Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Warna-Warni Musim Gugur di Jepang (Part 2): Ke Luar Tokyo

Mari lanjutkan cerita tentang musim gugur. Kalau melihat foto-foto di internet atau foto-foto teman yang di Jepang tapi di luar Tokyo, kadang saya merasa di luar Tokyo sana banyak view musim gugur yang lebih indah dibanding di Tokyo. Di musim gugur tidak ada waktu liburan, paling akhir pekan, tapi dipikir-pikir sayang duitnya, huehe. Kalau lihat list spot autumn leaves  di sini, siapa pun pasti mupeng, kyakya. Kilas balik ke 2 tahun belakang, ternyata saya sempat 2x tergoda ke luar Tokyo demi musim gugurnya.

Nikko

Suatu hari saya melihat autumn color report ini di japan-guide.com. Masyaallah, itu bagusnya luar biasa. Sebenarnya dulu saya juga pernah dengar dari teman kalau tempat yang bernama Nikko itu bagus sekali pas musim gugur, tapi saya tidak menyangka kalau sebagus itu! Langsung mupeng. Report tersebut tertanggal 12 Oktober 2011, sementara saya lihat report tsb beberapa hari setelah itu. Puncak musim gugur tak berumur panjang, artinya saya mesti segera ke sana. Setelah mencari teman yang berpotensi untuk ikut, akhirnya diputuskan untuk ke sana tanggal 20 Oktober 2011.

Nikko bisa diakses dengan kereta sekitar 2 jam-an dari Asakusa. Untuk ke sana ternyata ada beberapa jenis Tobu Nikko Free Pass. Saya baru tau kalau Nikko ternyata terkenal juga dengan shrine dan temple-nya. Edo Wonderland dan Tobu Worldsquare juga ada di sana. Tapi berhubung kali ini tujuannya ke spot musim gugur, akhirnya kami memutuskan membeli All Nikko Pass yang meng-cover kereta dan bus ke tempat yang ingin kami tuju.

Tempat yang pertama kami tuju adalah Kegon Waterfall. Dari Tobu Nikko Station masih mesti naik bus. Hari itu sebenarnya hari kerja, tapi ternyata jalanan ke sana macet. Ga kebayang deh kalau weekend macetnya seperti apa. Dari berangkat cuaca kurang bersahabat. Lihat ramalan cuaca juga katanya seharian berawan. Tadinya saya rasa tidak masalah, paling kurang bagus karena langitnya putih aja. Tapi selama di bus yang ada malah kami melihat kabut di mana-mana. Oh tidak…😡

Sampai di Kegon Waterfall, tempat itu penuh dengan kabut. Kami menuju tempat untuk melihat air terjunnya. Yak, si air terjun sukses tertutup oleh kabut. Kecewa. Kami masih berharap kabutnya bakal naik atau berkurang, tapi sepertinya tidak mungkin. Lalu kami mencoba berjalan ke Lake Chuzenji yang tidak jauh dari sana, berharap ada yang bisa terlihat. Sama saja, danau itu juga dipenuhi kabut.

Lake Chuzenji tertutup kabut

Lake Chuzenji tertutup kabut

Kami tidak begitu lama di sana, ngapain juga. Lalu kami memutuskan untuk ke Ryuzu Waterfall. Tadinya saya kira air terjunnya gede, ternyata kecil. Tapi masih mending lah masih bisa dilihat. Untuk melihat air terjun ini ada observation deck kecil di sana. Ramai dan mesti antri. Dan saat itu beberapa pohon di dekat air terjunnya sudah tidak berdaun. 8 hari dari autumn report itu ternyata perubahannya signifikan.

Ryuzu Waterfall, foto penuh perjuangan, hehe

Ryuzu Waterfall, foto penuh perjuangan, hehe

Dari Ryuzu Waterfall kami menuju Senjogahara Marshland. Kabut masih ada, kayaknya sepanjang hari bakal seperti itu. Di sana cuma foto-foto bentar dari observation deck-nya, lalu segera balik karena udah sore juga.

Senjogahara Marshland, saat itu cuma mikir "ilalang gini doank apa bagusnya?"

Senjogahara Marshland, saat itu cuma mikir “ilalang gini doank apa bagusnya?”, ihihi

Kami segera naik bus untuk kembali ke stasiun mengejar kereta terakhir untuk balik ke Tokyo. Di jalan karena waktu masih ada sedikit, akhirnya kami mampir di Shinkyo Bridge. Jembatan ini tidak begitu jauh dari stasiun, tapi lumayan juga kalau jalan kaki. Ada halte bus dekat sana, jadi kami memutuskan menunggu bus. Lama menunggu, busnya ga datang-datang, padahal waktu makin mepet. Abis ngerasain macet, ngerasain juga bus ga datang sesuai waktunya di Jepang, hehe. Ya sudahlah, akhirnya jalan kaki ke stasiun. -_-“

Shinkyo  Bridge, sayangnya saat itu udah gelap

Shinkyo Bridge, sayangnya saat itu udah gelap

Oze

Suatu hari Adek mengajak saya untuk mengejar musim gugur di Oze. Mumpung bisa, akhirnya saya ikut. Kali ini travelling-nya dengan menyewa mobil, soalnya Adek udah punya SIM, hoho. Kalau pakai transportasi umum sepertinya lumayan ribet juga ke sana dari Tokyo. Muterin Oze ditetapkan tanggal 20 Oktober 2012 (wow, saya baru sadar tanggalnya sama dengan waktu ke Nikko itu).

Kami berangkat malam sebelumnya dan menginap di asrama Mbak Nunung di Gunma. Dari asrama Mbak Nunung barulah kami menuju Oze National Park. Plan awalnya adalah hiking dari ujung yang satu hingga ujung yang lain. Di Tokura, mobil di parkir di sana dan perjalanan dilanjutkan dengan bus. Horor juga kalau bawa mobil sendiri soalnya jalannya belok-belok dan di pinggirnya jurang. Dari obrolan sama bapak supirnya taulah kami kalau kami kesiangan dan ga mungkin melaksanakan plan awal. paling cuma bisa setengahnya. Fyuh, ya sudahlah.

Tapi berita gembiranya, saat itu lagi puncaknya musim gugur di Oze dan cuacanya cerah, yay, alhamdulillah. Kalau biasanya hiking itu naik dulu baru turun, kali ini turun dulu baru naik. Sepanjang perjalanan benar-benar luar biasa deh pemandangannya. Warna-warninya keren bangeeet.

Oze di puncak musim gugur

Oze di puncak musim gugur

Selain yang hiking ternyata banyak juga yang camping di Oze. Di perjalanan kami melewati beberapa spot berkemah. Tapi menurut saya ga berasa berkemah di hutan juga sih ya di sana, soalnya deket bangunan gitu.😛

Camping di Oze

Camping di Oze

Track di Oze ini menurut saya tidak susah, ga banyak tanjakan/turunan yang curam. Jalan untuk hiking-nya juga bagus, dari bilah-bilah papan gitu. Waktu pertama kali lihat Oze memang si jalan papan ini yang saya ingat, hehe. Tapi ya itu, karena kiri-kanannya itu rawa, saya rada serem juga pas jalan. Ga bisa jalan sambil lihat-lihat kiri kanan, takut hilang fokus sama jalannya. Kan ga lucu kalau jatuh ke rawa, kotor bertanah, dingin pula.😛

Track untuk hiking di Oze

Track untuk hiking di Oze

Rawa yang saya sebut di atas tadi bernama Ozegahara Marshland. Itu spot utama yang kami tuju saat itu. Dan ternyata rawanya luaaas banget. Sejauh mata memandang yang tampak rawa penuh ilalang (sotoy bilangnya ilalang :P), ga keliatan ujungnya. Saya ga nyangka ternyata seluas itu. Di sekelilingnya ada perbukitan yang lagi “dicat” warna-warni, ada gunung juga, dan di beberapa tempat di tengah rawa itu ada semacam kolam. Dulu pas lihat Senjogahara Marshland di Nikko rasanya biasa saja (mungkin karena cuma liat dikit :P), tapi pas lihat Ozegahara Marshland ini saya suka banget. Mungkin karena kombinasi sama timing-nya yang pas juga plus cuaca yang bagus.

Ozegahara Marshland yang keren

Ozegahara Marshland yang keren

Hari semakin sore dan kami memutuskan segera balik. Udah sejauh itu ternyata si Oze National Park ini belum terjelajahi semua, wow. Luas banget berarti. Tapi segitu pun rasanya memuaskan, hehe. Cerita lebih lengkap dan detail bisa dibaca di blognya Adek, di tulisan bagian 1 dan bagian 2.

***

Sekian dulu cerita kali ini. Nanti dilanjutkan lagi dengan cerita musim gugur edisi Tokyo.😀

Even if something is left undone, everyone must take time to sit still and watch the leaves turn. — Elizabeth Lawrence

9 responses to “Warna-Warni Musim Gugur di Jepang (Part 2): Ke Luar Tokyo

  1. Wiwik Widiyatni Tuesday, 15 January, 2013 at 13:26

    keren ya, jadi pengen ke jepang
    ada sahabat saya juga di sana, belajar…
    di sizuka

  2. Novriana Tuesday, 15 January, 2013 at 15:09

    Smoga natsu ntar bisa berangkat lagi, amiiin…😀

  3. nike kuswandi Wednesday, 16 January, 2013 at 12:11

    hajimemashite, eunike desu.
    waaaa… keren warna warni gitu… jadi tambah ngiler ryuugaku ke Jepang🙂
    oh ya kemarin saya baca tentang pengalaman mbak ikut monbusho, tahun ini saya juga sudah daftar ikut🙂 banyak info yang membantu🙂 arigatou gozaimasu ^^v

  4. Putri Friday, 18 January, 2013 at 23:45

    uni,, boleh minta email addressnya??
    aku pengen nanya2 ttg monbusho..
    2,5 tahun lalu aku pernah email2an sama uni,, tp pake emailku yg lama..
    skrg udah ngga bisa diakses T^T

  5. lia Wednesday, 23 January, 2013 at 14:13

    Assalamlkm uni.,
    salam kenal, sy lia, kelahiran akhir ’87 juga.. ^ ^
    saat ini lg tinggal di tokyo…?
    insya Allah bulan maret thn ini sy akan mengunjungi tokyo selama beberapa hr..,
    kalau berkenan sy boleh minta alamat emailnya uni? mau tanya2 ttg tokyo…
    trimaksh bnyk..
    Wassalamlkm..,

  6. alrisblog Thursday, 24 January, 2013 at 14:56

    Kayaknya asik tuh mancing di rawanya. Pemandangannya keren.

  7. Gita Diani Astari Saturday, 26 January, 2013 at 19:57

    Oh my God, keren-keren banget Kak, kayak di film! Haha. Foto-fotonya juga bagus banget😀

  8. Fatmawati Djafri Saturday, 2 February, 2013 at 10:09

    mbak reisha, saya Fatma. Insya Allah April 2013 akan ke GSJAL Waseda sebagai research student. bolehkah saya minta alamat email mbak Reisha untuk konsultasi masalah dormitory dan lain-lain? makasih sebelumnya.

  9. dwinitaayu Thursday, 7 November, 2013 at 17:49

    Ya Allah, bagusnya, pgn sekali ke Jepang saat autumn, kmrn ke korsel kecepatan datang jd blm semuanya daun berubah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: