedekah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: