Carving Life with Letters

…menyampaikan pemikiran dan isi hati saat lidah tak mampu berkomunikasi…

Category Archives: Sha'Story

Jempol untuk Sebuah Pelayanan

Di Indonesia, sudah terbiasa rasanya dengan pelayanan publik yang tidak memuaskan. Kalau ada masalah atau keluhan yang tidak terlalu besar, biasanya diikhlaskan saja, dimaklumi saja, bersabar saja, ya sudahlah. Apalagi saya tipe yang malas mengurusi itu, belum tentu juga bakal diladeni. Tapi giliran iseng saja menyampaikan keluhan dan ternyata ditanggapi dengan serius, rasanya bahagia banget, haha.

Jadi begini ceritanya.

Kasus Tepung Berulat

Beberapa waktu lalu saya beli tepung c*kra ke*bar isi 1 kg (untuk membuat roti dan mie) di Foodmart EWalk Balikpapan. Saya sengaja beli di supermarket karena agak ragu kalau beli tepung di pasar, kali aja di pasar barang KW *halah*. Kadaluarsanya bulan Juni 2016. Kalau beli tepung, saya selalu memperhatikan tanggal kadaluarsanya, pilih yang masih lama, karena tepungnya biasanya habisnya juga lama.

Read more of this post

Back for Good Setelah 3 Tahun di Jepang

Hari terakhir di Jepang, di Nippori Station sebelum berangkat ke Narita Airport.

Hari terakhir di Jepang, di Nippori Station sebelum berangkat ke Narita Airport.

Aloha. Lagi-lagi blog ini terbengkalai, padahal ada banyak draft judul tulisan nangkring di catatan saya. Ditulis dulu deh cerita-cerita lama perjepangan saya, sebelum memorinya memudar dari otak saya, fufufu.

Seusai menamatkan S2 di Waseda University, saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Kalau istilah kerennya orang-orang, back for good. Sebenarnya bayangan keputusan untuk kembali ini sudah ada jauh-jauh hari sebelumnya. Saat akan memulai masa-masa tesis, sensei sudah menanyakan apakan saya akan lanjut S3 atau tidak. Jika saya memang ingin lanjut S3, selain mengerjakan tesis, saya juga sudah harus mulai ambil ancang-ancang untuk riset S3 saya. Saya bilang kepada sensei, saya tidak ingin lanjut S3 sekarang, saya ingin kembali ke Indonesia setelah S2.

Ngga Lanjut S3?

Menjelang kelulusan, itu adalah salah satu pertanyaan yang sering sekali saya dapatkan dari teman-teman di Jepang. Sebenarnya, dilihat dari sudut pandang beasiswa, jika saya lanjut S3, saya bisa mengurus perpanjangan beasiswa untuk S3. Dengan kata lain, saya ngga perlu lagi repot-repot mencari beasiswa lagi dari awal. Rugi atau ngga ya melepas beasiswanya? Haha. Entahlah.

Read more of this post

Jalan-Jalan Singkat di San Francisco (Part 2): To The Golden Gate

Mari kita lanjutkan cerita dari tulisan sebelumnya. Beres dari Fisherman’s Wharf, plan awal saya adalah berjalan menelusuri Marina Blvd. hingga Crissy Field. Dulu saya cek di Google Maps butuh jalan kaki sekitar setengah jam. Di Jepang jalan kaki 20 menit itu sudah biasa sih, jadi saya kira 30 menit tidak masalah. Tapi mengingat saya sudah rada kesorean ditambah kaki sudah gempor parah, rasanya saya ga kuat kalau mesti jalan kaki. Opsi lain adalah naik bus tapi saya ga pernah nyari tau sebelumnya mesti naik bus apa. Akhirnya saya jalan saja berharap ketemu halte bus.

Alhamdulillah tidak lama kemudian saya menemukan halte SF Muni dan pas ada tujuan ke Marina District, jadi saya tunggu bus saja di sana. Setelah naik bus saya pun belum ada ide turunnya nanti di mana. Selama di bus saya cek lagi peta yang saya bawa sambil pasang kuping pak sopir bilang apa tiap berhenti di halte bus. Untungnya pak sopir menginfokan dengan jelas plus ada orang yang nanya juga ke sopirnya, jadi saya ikutan turun. Yay, sampai juga di spot berikutnya.

Read more of this post

Jalan-Jalan Singkat di San Francisco (Part 1): From Fisherman’s Wharf

Waktu saya menulis tentang conference di U.S. yang saya ikuti Juli lalu itu, ada sepotong cerita yang belum dituliskan, yaitu cerita jalan-jalannya, hehe. Mari dilanjutkan ceritanya. 😀 Conference yang saya ikuti berlangsung selama 3 hari. Tadinya saya pengen extend sehariii saja di sana biar bisa jalan-jalan seharian gitu, ternyata berdasarkan aturan kampus hal itu tidak mungkin. Yah, namanya pergi conference dibayarin kampus jadi ya mesti nurut, hehe. Untungnya ada slot waktu kosong beberapa jam dari landing di SFO airport hingga sebelum check in di hotel.

Tempat conference-nya adalah di Redwood City. Sebelum berangkat saya sudah coba cari info tempat yang menarik di Redwood City, ternyata nihil plus aksesnya susah. Yang menarik itu kebanyakan di San Francisco. Jadi slot waktu yang saya punya mesti dimanfaatkan buat ke San Francisco. Pertanyaan berikutnya adalah ke mana? Kota itu jelas tidak kecil. Setelah cari informasi, cek Google Maps, menghitung waktu, dsb, akhirnya saya memutuskan untuk menelusuri area pantai San Francisco Bay, mulai dari Fisherman’s Wharf hingga Golden Gate Bridge.

Ngebolang ke San Francisco, tentunya saya ga mau kerepotan menggeret koper saya. Untungnya di international terminal SFO airport ada luggage storage-nya. Tidak ada coin locker seperti yang biasa saya temui di Jepang, hehe. Tarif penitipannya tergantung berat koper. Di tempat itu kita juga bisa mengirimkan surat atau kartu pos, perangko juga tersedia. Lalu, info transportasi di SF Bay Area bisa dicari dengan trip planner di 511.org, lengkap rute, jadwal, dan harga tiketnya di sana. Saya sudah punya rutenya, yosh, mari berangkat.

Read more of this post

Cooking: From A Must, To A Hobby

Sejak tinggal di Jepang, bisa dibilang masak sudah jadi salah satu hobi saya. Hobi dalam artian saya senang bereksperimen mencoba resep-resep baru, tapi bukan berarti saya jago masak, huehe. Masak itu terasa seru sekarang, kadang berhasil, kadang biasa saja, dan tak jarang pula gagal. Tapi saya menikmatinya.

Sebelum ke Jepang

Selama 4.5 tahun tinggal di Bandung, bisa dibilang saya tidak pernah masak. Paling bikin nasi pakai rice cooker yang mana tidak saya golongkan sebagai memasak. 😛 Kosan saya juga tidak mendukung untuk memasak. Belum lagi saya tidak punya alat masak sama sekali. Terus kalau bahan makanan bersisa, juga tidak ada kulkas untuk menyimpan. Saya lebih memilih sibuk kuliah dan berkegiatan di kampus ketimbang harus repot-repot memasak. Lagi pula mengapa mesti merepotkan diri sendiri kalau di Bandung itu makanan jadi sudah berlimpah ruah. 😀 Tapi sejujurnya saya juga sering iri dengan teman yang suka atau jago masak.

Namun demikian, bukan berarti saya merantau ke Bandung dalam keadaan tidak ada basic masak sama sekali. Dari SD saya sudah sering disuruh mama bantu-bantu di dapur. Mayoritas sih level cuci-cuci, kupas-kupas, iris-iris, uleg-uleg, aduk-aduk, rebus-rebus. Menumis sayuran, menggoreng ikan atau ayam, dan membuat gulai udah bisa lah, soalnya di rumah kebanyakan masakannya itu. Tapi menakar bumbu ga begitu pede, soalnya yang nakar selalu mama dan saya tinggal eksekusi. Masak di rumah pun mayoritas karena disuruh, ihihi.

Read more of this post