Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Warna-Warni Musim Gugur di Jepang (Part 1): Hiking

Saya suka sekali dengan musim gugur. Musim gugur atau 秋 (= aki) dihiasi oleh perubahan warna dedaunan yang nantinya akan berguguran. Di Jepang yang terkenal adalah もみじ (= momiji), yakni Japanese maple yang dedaunannya berubah menjadi oranye hingga merah. Selain itu juga ada 銀杏 (= ichou) alias ginkgo yang dedaunannya berubah menjadi kuning. Daun pohon sakura juga ikutan berubah warna, begitu juga pohon-pohon lain yang saya tidak tau namanya.

Dedaunan yang berubah warna ini bisa ditemui di mana saja, tapi jelas lebih mantep kita melihat di spot-spot yang bagus. Contoh tempatnya bisa dilihat di situs japan-guide.com. Sebelum mendatangi suatu tempat ada baiknya kita memantau autumn color report (misalnya report di japan-guide.com) tempat tersebut supaya bisa datang di waktu yang tepat.

Ada berbagai cara untuk menikmati warna-warni musim gugur. Bisa dengan hiking, piknik, atau sekedar foto-foto. Di tulisan ini saya akan cerita tentang hiking. Selama 3x musim gugur di Jepang hanya ada 2 tempat yang saya datangi buat hiking di musim gugur, yakni Mt. Takao dan Okutama.

Mt. Takao, Tokyo

Pendakian dimulai dari sini

Pendakian dimulai dari sini

Hiking Momiji PMIJ & PPI KANTO tanggal 28 November 2010 merupakan momen pertama saya bertemu musim gugur nan indah. Begitu dapat info acara ini, saya langsung semangat untuk ikut. Mt. Takao adalah salah satu spot terkenal untuk hiking di Tokyo, apalagi saat musim gugur. Kami berkumpul di Takaosanguchi Station, stasiun terdekat Mt. Takao. Jalan sedikit dari stasiun saja kami sudah disambut oleh “palet” warna-warni.

Salah satu kuil di Mt. Takao

Salah satu kuil di Mt. Takao

Sebenarnya di Mt. Takao ini ada chair lift dan cable car untuk naik sekitar setengah perjalanan, tapi berhubung acara hari itu judulnya hiking, maka kami tidak pakai itu. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Warna merah, kuning, oranye, dan hijau ditambah langit yang biru cerah selalu mengundang takjub. Selain pepohonan, di Mt. Takao ini ada banyak kuil, patung-patung, dkk juga.

Shalat berjamaah di Mt. Tako

Shalat berjamaah di Mt. Tako

Kami mendaki dengan santai. Bentar-bentar foto.😛 Di tengah perjalanan, waktu Dzuhur pun tiba. Dengan pertimbangan sepertinya sampai atas masih akan lama dan di atas mungkin susah cari tempat yang enak buat shalat, akhirnya kami shalat di area yang lumayan lebar dan datar saat itu. Shalat berjamaah. Pertama kalinya buat saya shalat berjamaah ramean di tempat terbuka, dan kiblatnya kebetulan ke arah orang lewat.😀

Hiking Mt. Tako

Di puncak Mt. Takao

Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai ke puncak Mt. Takao. Gunungnya memang tidak tinggi, serasa mendaki bukit saja. Di puncak ini ternyata warna daun-daunnya lebih bagus. Lebih merah! Sayangnya manusianya terlalu banyak di sana. Sudah serasa pasar saja, hihi. Kami masih sibuk hunting foto, dan berhubung sudah kelaparan kami pun menggelar tikar dan makan di sana. Piknik, huehe.

Foto bersama di Mt. Takao

Foto bersama di Mt. Takao

Setelah puas di sana kami pun siap-siap turun. Oia sebelum turun, foto bareng dulu.😀 Tampaknya kami makan waktu cukup lama tadi saat mendaki, sehingga saat turun hari pun segera gelap. Di tengah perjalanan matahari pun tenggelam sudah. Akhirnya kami memutuskan pakai chair lift. Antriannya lumayan panjang juga waktu itu. Kami pulang saat sudah benar-benar gelap. Cape, tapi puas. Hari yang menyenangkan.😀

Okutama, Tokyo

Pohon-pohon tinggi di Mukashimichi, Okutama

Pohon-pohon tinggi di Mukashimichi, Okutama

Hiking berikutnya adalah bersama PPI Waseda, 25 November 2012. Kami hiking ke Okutama, bagian paling barat Tokyo Prefecture. Lumayan jauh juga tempatnya, sekitar 2 jam kereta. Rencana kami adalah hiking mulai dari Okutama Station hingga Lake Okutama. Jarak tempuhnya ada sekitar 10 km. Wow. Sebenarnya ada bus dari stasiun ke danau tersebut, tapi kami akan menggunakan bus saat pulang.

Bukit yang mayoritas hijau

Bukit yang mayoritas hijau

Di awal-awal hiking menurut saya tidak begitu banyak pohon warna-warninya. Kebanyakan malah pohon-pohon tinggi lurus yang tidak berubah warna sama sekali. Menatap ke perbukitan pun mayoritas warnanya hijau. Lalu jalan yang kami tempuh juga kebanyakan jalan aspal. Ga gitu berasa hiking deh, hehe.😀 Di tengah perjalanan barulah mulai banyak pohon warna-warni yang kami temukan.

Sungai dipagari pepohonan warna-warni

Sungai dipagari pepohonan warna-warni

Di beberapa spot ada jembatan yang membentang di atas sungai. Dari jembatan tsb kita bisa melihat pemandangan sungai beserta pepohonan di pinggirnya. Tapi menurut saya saat itu cukup terlambat ke sana, karena banyak pohon yang sudah rontok daunnya. Beberapa hari lebih cepat ke sana mungkin lebih bagus pemandangannya. Andai dedaunan itu belum rontok pasti keren banget. Hehe.

Foto bersama di depan pohon berumur 200 tahun

Foto bersama di depan pohon berumur 200 tahun

Walau banyak yang sudah rontok, momiji yang daunnya masih hijau juga ada, wew. Yang lagi bagus-bagusnya juga ada tentunya. Tapi sejauh yang saya temui, kebanyakan dedaunannya berwarna merahan keemasan, yang merah banget tidak banyak. Dan hiking kali ini jalannya santai banget. Nemu satu pohon yang bagus, foto. Nemu pohon lain, foto lagi. Foto terus tiada henti.😛

Pegunungan di Okutama

Pegunungan di Okutama

Kami sudah berjalan selama beberapa jam. Sadar kalau di awal tadi kelewat santai, akhirnya kami mulai mempercepat langkah. Akhirnya sampai juga ke salah satu bagian yang cukup tinggi di Okutama. Dari sana view pegunungannya bagus banget. Namun demikian, si danau yang mau kami tuju masih belum kelihatan. Ya ampun, padahal  udah sore waktu itu. Kapan ketemu danaunya? Kelewat santai berarti tadi jalannya.

Lake Okutama

Lake Okutama

Selanjutnya langkah dipercepat. Medan terasa makin sulit sementara hari segera gelap. Si danau sudah mulai terlihat. Tapi ternyata jalan ke sana masih jauh. Saat matahari sudah terbenam barulah kami sampai di Lake Okutama. Ga nyangka sejauh itu jalannya, haha. Pegel banget dah kaki dan gagal sampai danau saat masih terang. Kalau ada yang mau ke sana saya sarankan naik bus saja ke danaunya lalu hiking di sekitaran danau itu saja, haha. Tapi hari itu terasa luar biasa, jalan kaki 10 km bo’.😆

***

Menurut saya hiking adalah salah satu cara yang oke untuk menikmati musim gugur. Sepanjang jalan kita bisa melihat pepohonan beraneka warna sekalian berolahraga. Hiking untuk berolahraga tentunya bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tapi hiking sambil lihat pepohonan warna-warni tentunya hanya bisa dilakukan di musim gugur. And you will realize that Allah is the best and invincible designer.🙂

There is a harmony in autumn, and a lustre in its sky, which through the summer is not heard or seen, as if it could not be, as if it had not been! — Percy Bysshe Shelley

3 responses to “Warna-Warni Musim Gugur di Jepang (Part 1): Hiking

  1. alrisblog Thursday, 24 January, 2013 at 14:32

    Luar biasa pemandangannya. Pohon berwarna-warni begitu bisa hidup gak di daerah tropis, kalo bisa bawain satu ya, hehe…

  2. sexykyuhae Wednesday, 20 February, 2013 at 17:01

    ini keren bgt, pingin jalan2 muter tokyo T.T

  3. Inda Monday, 24 August, 2015 at 00:38

    Mba, kalau di tanggal 14 – 21 Nov kira-kira momiji-nya sudah berubah merah belum ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: