Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Category Archives: Miscellaneous

Sistem Presensi Online, No Titip Absen

Semester ini saya mengambil sebuah kuliah yang ternyata jumlah kehadiran masuk ke dalam poin untuk nilai akhir nanti. Dan perihal kehadiran tersebut, mahasiswa sendiri yang mengisikannya di sistem online yang dipakai di Waseda University. “Ngisi daftar hadir kok online ya? Bisa tipu-tipu donk?” Awalnya saya berpikir begitu. Ternyata, tidak semudah itu.

Pertama, mari saya jelaskan dulu perihal sistem online tersebut. Di Waseda University ada yang namanya Course N@vi, yang saya rasa mirip dengan http://kuliah.itb.ac.id/ di ITB. Course N@vi ini digunakan mulai dari registrasi kuliah, tempat dosen meng-upload materi kuliah dan spesifikasi tugas, tempat mahasiswa men-submit tugas kuliah, tempat mahasiswa mengisi presensi, tempat mahasiswa mengisi kuesioner mata kuliah, tempat mahasiswa melihat nilai, dsb. Course N@vi ini menurut saya sudah cukup dioptimalkan penggunaannya. Yang paling enak tentunya submit tugasnya, tidak perlu mem-print lagi, menghemat kertas juga jadinya *sayang bumi mode ON*. 🙂

Mari lanjut ke perihal kehadiran, sebut saja namanya attendance system. Di kuliah pertama, dosen kuliah tsb tadi memberitahukan kalau kami harus mengisi attendance form di Course N@vi. Bentuk formnya seperti berikut.

Read more of this post

Tentang Stroke

Hal yang sering saya lakukan tiap menunggu di rumah sakit, puskesmas, klinik, dan sejenisnya adalah membaca berbagai poster atau tulisan yang ditempel di dinding. Senang aja baca-baca pengetahuan terkait kesehatan. Kemarin waktu ke Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi saya membaca beberapa poster tentang stroke. Ada dua poster yang saya jepret biar bisa saya jadikan tulisan di sini 😛 Bukan hal baru sih, tapi ada beberapa poin yang menarik perhatian saya.

Pertama tentang faktor penyebab stroke. Berikut isinya:

Read more of this post

Obrolan Pagi Bersama Sopir Taksi

Ini cerita di pagi hari Indonesia merayakan HUT-nya yang ke-66. Saat itu saya sedang berada di ibukota tanah air pertiwi, naik taksi menuju Stasiun Gambir. Yap, alhamdulillah saya mudik lagi dan sekarang sudah di rumah 🙂

Sopir Taksi: Jalanan lagi lancar nih sekarang mbak. Sepi. Biasanya macet.

Saya: Hoo, sepi ya pak sekarang. Emang biasanya di Jakarta macetnya jam berapa aja pak?

Sopir Taksi: Kalau hari biasa? Wah seharian mah Jakarta macetnya.

Saya: Oh, bukan pas pagi jam berangkat kantor sama sore pas jam pulang kantor aja toh pak?

Sopir Taksi: Ga. Mbak ga tinggal di Jakarta ya?

Saya: Ga pak. Ini juga cuma numpang nginep di tempat temen.

Read more of this post

Kapan Terakhir Kali Anda Mengirim Surat?

Pertanyaan lebih spesifiknya begini. Kapan terakhir kali Anda menulis surat dengan tangan sendiri untuk keluarga, teman, atau rekan Anda lalu mengirimkannya via kantor pos? Hehe. Pasti ada yang mikir, “Hare gene maseh kirim surat? Apa kata dunia?”. Hihihi.

Jaman dulu (berapa tahun lalu ya?), orang masih banyak berkirim surat. Maklum media komunikasi masih sangat terbatas. Lalu muncullah telepon. Sejak ada telepon, yang berkirim surat berkurang. Toh kalau butuh kabar apa-apa tinggal telepon orangnya. Kabar langsung didapat, tanpa perlu menunggu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk menerima balasan. Belum lagi kalau suratnya tidak sampai ke tangan si penerima. Kemudian muncullah email. Orang-orang pun mulai berkirim dan berbalas email. Dalam sekejap si email bisa sampai ke si penerima. Biayanya juga lebih murah ketimbang menelepon. Dan sekarang, sudah tak terhitung media komunikasi yang bisa digunakan, entah itu social network ataupun fitur dan aplikasi yang ditawarkan telepon pintar. Wajar saja, jaman begini buat apa berkirim surat? 😛

Read more of this post

Menghargai yang Puasa atau yang Tidak Puasa?

Sembari menunggu tarawih di Tokyo Camii tadi, Mbak Isti melontarkan topik obrolan perihal orang puasa vs. orang tidak puasa di Indonesia, di mana tampaknya sudah jadi isu rutin di Indonesia. Tiap Ramadhan ada aturan dan himbauan bahwa tempat makan dan hiburan mesti tutup pada waktu-waktu tertentu. Kalau sebatas himbauan sih wajar lah ya, tapi kalau sampai mesti dikasih sanksi tegas kok kayaknya berlebihan ya.

Berhubung topik beginian cukup sensitif, tiap orang punya pendapat berbeda-beda, mari saya persempit dulu apa yang mau saya tulis. Pertama, ini menyangkut sudut pandang saya dari sisi yang berpuasa saja, terlepas dari aspek etika, sosial, budaya, politik, ekonomi, dsb. Kedua, mau bahas perihal tempat makan yang buka di siang hari aja. Kalo tempat hiburan mah, yang isinya maksiat, Ramadhan ga Ramadhan saya sih prefer ditutup 😛

Read more of this post