Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Persiapan Pulang ke Indonesia dari Jepang

Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Telat banget memang tulisan ini, tapi gpp lah ya.😀 Sebelum pulang Maret lalu, saya merasa ternyata persiapan untuk pulang ini banyak menyita waktu, tenaga, dan pikiran dibanding persiapan untuk berangkat ke Jepangnya dulu. Apalagi karena saya tinggal di apāto, persiapannya lebih ekstra dibanding kalau tinggalnya di asrama, hehe. Berikut beberapa hal yang saya ingat terkait persiapan pulang.

Terkait Kontrak Apāto

Sebulan sebelum kembali ke Indonesia, saya harus lapor ke fudosan bahwa saya akan keluar dari apāto tanggal berapa. Saat melapor ini, saya harus membawa berkas yang dulu didapat dari fudosan waktu mengurus kontrak apato. Fudosan mencatat tanggal keluarnya saya dari apāto (saya pilih tanggal 30 Maret, flight saya ke Indonesia tanggal 31 Maret) sekaligus membuat appointment kapan petugas fudosan akan datang ke apāto saya untuk mengecek kondisi apāto (disepakati tanggal 30 Maret jam 13.00).

Beberapa hari sebelum tanggal 30 Maret, petugas fudosan menelepon saya untuk memastikan lagi jadwal tsb. Di hari pengecekan, petugasnya datang sesuai jam yang telah disepakati. Nah di sini saya ada sedikit miss. Tadinya saya kira saat pengecekan, gpp kalau apāto-nya masih belum kembali seperti sedia kala. Dulu pertama kali pindah, apāto saya kosong melompong. Pas pengecekan, saya masih belum beres packing dan barang-barang masih bertebaran di mana-mana. Berantakan banget pula. Si petugasnya kaget, saya juga bingung. Ternyata si apāto mesti udah bersih dan kosong, soalnya petugasnya mesti ngecek kondisi lantai juga. Kalau belum kosong ga bisa dicek katanya. Hiks. Si ibu yang punya apāto mpe turun tangan ngomong sama si petugas, bawa tetangganya pula. Saya udah pusing dan cape banget, cuma bisa pasrah. Akhirnya disepakati kamarnya akan saya beresin secepatnya, kalau udah beres, saya lapor dan kasih kunci apāto ke si ibu.

Oia, dulu di awal pembayaran kontrak apāto ada biaya asuransi. Biaya asuransi ini untuk kontrak selama 2 tahun. Karena saya hanya ngontrak satu tahun, ternyata ada uang yang bisa dikembalikan ke saya. Lumayan.😀 Untuk ini saya mesti nelpon kepetugas asuransinya, nanti mereka akan mengirimkan form untuk saya isi dan saya kirim balik ke mereka. Isinya sih data saya dan data rekening saya di Jepang. Beberapa hari kemudian uangnya ditransfer ke rekening tsb.

Terkait Pengosongan Apāto

Mengosongkan Apāto

Perjuangan mengosongkan apāto, dari super berantakan hingga bersih bersinar, hehe

Seperti yang saya tulis di atas, sebelum keluar dari apāto, apāto saya sudah mesti dikosongkan seperti sedia kala. Untuk mengosongkan ini ternyata ga gampang juga, apalagi kalau banyak punya perabot besar yang ga mungkin dibawa ke Indonesia.

Cara paling enak terkait perabot ini dengan membagi-bagikannya atau menjual murah kepada rekan yang masih di Jepang atau yang akan datang ke Jepang. Musim kepulangan ke Indonesia biasanya juga musim pindahan ke apāto, jadi tinggal bersimbiosis mutualisme saja, hehe. Atau bisa juga dengan pasang iklan di Craigslist.

Beberapa perabot besar saya alhamdulillah “laku” saya kasih gratis ke beberapa teman. Beberapa perabot lainnya ga ada yang ngambil. Nambah deh yang bikin pusing. Sebenarnya perabot bisa dibuang di Jepang, tapi harus bayar. Bayarannya sesuai jenis dan ukuran perabot. Di Higashimurayama-shi tempat saya tinggal, layanan untuk pembuangan sampah ini ada. Si sampah bisa dijemput petugasnya atau kita antar langsung ke tempat pengumpulan sampahnya.

Saya nelpon petugas sampahnya mepet-mepet menjelang pulang, dan ternyata jadwal petugas untuk mengambil sampah besar ini udah penuh hingga awal April. Hiks. Diantar sendiri juga ga mungkin. Lesson learned, kalau mau buang sampah besar mending booking dari jauh-jauh hari.

Saya coba diskusi sama si ibu pemilik apāto, akhirnya si ibu menawarkan untuk membantu. Beliau menyuruh saya untuk booking jadwal pengambilan sampah, nanti barang-barangnya tinggal saya taruh di depan apāto.

Oia, tadinya saya kira pembayaran pembuangan sampah ini dengan cash pada hari pengambilan, ternyata ngga. Caranya, saya beli stiker khusus sampah besar sesuai harga yang mesti dibayar, nanti tinggal tempel di barangnya. Stiker ini hanya bisa dibeli di tempat tertentu di kota tempat tinggal, jadi jangan sampai dibeli di kota lain, hehe. Di stiker itu ditulis tanggal yang udah di-booking tadi serta atas nama siapanya. Kalau stiker ini tidak ditempel, petugas sampah tidak akan mengangkut barang tsb. Oia soal harganya bisa dicek ke petugas pada saat booking.

Terkait Barang yang Akan Dibawa ke Indonesia

Barang pasti beranak-pinak setelah tinggal di Jepang selama beberapa tahun. Tapi tentu ga semuanya bisa dibawa ke Indonesia. Mesti ada yang dibuang, dibagi-bagikan ke teman, atau dikirim ke Indonesia. Mesti pinter-pinter memilah barang.

Saya memutuskan mengirimkan sejumlah barang ke Indonesia karena ga mungkin saya bawa semuanya langsung bersama saya di bagasi pesawat. Saya alhamdulillah dapat jatah bagasi 50 kg waktu itu, tapi tetap saja ga cukup, hehe. Soal pengiriman barang ini nanti saya tulis terpisah ya.

Tentang bagasi, saya ada 2 koper besar, 1 tas jinjing, sama 1 tas ransel. Berat semua isinya, haha. Untung saya diingatkan teman untuk mengirimkan bagasi ke bandara supaya ga ribet bawa-bawanya di hari H. Apalagi saya mesti 3x ganti kereta untuk sampai ke bandara Narita. Dulu saya kirim satu koper besar pakai jasa Yamato Kuroneko, bisa booking via telepon. Bagasinya diambil ke apāto saya tanggal 30 Maret pagi, dan bisa saya ambil di bandara tanggal 31 Maret pagi sebelum check-in. Rada mepet sih itu sebenernya, ada baiknya bagasi dikirim dua atau beberapa hari sebelumnya, tergantung jarak dari tempat tinggal ke bandara.

Terkait Packing

Sehubungan dengan 3 poin di atas, pasti ada tahapan yang namanya packing. Packing-nya melelahkan bangeeet, huhuhu. Udah ngurangin jam tidur pun, kayak tiada akhirnya itu packing-nya. Salah saya juga sih, packing-nya baru semingguan sebelum pulang. Kirain bisa cepet, ternyata ga juga. Tersiksa banget lah waktu itu, apalagi mayoritas sendirian ngerjainnya. Lesson learned, kalau mau kembali ke tanah air, packing-nya dari jauh-jauh hari biar rada santai.

Terkait Rekening Bank dan Kartu Kredit

Ada baiknya rekening bank yang ada ditutup sebelum kembali ke Indonesia, kecuali kalau bakal balik lagi ke Jepang. Ga ditutup juga gpp sih sepertinya, lagian duit di rekening bank di Jepang bisa ditarik sampai saldonya 0 yen kok, hehe. Untuk nutup rekening pastinya mesti datang ke banknya langsung, hehe.

Kalau punya kartu kredit, sebaiknya sekalian ditutup juga. Dan lesson learned-nya, kalau mau nutup kartu kredit mending sebulan sebelum pulang biar ga ada tagihan yang tersisa. Walau dulu bikin kartu kreditnya di bank, nutup kartu kreditnya ternyata mesti ke organisasi kartu kreditnya (MasterCard/Visa/JCB). Dulu saya baru nutup kartu kredit bulan Maret, sementara masih ada tagihan yang harus dilunasi di bulan April. Bisa aja sih dibiarin aja terus kabur, toh merekanya juga ga bisa nagih kan, hehe. Tapi saya ga mau ninggalin utang, daripada ditagih di akhirat nanti.😛 Biasanya pelunasan tagihan kartu kredit saya dengan dipotong langsung dari rekening, padahal rekeningnya udah saya tutup. Jadinya rada ribet bolak-balik nelpon ke Visa waktu itu. Dan solusi pembayarannya, saya disuruh transfer sebanyak tagihan bulan depan ke rekening mereka.

Terkait Kontrak Listrik, Air, dan Gas

Beberapa hari sebelum keluar apāto, saya juga harus mengurus kontrak listrik, air, dan gas. Saya mesti menelepon ketiganya, dan nanti petugasnya akan datang ke apāto. Kita bisa meminta petugasnya datang di hari kita keluar dari apāto. Saat datang, petugasnya akan mengecek dan menghitung sisa tagihan yang harus kita bayar. Pembayarannya cash ke petugasnya saat itu juga. Aliran gas langsung diputus oleh petugas saat itu juga, sedangkan listrik dan air tidak. Petugas listrik hanya menyuruh untuk mematikan meteran listrik saat keluar dari apāto dan petugas air hanya menyuruh untuk memastikan bahwa tidak ada keran air yang terbuka saat meninggalkan apāto.

Terkait Kontrak HP dan Internet

Ini kontrak lain yang juga harus diakhiri. Kita mesti datang langsung ke provider-nya. Berhubung provider HP dan internet saya sama, jadi bisa sekalian. Kontrak HP di Jepang rata-rata 2 tahun, dan kalau kontraknya belum penuh 2 tahun, siap-siap keluar duit bayar denda pemutusan kontrak dan bayar pelunasan HP-nya.

Terkait Tiket Pulang

Sebagai penerima beasiswa MEXT, saya dapat jatah tiket gratis waktu pertama kali berangkat, dan tiket gratis waktu pulang setelah menyelesaikan studi di Jepang. Untuk mendapatkan tiket ini, dari kampus ada form yang mesti diisi, kalau ga salah sekitar sebulan sebelum pulang. Isi formnya antara lain data diri, rencana pasca studi, dan pilihan tanggal kepulangan jika memang ingin kembali ke negara asal. Tiket ini hanya akan diberikan kepada penerima beasiswa yang benar-benar akan kembali ke negaranya. Kalau setelah lulus masih tinggal di Jepang (misalnya bekerja di Jepang atau tinggal bersama suami/istri), tiketnya ga bisa diambil, hehe.

Tentang tanggal kepulangan, karena beasiswa saya berakhir Maret 2013, maka saya mesti pulang dalam bulan Maret itu. Kalau bulan April, MEXT ga akan beliin.😛 Tanggalnya bisa milih, jadi saya pilih aja tanggal terakhir di bulan Maret, puas-puasin dulu di Jepangnya, hehe. Tiketnya nanti diambil sendiri di travel agent yang sudah ditunjuk oleh MEXT.

***

Kali terakhir bersama alien registration card dan saya resmi kehilangan status saya sebagai penduduk Jepang, hehe

Kali terakhir bersama alien registration card dan saya resmi kehilangan status saya sebagai penduduk Jepang, hehe

Oh iya, pernah ada yang bertanya apakah ada yang mesti diurus ke 市役所 (= shiyakusho) atau municipal office sebelum pulang. Ini terkait residence card (tapi jaman itu saya masih pakai alien registration card) dan national health insurance. Saya ga tau juga sih pastinya gimana, soalnya saya ga ngurus itu waktu itu. Benar-benar ga sempat. Tapi paling tidak national health insurance selama saya tinggal satu tahun di apāto sudah saya lunasi saat awal-awal pindah, jadi saya merasa tidak punya hutang lagi.😀 Terus alien registration card saya diambil oleh petugas imigrasi di bandara. Berhubung saya judulnya akan meninggalkan Jepang untuk selamanya, saya juga harus mengisi form khusus di bandara.

Ada juga yang bertanya, apa perlu melegalisir ijazah ke KBRI. Nah saya juga ga tau soal ini, soalnya saya juga ga sempat mengurus ini. Udah sempat pergi ke KBRI-nya, tapi ternyata hari itu KBRI-nya tutup. Saya juga ga tau sih gunanya apa melegalisir di KBRI itu, soalnya kata teman yang mengurus penyetaraan ijazah ke Dikti, ga perlu ada dokumen yang dilegalisir oleh KBRI di Jepang. Kalau ada yang tau, silakan share di sini.🙂

By failing to prepare, you are preparing to fail. — Benjamin Franklin

10 responses to “Persiapan Pulang ke Indonesia dari Jepang

  1. muhfachrizal Tuesday, 8 October, 2013 at 07:51

    pasti banyak banget ya barang bawaan pulang ke tanah air kak😀 nah itu kalo misalnya ada oleh2, bisa di paketin? takutnya nyantol di bea cukai:/ atau yang oleh2 dibawa di bagasi, barang2 lama dipaketin ke indo? hehe

    • Reisha Tuesday, 8 October, 2013 at 13:09

      kalo barang baru kayaknya mending dibawa di bagasi.

  2. afifauzan Saturday, 26 October, 2013 at 05:54

    wah buang sampah juga mesti bayar ya kak

    • Reisha Saturday, 26 October, 2013 at 09:30

      Khusus sampah besar aja. Kalo sampah sehari2 ga bayar.

  3. LSF Wednesday, 18 November, 2015 at 12:46

    Mau tanya nih mbak, kira kira perlu uang berapa untuk mengirim barang ke bandara via pengiriman barang seperti sagawa atau kuroneko?

    • Reisha Wednesday, 18 November, 2015 at 14:25

      Itu tergantung jarak dan berat barang, saya jg ga tau krn ga pernah make. Mgkn bs coba cari info di websitenya.

  4. pinpin Monday, 1 February, 2016 at 11:38

    lg searching2 ketemunya blog reisha :)) liat dr fotonya, kynya tiket pulang beda maskapai ya sha? dl dapet baggage allowance berapa?

    • Reisha Monday, 1 February, 2016 at 11:41

      Dulu dapet Garuda bagasi 50kg pin😀 Dirimu dapet maskapai apa?

      • pinpin Monday, 1 February, 2016 at 11:45

        waw banyaaak. aku blm dapet pengumuman lg nih, berharap dapet segitu juga, kan lumayan ngurangin kargo :p

        • Reisha Monday, 1 February, 2016 at 11:48

          Kalo ga salah garuda itu defaultnya 40kg, tp dapat bonus 10kg gt dulu. Segitupun bagasiku msh berlebih 6kg, jd mesti bayar, huhu. Dulu salah perhitungan, kirain barang yg tersisa ga sebanyak itu. Tau gt aku kirim via Pak Ruswan aja bbrp.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: