Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Category Archives: Life in Japan

Mengirim Barang Pindahan dari Jepang ke Indonesia

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini saya akan menuliskan pengalaman saya mengirimkan sejumlah barang ke Indonesia yang tidak mungkin saya bawa dengan bagasi pesawat. Mengirim barang ke Indonesia bisa menggunakan jasa pos atau jasa pengiriman barang lainnya. Kalau barang sedikit atau mau keluar duit lebih, pilihan ini bisa digunakan. Tapi mohon jangan tanya ke saya biayanya berapa dsb., karena saya tidak tahu sama sekali tentang ini. 😀

Di kalangan PPI Jepang, nama Pak Ruswan lumayan dikenal terutama mendekati bulan Maret atau September, yakni bulan kelulusan mahasiswa sekaligus kepulangan mereka ke Indonesia. Siapa Pak Ruswan ini? Jadi beliau adalah orang Indonesia yang sudah bertahun-tahun menyediakan jasa pengiriman barang dengan kontainer kapal khusus untuk orang Indonesia. Saya memilih jasa Pak Ruswan ini karena biaya pengiriman barang jauh lebih murah. Biaya pengiriman dihitung berdasarkan volume barang, bukan berat barang. Di sisi lain, prosesnya memang lebih ribet, agak menyita waktu, dan barangnya baru sampai beberapa bulan kemudian.

Komunikasi dengan Pak Ruswan mayoritas lewat email. Nantinya akan ada beberapa dokumen berisi penjelasan lengkap yang sebenarnya tinggal dibaca dengan seksama, dan nanti paham sendiri kok prosedurnya seperti apa, hehe. Saya ga akan menjelaskan panjang lebar isi dokumen-dokumen tsb di sini. Saya juga tidak melampirkan dokumennya di sini, karena bisa saja ada perubahan informasi di dokumen yang baru. Saya tidak mau Anda berpatokan pada dokumen versi lama, hehe.

Read more of this post

Persiapan Pulang ke Indonesia dari Jepang

Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Telat banget memang tulisan ini, tapi gpp lah ya. 😀 Sebelum pulang Maret lalu, saya merasa ternyata persiapan untuk pulang ini banyak menyita waktu, tenaga, dan pikiran dibanding persiapan untuk berangkat ke Jepangnya dulu. Apalagi karena saya tinggal di apāto, persiapannya lebih ekstra dibanding kalau tinggalnya di asrama, hehe. Berikut beberapa hal yang saya ingat terkait persiapan pulang.

Terkait Kontrak Apāto

Sebulan sebelum kembali ke Indonesia, saya harus lapor ke fudosan bahwa saya akan keluar dari apāto tanggal berapa. Saat melapor ini, saya harus membawa berkas yang dulu didapat dari fudosan waktu mengurus kontrak apato. Fudosan mencatat tanggal keluarnya saya dari apāto (saya pilih tanggal 30 Maret, flight saya ke Indonesia tanggal 31 Maret) sekaligus membuat appointment kapan petugas fudosan akan datang ke apāto saya untuk mengecek kondisi apāto (disepakati tanggal 30 Maret jam 13.00).

Beberapa hari sebelum tanggal 30 Maret, petugas fudosan menelepon saya untuk memastikan lagi jadwal tsb. Di hari pengecekan, petugasnya datang sesuai jam yang telah disepakati. Nah di sini saya ada sedikit miss. Tadinya saya kira saat pengecekan, gpp kalau apāto-nya masih belum kembali seperti sedia kala. Dulu pertama kali pindah, apāto saya kosong melompong. Pas pengecekan, saya masih belum beres packing dan barang-barang masih bertebaran di mana-mana. Berantakan banget pula. Si petugasnya kaget, saya juga bingung. Ternyata si apāto mesti udah bersih dan kosong, soalnya petugasnya mesti ngecek kondisi lantai juga. Kalau belum kosong ga bisa dicek katanya. Hiks. Si ibu yang punya apāto mpe turun tangan ngomong sama si petugas, bawa tetangganya pula. Saya udah pusing dan cape banget, cuma bisa pasrah. Akhirnya disepakati kamarnya akan saya beresin secepatnya, kalau udah beres, saya lapor dan kasih kunci apāto ke si ibu.

Read more of this post

Hal-Hal Tidak Penting yang Bisa Dikoleksi di Jepang

Setelah cukup lama tinggal di Jepang, saya baru sadar ada beberapa hal yang menarik untuk dikumpulkan. Sesuai judul, tidak penting sebenarnya, ahaha, tapi lumayan buat kenang-kenangan. Karena telat sadarnya jadi saya memang tidak mengumpulkan beberapa hal di bawah ini. Siapa tau Anda berminat, sila dicoba. 😀

Cap alias Stamp

Di tempat-tempat wisata juga di sejumlah stasiun di Jepang sering kali tersedia cap. Cap tersebut biasanya bergambar maskot tempat bersangkutan. Pastinya gambarnya berbeda-beda antar tempat, dan bentuk gambarnya juga bervariasi. Kalau mau koleksi, sepertinya bagus kalau punya buku kecil khusus untuk mengumpulkan cap dan buku itu dibawa terus terutama saat berwisata, hehe. Kertas bukunya bagusnya polos mungkin ya.

Beberapa stamp yang saya kumpulkan dari sejumlah tempat wisata. Karena taunya udah telat banget, saya memang tidak mengoleksi. Alhasil kalau bertemu stamp dan lagi minat, paling saya cap saja ke kertas apapun yang bisa saya cap, termasuk ke tiket masuk tempat wisatanya, haha.

Read more of this post

Tari Piring Kedua, Ketiga, dan Keempat di Jepang

Tahun 2010 lalu saya pernah posting tulisan berjudul “Tari Piring Perdana Saya di Jepang“. Di sana ada komen dari Syva, “btw, likes judulnya deh.. karena berarti akan ada penampilan kedua, ketiga dan seterusnya ya, sha.. hehe.. ditunggu.. ^^”. Saat itu saya serius mengaminkan ini, karena saya ingin tampil lagi, dengan durasi tari yang full, bukan yang dipotong seperti waktu itu, hehe. Alhamdulillah setelah itu saya dapat 3x kesempatan lagi untuk menampilkan Tari Piring di sini.

Indonesia Kita, 11 Desember 2011

Tawaran kedua untuk tampil datang dari Mbak Isti. Saat itu Mbak Isti dan Hiroaki Kato, seorang Jepang yang suka dengan Indonesia, berencana mengadakan acara yang berisi live performance-nya Hiro bersama bandnya serta pengenalan budaya Indonesia. Tentu saja saya mau, akan tetapi saya tidak bisa langsung meng-iya-kan karena saya tidak punya partner nari dan saya tidak mau tampil sendiri. Tahun 2010 saya nari bersama Mbak Isti, Alanna, dan Tari. Mbak Isti tidak mungkin diajak karena akan jadi MC di sana, sementara Alanna dan Tari sudah pindah ke luar Tokyo. Setelah berpikir-pikir siapa yang potensial untuk diajak dan dilatih menari dalam waktu singkat, pilihan saya jatuh ke Adek. Saya kontak Adek dan alhamdulillah dia mau, ohoho. Latihan bareng beberapa kali saja, tapi Adek beberapa kali latihan mandiri menggunakan video yang saya berikan.

Read more of this post

Beberapa Perbedaan Setelah Tinggal di Apāto

Masa-masa rame-rame di dapur asrama Komaba

Tinggal di apāto tentu saja berbeda rasanya dengan tinggal di asrama. Masing-masing ada enaknya, ada tidak enaknya. Yang enak di asrama tentu dirindukan, yang tidak enaknya sayōnara saja, haha. 😀

Enaknya di asrama, yang jelas: banyak teman. Asrama dulu isinya jelas mahasiswa semua, sedikit banyak kenal dan berteman dengan mereka. Saat pindah ke apāto, semua sudah berpencar. Tempat tinggalnya jauhan. Ada sih tetangga apāto, tapi interaksi dengan penghuni lain itu tidak sebanyak saat di asrama.

Biaya hidup di asrama lebih murah. Biaya listrik, air, dan internetnya juga lebih murah. Di apāto, dari segi sewanya saja sudah lebih mahal dibanding asrama, belum lagi biaya listrik, air, gas, dan internet juga yang lebih banyak.

Read more of this post