Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Back for Good Setelah 3 Tahun di Jepang

Hari terakhir di Jepang, di Nippori Station sebelum berangkat ke Narita Airport.

Hari terakhir di Jepang, di Nippori Station sebelum berangkat ke Narita Airport.

Aloha. Lagi-lagi blog ini terbengkalai, padahal ada banyak draft judul tulisan nangkring di catatan saya. Ditulis dulu deh cerita-cerita lama perjepangan saya, sebelum memorinya memudar dari otak saya, fufufu.

Seusai menamatkan S2 di Waseda University, saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Kalau istilah kerennya orang-orang, back for good. Sebenarnya bayangan keputusan untuk kembali ini sudah ada jauh-jauh hari sebelumnya. Saat akan memulai masa-masa tesis, sensei sudah menanyakan apakan saya akan lanjut S3 atau tidak. Jika saya memang ingin lanjut S3, selain mengerjakan tesis, saya juga sudah harus mulai ambil ancang-ancang untuk riset S3 saya. Saya bilang kepada sensei, saya tidak ingin lanjut S3 sekarang, saya ingin kembali ke Indonesia setelah S2.

Ngga Lanjut S3?

Menjelang kelulusan, itu adalah salah satu pertanyaan yang sering sekali saya dapatkan dari teman-teman di Jepang. Sebenarnya, dilihat dari sudut pandang beasiswa, jika saya lanjut S3, saya bisa mengurus perpanjangan beasiswa untuk S3. Dengan kata lain, saya ngga perlu lagi repot-repot mencari beasiswa lagi dari awal. Rugi atau ngga ya melepas beasiswanya? Haha. Entahlah.

Ada teman saya yang tidak melanjutkan pendidikannya di Jepang karena tidak nyaman dengan sensei-nya. Saya, alhamdulillah tidak ada perasaan seperti itu. Justru para sensei saya luar biasa baik kepada saya.

Saya punya sejumlah pertimbangan kenapa tidak lanjut S3. Saat menjalani S2, saya merasa kurang begitu cocok dengan apa yang saya kerjakan. Entah tidak cocok dengan dunia riset atau tidak cocok dengan tema risetnya. Akibatnya motivasi buat ngerjain riset itu sedikit. Saya sadar diri saya tidak bisa berada dalam kondisi seperti itu terus jika saya ambil S3.

Pertimbangan berikutnya mungkin bisa dipertimbangkan juga oleh Anda yang ingin melanjutkan pendidikan di Jepang. Saya mengikuti international program di Jepang, yang artinya perkuliahan dan tesis saya dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Untuk ini tentu tidak masalah. Namun demikian, dalam menjalani riset, interaksi kita tentunya lebih banyak dengan lab members. Di lab saya dulu, mahasiswa Jepang yang bisa atau mau ngobrol pakai bahasa Inggris itu bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Saya juga ngga bisa ngobrol lancar dengan bahasa Jepang. Mahasiswa asingnya cuma ada saya, satu orang Meksiko, dan satu orang Cina. Yang orang Cina pun ngga bisa bahasa Inggris. Otomatis teman diskusi saya untuk riset juga jadi terbatas. Mungkin ada baiknya Anda mencari lab yang banyak mahasiswa asingnya jika Anda tidak bisa bahasa Jepang tapi ingin sekolah di Jepang.

Di sisi lain, lab meeting atau kelas seminar lab saya selalu menggunakan bahasa Jepang, kecuali saya. Alhasil saya tidak pernah bisa mengikuti diskusi atau presentasi teman-teman selab saya. Saya tidak mengerti apa yang mereka lakukan dengan risetnya. Untuk riset saya sebenarnya tidak masalah, tapi jadinya saya merasa saya tidak bisa menyerap ilmu di Jepang hingga 100% jika saya tidak bisa bahasa Jepang. Pengetahuan saya terbatas hanya pada apa yang saya kerjakan saja.

Ngga Cari Kerja di Jepang?

Ini pertanyaan lain yang biasanya muncul setelah saya bilang saya ngga lanjut S3. Hmmm. Pertimbangan saya tidak cari kerja di Jepang, lagi-lagi soal bahasa. Iya sih, bisa aja cari kerja di perusahaan asing atau apa gitu. Tapi lagi-lagi saya mikir, dengan kondisi ngga skill bahasa Jepang, yang ada saya nyusahin diri sendiri aja ntar kalau maksain diri cari kerja di Jepang. Kadang saya merasa bahasa benar-benar membatasi saya. Atau saya aja yang daya juangnya rendah alias pemalas? Haha. Entahlah.

Kembali ke Indonesia

Saya sangat terharu ketika dulu sensei saya bertanya apa rencana saya setelah kembali ke Indonesia, hingga bilang jangan sungkan minta surat rekomendasi kalau nanti dibutuhkan untuk mencari kerja. Perhatian sekali.

Dan di sini lah akhirnya saya, kembali ke tanah air tercinta. Seperti yang saya bilang ke sensei, saya mau cari kerja di Indonesia. Saya memilih kembali ke Bandung, kota yang pernah saya tinggali selama 4.5 tahun sebelum berangkat ke Jepang. Mendengar kata Bandung, teman-teman saya biasanya langsung nanya, “dosen di ITB?”. Hahaha.

Memang sih dulu saya berencana setelah S2, langsung lanjut S3, lalu jadi dosen di ITB. Tapi ternyata rencananya agak berubah di tengah jalan.😛 Untuk saat ini, saya rasanya belum pede untuk ngajar, jadi rencana jadi dosen-nya di-pending dulu. Saya memutuskan untuk kerja di salah satu software house milik alumni IF-ITB di Bandung. Dipikir-pikir ada baiknya juga saya punya pengalaman dulu kerja di industri IT sebelum nantinya benar-benar jadi dosen (kalau jadi, hehehe). Kenapa ngga kerja di Jakarta aja? Ahaha, saya ngga suka Jakarta dan ngga mau tinggal di Jakarta, kecuali kalau nanti Pak Jokowi-Basuki udah sukses bikin Jakarta Baru yang nyaman untuk ditinggali.😆

***

Meninggalkan Jepang, artinya meninggalkan segala fasilitas dan kenyamanan di Jepang yang tidak dapat ditemui di Indonesia. Jujur saya agak-agak culture shock juga begitu kembali tinggal di Indonesia. Tapi bukankah ini saatnya bersyukur setiap hari atas suara adzan yang bisa didengarkan di mana saja 5x sehari, makanan halal yang gampang ditemui, serta tidak ada kendala bahasa dalam kehidupan sehari-hari?😀

No matter how dreary and gray our homes are, we people of flesh and blood would rather live there than in any other country, be it ever so beautiful. There is no place like home. — L. Frank Baum

10 responses to “Back for Good Setelah 3 Tahun di Jepang

  1. petra Monday, 26 August, 2013 at 17:47

    welcome, back!

  2. indriani nh Tuesday, 27 August, 2013 at 05:05

    Semoga jadi pilihan terbaik untuk hasil terbaik..

  3. Eki Wednesday, 28 August, 2013 at 00:39

    saya sdh baca blog mbak Reisha dari awal perjalanan ke Jepang, terimakasih sdh menginspirasi saya🙂
    kalau boleh, apa saya bisa mendapat kontak mbak Reisha yg lain? email, fb, atau no HP? karena sy pikir kalau mau tny mbak Reisha di blog akan sgt sulit mengingat njenengan jarang buka blog,
    sy sdg ingin tanya2 dg org yg pny pengalaman s2 di Jepang utk menambah informasi dlm tulisan saya mbak.
    terimakasih ats balasannya..

  4. riza Sunday, 8 September, 2013 at 12:31

    kayaknya bakalan kangen sama Jepang, secara udah 3 tahun disana… hehe *sotoy…. Gambarre

  5. ririnkyurin Thursday, 19 September, 2013 at 11:54

    udah lama ga mapir ka Raisa, selamat datang…!!!🙂

  6. Yames Thursday, 19 September, 2013 at 15:55

    Asslamualaikum uni, berhubung sama2 orang minang yah.
    Kebetulan saya lulus primary screening utk Monbukagabusho tahun 2014, LOA saya sudah dapet juga, dari waseda, kobe, hiroshima dan TUT. kalo bisa saya ingin ngobrol2 dan menanyakan beberapa hal terkait beasiswa tersebut. Mohon hubungi saya di ames_mail@yahoo.com. Terimakasih sebelumnya

  7. dseptia Saturday, 28 September, 2013 at 13:16

    welcome home kak Reishaa..
    kalau lagi main ke Bandung mau dong ketemuan kak biar bisa denger cerita-ceritanya🙂

    • Reisha Saturday, 28 September, 2013 at 13:17

      Ayuuuk ketemuan Dhea😀

  8. Finni Thursday, 31 October, 2013 at 17:43

    ada plus minusnya tiap Negara ya,, disyukuri saja,,,🙂

  9. Rahmat_98 Thursday, 2 January, 2014 at 11:52

    Ubi bene ibi patria…😀
    Dimana seseorang merasa betah di situlah tanah airnya…
    Welcome home mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: