Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Cooking: From A Must, To A Hobby

Sejak tinggal di Jepang, bisa dibilang masak sudah jadi salah satu hobi saya. Hobi dalam artian saya senang bereksperimen mencoba resep-resep baru, tapi bukan berarti saya jago masak, huehe. Masak itu terasa seru sekarang, kadang berhasil, kadang biasa saja, dan tak jarang pula gagal. Tapi saya menikmatinya.

Sebelum ke Jepang

Selama 4.5 tahun tinggal di Bandung, bisa dibilang saya tidak pernah masak. Paling bikin nasi pakai rice cooker yang mana tidak saya golongkan sebagai memasak.😛 Kosan saya juga tidak mendukung untuk memasak. Belum lagi saya tidak punya alat masak sama sekali. Terus kalau bahan makanan bersisa, juga tidak ada kulkas untuk menyimpan. Saya lebih memilih sibuk kuliah dan berkegiatan di kampus ketimbang harus repot-repot memasak. Lagi pula mengapa mesti merepotkan diri sendiri kalau di Bandung itu makanan jadi sudah berlimpah ruah.😀 Tapi sejujurnya saya juga sering iri dengan teman yang suka atau jago masak.

Namun demikian, bukan berarti saya merantau ke Bandung dalam keadaan tidak ada basic masak sama sekali. Dari SD saya sudah sering disuruh mama bantu-bantu di dapur. Mayoritas sih level cuci-cuci, kupas-kupas, iris-iris, uleg-uleg, aduk-aduk, rebus-rebus. Menumis sayuran, menggoreng ikan atau ayam, dan membuat gulai udah bisa lah, soalnya di rumah kebanyakan masakannya itu. Tapi menakar bumbu ga begitu pede, soalnya yang nakar selalu mama dan saya tinggal eksekusi. Masak di rumah pun mayoritas karena disuruh, ihihi.

Sebuah Tuntutan Hidup

Semua berawal dari dapur asrama Komaba

Tentu saja, dari awal di Jepang saya masak karena tuntutan hidup saja. Kalau saya tidak masak, nanti saya tidak bisa makan enak. Percaya ga percaya, salah satu alasan saya ingin kuliah di luar negeri supaya saya ada tuntutan hidup untuk memasak. Kalau saya terus-terusan tinggal di Indonesia, saya merasa akan jarang ada kesempatan untuk memasak karena beli makanan di luar lebih mudah dan praktis.

Kenapa sih ngotot mesti masak di Jepang? Alasan utama yang jelas karena di luar sana tidak banyak makanan halal. Harga makanan mahal. Lalu saya rasa lidah Indonesia bukanlah lidah yang betah untuk terus-terusan makan masakan Jepang. Ada restoran Indonesia, lagi-lagi harganya mahal. Ada bento buatan orang Indonesia kadang juga rasanya kurang pas dengan lidah sendiri. Jadi lebih baik masak sendiri.😀

Awal-awal tinggal di Jepang saya sempat bingung soal masak. Saya mesti mulai semuanya dari nol dan butuh beberapa waktu untuk beradaptasi. Saya tidak punya alat ataupun bahan masakan. Bumbu-bumbu yang tersedia di supermarket Jepang kebanyakan bukan bumbu yang biasa saya pakai. Masakan awal-awal dulu pun ga begitu berasa soalnya bumbu-bumbu saya masih sangat terbatas. Sedih banget lah masakannya sampai akhirnya bisa nyetok banyak bumbu dan kenal toko halal serta toko Indonesia.

Semula saya cuma masak masakan yang biasa saya masak. Lama-lama juga bosan sendiri. Mulailah saya penasaran ingin coba buat masakan yang belum pernah saya masak sama sekali. Pernah dengan sotoynya asal kasih bumbu untuk spaghetti dan rasanya aneh, haha. Setelah itu si otak baru loading, kenapa ga tanya Mbah Google saja, di sana pasti bertebaran miliaran resep, kekeke. Begitulah, lama-lama jadi sering lihat-lihat resep, cari bahan yang gampang dan cara masaknya simpel, trus dicoba. Kalau berhasil rasanya seneng banget. Beberapa kali juga belajar masak sama yang lebih ahli dan mendapat banyak pengetahuan baru. Dan seiring berjalannya waktu saya jadi suka bereksperimen di dapur. Masuk dapur itu memang lebih menyenangkan dari pada masuk lab. #ups

Dapur di asrama dulu (kiri) dan di apāto sekarang (kanan)

reisha.posterous.com

Suatu hari saya mengetahui bahwa ada blogging platform baru bernama Posterous. Dengan tujuan supaya dapat usernamereisha”, akhirnya saya bikin akun di sana, tanpa berpikir itu mau diisi apa, haha. Beberapa hari setelahnya saya bikin capcay udang yang saya nobatkan sebagai masakan pertama saya di Jepang yang rasanya enak dan penampakannya layak foto, haha. Lalu masakan-masakan berikutnya juga saya foto sampai akhirnya saya mikir kenapa tidak bikin blog khusus berisi foto masakan saya? Dan, hei, kenapa tidak memanfaatkan akun Posterous itu saja?

Akhirnya si akun Posterous saya dedikasikan untuk foto-foto masakan. Sedikit banyak keberadaan blog ini juga memacu saya untuk eksperimen macam-macam. Supaya bisa posting tentunya saya mesti masak sesuatu. Saya juga tidak mau posting hal yang sama berulang-ulang, jadi saya harus membuat sesuatu yang berbeda dari yang pernah saya buat, hehe. Saya juga senang memotret dan menurut saya makanan itu salah satu objek yang menarik untuk dipotret. Kalau makan di luar atau ada acara makan-makan, si makanan selalu jadi sasaran empuk untuk saya foto lalu saya posting, ihihi.

Jadi, Posterous saya sekarang tidak hanya berisi foto masakan saya, tapi juga makanan lainnya. Blog ini sudah jalan sejak 16 Mei 2010 dan isinya sudah lebih dari 500 postingan ternyata. :-o Karena keberadaan blog ini, keluarga saya juga sering bilang, “kamu sebenarnya di sana kuliah tata boga atau apa sih?”. Ahaha.

Update: blog di Posterous saya sudah pindah ke food.reisha.net

***

Saya masih ingat sekali saat saya masih kuliah di ITB dan mengetahui saya tidak pernah masak, mama saya sering bilang “kamu ga pernah masak? mau dikasih makan apa suami kamu nanti?” Eaaa. Saat itu saya cuek saja. Dalam hati saya cuma mikir, kalau udah nikah bisa aja lah ntar, lagian jaman sekarang sudah banyak bumbu instan, gampang dan ga ribet lah. Sekarang saya baru sadar kalau urusan masak tidak segampang itu. Perlu jam terbang latihan yang banyak. Dan bumbu instan itu tidak enak pemirsa, haha.

Jadi saya rajin masak buat persiapan masa depan? Ahaha. Yuk mari. Tujuan utama ya jelas untuk saya sendiri donk. Masak itu selain untuk memenuhi kebutuhan primer saya, juga sudah bisa jadi salah satu sarana refreshing saya. Setelah itu, bolehlah, untuk masa depan yang lebih cerah #naon. Di sisi lain, sering kita dengar orang-orang bilang bahwa masakan terbaik itu adalah masakan ibu sendiri. Nah, saya juga mau nanti anak-anak saya bilang seperti itu.

Julia Child began learning to cook because she loved her husband, and she loved food, and she didn’t know what else to do with herself. And, in the process, she found joy. I didn’t understand this for a long time, but I do now. — Julie Powell at Julie & Julia (2009)

6 responses to “Cooking: From A Must, To A Hobby

  1. bhellabhello Tuesday, 30 October, 2012 at 22:20

    “Kenapa sih ngotot mesti masak di Jepang? Alasan utama yang jelas karena di luar sana tidak banyak makanan halal. Harga makanan mahal. Lalu saya rasa lidah Indonesia bukanlah lidah yang betah untuk terus-terusan makan masakan Jepang. Ada restoran Indonesia, lagi-lagi harganya mahal. Ada bento buatan orang Indonesia kadang juga rasanya kurang pas dengan lidah sendiri. Jadi lebih baik masak sendiri.

    Awal-awal tinggal di Jepang saya sempat bingung soal masak. Saya mesti mulai semuanya dari nol dan butuh beberapa waktu untuk beradaptasi. Saya tidak punya alat ataupun bahan masakan. Bumbu-bumbu yang tersedia di supermarket Jepang kebanyakan bukan bumbu yang biasa saya pakai. Masakan awal-awal dulu pun ga begitu berasa soalnya bumbu-bumbu saya masih sangat terbatas. ”

    2 paragraf diatas menggambarkan kondisi aku sekarang banget! udah rajin2 belajar masak di Indo plus posting resepnya di blog dgn tujuan gampang dijadiin referensi dsni. ee pas disni, bingung sndiri krna ga familiar sm nama2 portugis bahan2-nya, truuusss beberapa ga nemu bahannya & gatahu penggantinya apa. Saking seringnya masak tumis brokoli wortel smpai trauma sndri sm brokoli hahahaha.

    sygnya dsni gaada toko masakan Indonesia T_T

    • Reisha Tuesday, 30 October, 2012 at 22:35

      Hihihi.. Smangat2. Bumbu standar kayak bawang2an, garam, lada ada kan Bhel mestinya? Eh bikin masakan Portugal donk Bhel😀

      • zakkafauzan Wednesday, 31 October, 2012 at 12:15

        Setuju bikin masakan Portugal! Bacalhao terutama😀

  2. alex abdillah Friday, 9 November, 2012 at 00:09

    kalo reisha cicipi sendiri jelas dong enak…coba deh cicipin ma teman…pasti objektif penilaiannya….. tapi yg pasti seorang suami dapat dipastikan bahwa ia pasti pengen masakan istrinya……

    • Reisha Friday, 9 November, 2012 at 10:40

      FYI saya ga selalu bilang masakan saya enak. ada juga yang gagal jadi rasanya aneh atau ga enak.

  3. meyonmayoness Friday, 4 January, 2013 at 14:10

    sebelumnya salam kenal dulu ya kak, saya meyon, saya juga suukaaaa banget sama yg namanya masak dan “Jepang”…………. seneng banget ma tulisan kakak ni, semacam punya teman seperjuangan hehe……. pst masakan kk lebih keren dr aku, krn itu mohon bimbingannya yaa…. hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: